
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tidak semua sektor dapat menerapkan sistem kerja jarak jauh. Layanan publik seperti transportasi, kesehatan, perbankan, hingga sektor manufaktur tetap membutuhkan kehadiran fisik.
Artinya, hanya sebagian kelompok pekerja yang benar-benar bisa berkontribusi pada pengurangan mobilitas melalui WFH.
Selain itu, sejumlah pengamat menilai bahwa dampak kebijakan ini terhadap penghematan BBM mungkin tidak sebesar yang diharapkan.
Konsumsi BBM tidak hanya berasal dari perjalanan pekerja kantoran, tetapi juga dari sektor logistik, distribusi barang, serta mobilitas non-kerja yang justru cukup dominan.
Dengan kata lain, WFH satu hari bisa menjadi langkah awal, tetapi belum cukup jika berdiri sendiri.
Mengarah pada Solusi yang Lebih Menyeluruh
Untuk menghasilkan dampak yang lebih signifikan, pendekatan yang lebih komprehensif perlu dipertimbangkan.
Pertama, penataan distribusi logistik melalui pengaturan waktu operasional. Distribusi barang yang dilakukan pada jam non-sibuk dapat mengurangi kemacetan, sekaligus menekan konsumsi BBM akibat kendaraan yang terlalu lama berhenti di jalan.
Kedua, pengembangan pusat distribusi terpadu di wilayah pinggiran kota. Dengan konsolidasi distribusi, jumlah kendaraan yang masuk ke pusat kota dapat dikurangi, sehingga efisiensi energi bisa ditingkatkan.
Ketiga, penguatan transportasi publik. Integrasi layanan seperti TransJakarta, MRT, dan LRT perlu terus diperluas agar masyarakat memiliki alternatif yang nyaman dan terjangkau selain kendaraan pribadi.
Keempat, penerapan kebijakan pembatasan kendaraan secara bertahap, seperti perluasan sistem ganjil-genap atau pengembangan kawasan bebas kendaraan di waktu tertentu.
Langkah ini dapat membantu mengurangi konsumsi BBM tanpa harus membatasi aktivitas masyarakat secara drastis.
Menata Ulang Cara Kita Bergerak
Pada akhirnya, wacana WFH satu hari bukanlah solusi tunggal, melainkan bagian dari upaya yang lebih besar untuk menata ulang cara kita bergerak dan menggunakan energi.
Krisis energi, atau bahkan potensi krisis, sering kali menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Bahwa efisiensi bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal kebiasaan. Bahwa penghematan bukan sekadar respons sesaat, melainkan proses panjang menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
Jika dikelola dengan baik, situasi ini bisa menjadi titik awal bagi kota seperti Jakarta untuk membangun sistem mobilitas yang lebih efisien, lebih ramah lingkungan, dan lebih tahan terhadap tekanan global.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jakarta di Tengah Krisis Energi, Saatnya Hemat BBM"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang