Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jujun Junaedi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jujun Junaedi adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah

Kompas.com, 18 Mei 2026, 09:07 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kita merasa sudah mampu untuk mendaftar haji, tetapi justru terus menundanya karena berbagai pertimbangan duniawi. Mungkin, tanpa sadar, niat yang dulu begitu kuat perlahan tertahan oleh rasa “nanti saja” yang terus berulang

Gema azan subuh di ufuk timur selalu menghadirkan getaran yang berbeda dalam hati saya. Sejak kecil, orangtua menanamkan pemahaman bahwa rukun Islam kelima bukan sekadar ibadah, melainkan sebuah panggilan suci yang perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Dari situlah cita-cita untuk menunaikan ibadah haji tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya memahami bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin.

Orangtua saya sering berpesan bahwa kemampuan untuk berhaji tidak hanya diukur dari banyaknya harta. Kemampuan juga berarti kesiapan fisik, kesehatan, dan terutama kelurusan niat untuk benar-benar memenuhi panggilan Allah SWT.

Pesan itu terus melekat hingga dewasa.

Membangun Niat Sejak Gaji Pertama

Perjalanan panjang ini dimulai pada tahun 1997, ketika saya mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Saat itu, muncul keinginan kuat untuk mewujudkan mimpi yang selama ini hanya tersimpan dalam doa-doa.

Saya memiliki prinsip sederhana: jika suatu hari bisa berhaji, saya ingin berangkat dari hasil kerja sendiri yang halal.

Sejak saat itu, menabung menjadi kebiasaan yang saya jaga. Jumlahnya memang tidak selalu besar, tetapi setiap rupiah yang disisihkan terasa seperti bagian dari ikhtiar menuju Baitullah.

Waktu berjalan perlahan. Tabungan haji bertambah sedikit demi sedikit, bersamaan dengan proses pendewasaan diri. Saya mulai belajar menahan keinginan konsumtif dan lebih berhati-hati dalam mengatur prioritas keuangan. Fokus saya saat itu hanya satu, yaitu mengumpulkan dana pendaftaran haji.

Pada tahun 2002, saya menikah. Dalam perjalanan rumah tangga yang baru dimulai, niat untuk berhaji justru terasa semakin kuat. Saya dan istri sepakat untuk menjadikan impian ini sebagai cita-cita bersama.

Dukungan istri menjadi energi besar bagi saya. Kami mulai menyisihkan sebagian penghasilan demi mempercepat langkah menuju Tanah Suci. Di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga, kami tetap berusaha menjaga komitmen itu.

Kehadiran anak pertama pada tahun 2003 membawa kebahagiaan tersendiri. Tanggung jawab memang bertambah, tetapi semangat untuk berhaji tidak pernah benar-benar padam. Kami percaya bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing.

Saat Penundaan Datang Diam-diam

Tahun demi tahun berlalu. Anak kedua lahir pada 2008, lalu anak ketiga pada 2012. Kondisi ekonomi keluarga mulai terasa lebih stabil. Secara hitungan matematis, sebenarnya dana pendaftaran haji sudah mencukupi.

Namun justru di titik itulah ujian yang sebenarnya muncul.

Kami belum juga mendaftar.

Ada saja alasan untuk menunda. Mulai dari kebutuhan keluarga, pekerjaan, hingga rencana renovasi rumah yang terasa lebih mendesak saat itu. Tanpa sadar, perhitungan angka dan berbagai urusan dunia perlahan menggeser getar niat yang dulu begitu kuat.

Saya sempat berpikir, mendaftar tahun depan mungkin tidak akan berbeda jauh. Toh, niatnya sudah ada. Namun ternyata, penundaan kecil yang terus diulang bisa menjadi jebakan yang tidak terasa.

Saya lupa bahwa antrean haji terus bertambah panjang dari tahun ke tahun.

Perasaan menyesal mulai muncul ketika melihat beberapa rekan yang mendaftar lebih awal justru sudah lebih dulu berangkat ke Tanah Suci.

Mereka yang segera mengambil keputusan kini sudah bisa berdiri di depan Kakbah, sementara saya masih menyimpan tabungan tanpa nomor porsi keberangkatan.

Dari situ saya belajar satu hal penting: niat yang baik tetap membutuhkan keberanian untuk diwujudkan.

Kepastian dalam Sebuah Lembar Pendaftaran

Kesadaran itu akhirnya benar-benar datang pada awal tahun 2016. Setelah banyak merenung dan berdiskusi dengan istri, kami sepakat untuk tidak lagi menunda.

Pada April 2016, kami akhirnya datang ke kantor Kementerian Agama untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.

Perasaan lega sulit dijelaskan ketika akhirnya kami menerima nomor porsi keberangkatan yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Ada rasa haru, syukur, sekaligus tenang karena langkah besar itu akhirnya benar-benar dilakukan.

Namun, kejutan lain menanti.

Di dalam dokumen resmi tersebut tertera estimasi keberangkatan pada tahun 2031. Artinya, kami harus menunggu sekitar enam belas tahun lagi untuk berangkat ke Tanah Suci.

Saat melihat angka itu, saya langsung teringat pada masa-masa penundaan sebelumnya. Jika saja kami mendaftar lebih cepat, mungkin masa tunggu tidak akan sepanjang ini.

Meski demikian, saya mencoba menerima semuanya dengan lapang hati. Penyesalan memang datang belakangan, tetapi setidaknya kami sudah berada dalam barisan orang-orang yang sedang menanti panggilan Allah SWT.

Kini, lembar bukti pendaftaran itu menjadi salah satu dokumen paling berharga di rumah kami. Bukan hanya karena nilainya secara administratif, tetapi karena ia menjadi simbol perjalanan panjang tentang niat, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan.

Menunggu Sambil Memantaskan Diri

Bagi saya, menunggu keberangkatan hingga tahun 2031 bukan sekadar soal menanti waktu. Masa tunggu ini justru menjadi kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Saya mulai memahami bahwa menjadi tamu Allah bukan hanya soal mampu secara finansial, tetapi juga tentang mempersiapkan hati, menjaga kesehatan, memperbaiki ibadah, dan memperdalam ilmu manasik.

Di tengah keseharian, pikiran saya kadang melayang membayangkan suasana Tanah Suci. Saya membayangkan berjalan bersama istri mengenakan ihram, melantunkan talbiyah di antara jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Mimpi yang mulai saya bangun sejak tahun 1997 itu kini terasa lebih nyata.

Menjelang bulan Dzulhijjah tahun 2026 ini, suasana spiritual di sekitar juga terasa semakin hidup. Melihat tetangga dan kerabat bersiap berangkat haji menghadirkan rasa haru sekaligus motivasi untuk terus menjaga niat.

Kini saya tidak lagi terlalu sibuk meratapi keterlambatan mendaftar. Saya lebih memilih bersyukur karena Allah SWT masih memberi kesempatan untuk berada dalam antrean tamu-Nya.

Saya percaya, setiap orang memiliki waktu terbaiknya masing-masing.

Tentang Niat dan Keberanian Memulai

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa niat yang baik perlu dijaga dengan tindakan nyata. Perhitungan materi memang penting sebagai bagian dari ikhtiar, tetapi jangan sampai membuat langkah terus tertunda.

Kadang, yang paling berat bukan mengumpulkan biaya, melainkan melawan rasa “nanti saja” yang terasa aman, tetapi diam-diam menjauhkan kita dari kesempatan.

Haji memang panggilan Allah SWT. Namun, keberanian untuk memulai ikhtiar tetap menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga niat kita, memberi kesehatan lahir dan batin, serta memudahkan langkah siapa pun yang sedang berusaha menjemput panggilan menuju Baitullah.

Dan semoga, ketika waktunya tiba nanti, kita semua dapat memenuhi panggilan itu dengan hati yang lebih siap, lebih tenang, dan lebih bersyukur.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjemput Haji: Saat Getar Niat Menang Melawan Kalkulasi Angka dan Jebakan Penundaan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Kata Netizen
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Kata Netizen
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan 'Kehidupan Baru' di Rumah
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan "Kehidupan Baru" di Rumah
Kata Netizen
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau