Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Billy Steven Kaitjily
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Billy Steven Kaitjily adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?

Kompas.com, 29 Maret 2026, 13:06 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, apakah kebijakan bekerja dari rumah cukup untuk menekan konsumsi BBM, atau justru kita perlu langkah yang lebih menyeluruh?

Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah membawa dampak yang tidak kecil terhadap pasokan minyak dunia.

Bagi negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pasokan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap pasti.

Dalam kondisi tertentu, jika impor terganggu, cadangan minyak nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 25 hari. Artinya, ruang untuk bergerak tidak terlalu panjang. Dalam konteks seperti inilah pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah antisipatif.

Salah satu upaya yang tengah dikaji adalah penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari dalam lima hari kerja.

Wacana ini dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, sebagai bagian dari strategi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus merespons potensi kenaikan harga energi.

Rencananya, kebijakan ini mulai dipertimbangkan untuk diterapkan setelah Idul Fitri 2026. Pemerintah melihat adanya potensi penghematan konsumsi BBM hingga sekitar seperlima dari penggunaan harian, jika mobilitas pekerja dapat dikurangi secara terukur.

Mobilitas Tinggi, Ketergantungan yang Nyata

Sebagai pusat aktivitas ekonomi, Jakarta memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Lalu lintas yang padat hampir menjadi bagian dari keseharian, terutama pada hari kerja.

Pada satu sisi, mobilitas ini mencerminkan dinamika ekonomi yang tumbuh. Namun di sisi lain, ia juga menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap BBM.

Sejauh ini, pasokan BBM di Jakarta masih berada dalam kondisi relatif aman. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa stok BBM terkendali dan distribusinya berjalan baik. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas dan menghindari kepanikan di masyarakat.

Meski demikian, bayang-bayang ketidakpastian global tetap ada. Jika konflik berkepanjangan, gangguan pasokan bukanlah hal yang mustahil.

Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi menjadi penting, bukan hanya sebagai respons jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Seberapa Efektif WFH Satu Hari?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyatakan kesiapan untuk mengimplementasikan kebijakan WFH, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, kebijakan ini memiliki batasan yang cukup jelas.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Kata Netizen
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau