Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jhon Rivel Purba
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jhon Rivel Purba adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau

Kompas.com, 28 Juni 2026, 16:02 WIB

Di sisi lain, risikonya juga tidak sedikit, mulai dari kram otot, gangguan pada telinga akibat tekanan air, hingga kemungkinan bertemu hewan laut yang berbahaya, seperti ikan barakuda.

Mengenal Pana, Alat Berburu Ikan Orang Bajau

Peralatan utama dalam bapana adalah pana. Sekilas bentuknya menyerupai senapan sederhana, tetapi mekanismenya lebih mendekati tombak pelontar.

Pana dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar permukiman, seperti kayu, besi, karet, serta tali nilon atau senar yang oleh masyarakat setempat disebut tasi.

Bagian kayunya dibentuk menyerupai badan senapan lengkap dengan gagang dan laras memanjang.

Pada bagian gagang terdapat dua lubang yang memiliki fungsi berbeda. Lubang horizontal digunakan untuk menahan mata tombak sebelum ditembakkan, sedangkan lubang vertikal berfungsi sebagai mekanisme pelepas saat pemburu menemukan sasaran.

Mata tombaknya dibuat dari besi dengan desain khusus agar mampu menembus tubuh ikan. Pada salah satu sisinya terdapat takikan kecil sebagai tempat mengaitkan karet pelontar.

Saat karet dilepaskan, energi yang tersimpan akan mendorong tombak melesat menuju sasaran. Di bagian ujung gagang juga dipasang potongan bambu kecil yang membantu menjaga arah laju tombak.

Ukuran pana pun tidak selalu sama. Sebagian nelayan memilih gagang yang lebih panjang agar dapat menjangkau sasaran lebih jauh, sedangkan yang lain memilih ukuran yang lebih pendek agar lebih mudah bermanuver di sela-sela terumbu karang.

Walaupun tampak sederhana, proses pembuatannya memerlukan ketelitian. Setiap komponen harus dipasang dengan presisi agar alat dapat bekerja secara optimal ketika digunakan di bawah air. Sedikit saja kesalahan pada posisi karet atau mata tombak dapat memengaruhi akurasi saat berburu.

Lebih dari Sekadar Mencari Ikan

Dalam praktiknya, bapana bukanlah metode penangkapan ikan yang paling banyak dilakukan masyarakat.

Dibandingkan penggunaan jaring atau pancing yang mampu menghasilkan tangkapan dalam jumlah lebih besar, berburu ikan menggunakan tombak membutuhkan tenaga, waktu, dan keterampilan yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, sejumlah peneliti memandang bapana lebih dekat sebagai aktivitas rekreatif dibandingkan kegiatan ekonomi yang benar-benar menguntungkan.

Pandangan tersebut cukup beralasan. Hasil tangkapan dari bapana tidak selalu dapat diprediksi. Seorang pemburu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di laut tanpa memperoleh ikan yang diharapkan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Kata Netizen
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Kata Netizen
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Kata Netizen
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Kata Netizen
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Kata Netizen
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Kata Netizen
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Kata Netizen
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau