Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Raja Lubis
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Raja Lubis adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”

Kompas.com, 17 Mei 2026, 17:18 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ada anggapan bahwa menjadi MC hanyalah soal pandai berbicara. Padahal, di balik kelancaran sebuah acara, ada persiapan, sensitivitas, dan tanggung jawab yang sering kali tidak terlihat di atas panggung.

“Enak ya jadi MC, cuma modal ngomong doang,” begitu, katanya.

Kalimat itu pernah saya terima dari seorang narasumber yang akan saya pandu dalam sebuah acara edukasi.

Waktu itu, seorang teman meminta saya menjadi MC sekaligus moderator untuk acara yang sedang ia selenggarakan. Dalam dunia acara, situasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama ketika panitia ingin menyesuaikan anggaran. Satu orang menjalankan dua peran sekaligus.

Bagi saya pribadi, hal tersebut bukan persoalan besar selama semuanya sudah dikomunikasikan sejak awal. Apalagi yang meminta bantuan juga teman sendiri, dan saya cukup memahami bagaimana kondisi pendanaan acara tersebut.

Seperti biasa, saya mulai meminta berbagai kebutuhan acara kepada panitia: susunan acara, profil narasumber, materi yang akan dibahas, hingga detail teknis lainnya.

Soal rundown, justru sering kali saya sudah memahami pola kerjanya. Ketika diminta menjadi MC oleh teman dekat, biasanya saya juga akan ikut membantu menyusun alur acara, menentukan transisi, hingga menyiapkan ice breaking agar suasana lebih cair.

Setelah semua materi saya terima, saya mulai mempelajari profil narasumber. Jujur saja, tema yang akan dibahas saat itu termasuk bidang baru bagi saya.

Karena itu, saya tidak hanya membaca CV yang diberikan panitia. Saya juga mencari tahu lebih jauh melalui media sosial narasumber, melihat aktivitasnya, hingga menonton beberapa materi yang pernah ia bawakan sebelumnya.

Semua itu saya lakukan agar dapat memahami karakter narasumber dan menyesuaikan cara membawakan acara. Bagi saya, tugas seorang MC bukan sekadar berbicara di depan publik, tetapi juga membangun suasana yang selaras dengan konsep acara dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Hari pelaksanaan pun tiba.

Sebelum acara dimulai, panitia memperkenalkan saya kepada narasumber di sebuah restoran tempat acara berlangsung. Kami memang dijadwalkan makan siang bersama sebelum sesi dimulai pada pukul satu siang.

“Ini Kak, MC-nya,” kata panitia sambil memperkenalkan saya.

Saya pun mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri dengan ramah. Namun respons yang saya terima di luar dugaan.

“Enak ya jadi MC, cuma modal ngomong doang.”

Kalimat itu menjadi respons pertama yang saya dengar darinya.

Jujur, saya cukup terkejut. Saya memang berusaha tetap tenang, tetapi mungkin ekspresi wajah saya cukup mudah terbaca. Teman-teman saya sering bercanda bahwa wajah saya punya “subtitle”, karena sulit menyembunyikan perasaan.

Saya mencoba berpikir positif. Mungkin itu hanya candaan spontan atau gaya komunikasinya sehari-hari. Namun di sisi lain, saya juga bertanya dalam hati: apakah profesi MC memang masih sering dipandang sesederhana itu?

Padahal, sebelum acara berlangsung, saya sudah meluangkan waktu mempelajari materi yang akan dibahas, memahami latar belakang narasumber, hingga menyesuaikan gaya pembawaan agar acara berjalan nyaman bagi semua pihak.

Meski sempat merasa kurang nyaman, saya tetap berusaha profesional. Acara tetap harus berjalan dengan baik, dan tanggung jawab kepada panitia tentu harus diselesaikan sebaik mungkin.

Namun pengalaman itu membuat saya kembali merenungkan satu hal: pekerjaan seorang MC sering kali terlihat ringan karena hasil akhirnya memang tampak sederhana. Orang melihat seseorang berdiri di depan panggung, berbicara lancar, lalu acara berjalan mulus.

Padahal, ada banyak proses yang tidak terlihat di balik layar.

Seorang MC perlu memahami alur acara secara detail, membaca situasi ruangan, menjaga energi audiens, hingga merespons berbagai kemungkinan tak terduga dengan cepat dan tepat. Dalam banyak acara, MC juga menjadi “penjaga ritme” agar seluruh rangkaian tetap berjalan sesuai arah.

Pengalaman itu kembali teringat ketika saya mengikuti pemberitaan mengenai polemik MC dalam acara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar yang diselenggarakan oleh MPR RI.

Salah satu bagian yang cukup ramai disorot publik adalah pilihan kalimat dari MC yang dianggap kurang tepat dalam merespons peserta. Ada ucapan yang berbunyi, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.”

Bagi saya pribadi, kalimat tersebut memang kurang ideal disampaikan dalam konteks perlombaan. Seorang MC atau moderator seharusnya menjaga posisi yang netral dan tidak memberi kesan memihak atau meremehkan perasaan peserta.

Namun di sisi lain, saya juga merasa bahwa situasi seperti itu menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang MC di atas panggung. Dalam hitungan detik, seorang MC harus mengambil keputusan verbal yang tepat di tengah tekanan situasi yang berlangsung cepat.

Menjadi MC memang membutuhkan kemampuan berbicara yang baik. Tetapi ternyata, itu bukan satu-satunya modal.

Ada kemampuan membaca suasana, memahami karakter acara, menjaga komunikasi, hingga mengelola emosi dalam situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Acara formal tentu berbeda dengan acara hiburan. Membawakan lomba berbeda dengan memandu pernikahan atau seminar. Setiap panggung memiliki dinamika dan pendekatan yang berbeda pula.

Karena itu, saya sering merasa bahwa seorang MC sebenarnya mirip seorang aktor. Ia perlu memahami “naskah” acara, masuk ke dalam suasana yang dibangun, lalu menghadirkannya dengan pembawaan yang sesuai.

Tidak cukup hanya mengandalkan cue card atau kemampuan berbicara spontan semata.

Tentu, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Yang paling penting adalah bagaimana kita belajar dari pengalaman tersebut.

Saya juga memahami bahwa kritik terhadap profesi MC adalah hal yang wajar. Hanya saja, terkadang saya sedikit menyayangkan ketika sesama profesi justru terlalu cepat menghakimi atau membandingkan diri seolah berada di posisi yang lebih baik.

Padahal, setiap orang pernah berada di titik belajar masing-masing.

Dan mungkin, di situlah pentingnya saling memahami: bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana di permukaan sering kali menyimpan proses panjang yang tidak semua orang sempat melihatnya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul ""Enak ya Jadi MC, Cuma Modal Ngomong Doang""

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau