
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di sisi lain, risikonya juga tidak sedikit, mulai dari kram otot, gangguan pada telinga akibat tekanan air, hingga kemungkinan bertemu hewan laut yang berbahaya, seperti ikan barakuda.
Mengenal Pana, Alat Berburu Ikan Orang Bajau
Peralatan utama dalam bapana adalah pana. Sekilas bentuknya menyerupai senapan sederhana, tetapi mekanismenya lebih mendekati tombak pelontar.
Pana dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar permukiman, seperti kayu, besi, karet, serta tali nilon atau senar yang oleh masyarakat setempat disebut tasi.
Bagian kayunya dibentuk menyerupai badan senapan lengkap dengan gagang dan laras memanjang.
Pada bagian gagang terdapat dua lubang yang memiliki fungsi berbeda. Lubang horizontal digunakan untuk menahan mata tombak sebelum ditembakkan, sedangkan lubang vertikal berfungsi sebagai mekanisme pelepas saat pemburu menemukan sasaran.
Mata tombaknya dibuat dari besi dengan desain khusus agar mampu menembus tubuh ikan. Pada salah satu sisinya terdapat takikan kecil sebagai tempat mengaitkan karet pelontar.
Saat karet dilepaskan, energi yang tersimpan akan mendorong tombak melesat menuju sasaran. Di bagian ujung gagang juga dipasang potongan bambu kecil yang membantu menjaga arah laju tombak.
Ukuran pana pun tidak selalu sama. Sebagian nelayan memilih gagang yang lebih panjang agar dapat menjangkau sasaran lebih jauh, sedangkan yang lain memilih ukuran yang lebih pendek agar lebih mudah bermanuver di sela-sela terumbu karang.
Walaupun tampak sederhana, proses pembuatannya memerlukan ketelitian. Setiap komponen harus dipasang dengan presisi agar alat dapat bekerja secara optimal ketika digunakan di bawah air. Sedikit saja kesalahan pada posisi karet atau mata tombak dapat memengaruhi akurasi saat berburu.
Lebih dari Sekadar Mencari Ikan
Dalam praktiknya, bapana bukanlah metode penangkapan ikan yang paling banyak dilakukan masyarakat.
Dibandingkan penggunaan jaring atau pancing yang mampu menghasilkan tangkapan dalam jumlah lebih besar, berburu ikan menggunakan tombak membutuhkan tenaga, waktu, dan keterampilan yang jauh lebih besar.
Oleh karena itu, sejumlah peneliti memandang bapana lebih dekat sebagai aktivitas rekreatif dibandingkan kegiatan ekonomi yang benar-benar menguntungkan.
Pandangan tersebut cukup beralasan. Hasil tangkapan dari bapana tidak selalu dapat diprediksi. Seorang pemburu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di laut tanpa memperoleh ikan yang diharapkan.