
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Namun justru di situlah letak nilai yang dirasakan para pelakunya.
Keberhasilan dalam bapana tidak semata diukur dari banyaknya ikan yang dibawa pulang.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendekati ikan secara perlahan, membaca pergerakannya, lalu melepaskan tombak dengan tepat. Pengalaman semacam itu menghadirkan sensasi yang berbeda dibandingkan metode penangkapan ikan lainnya.
Saat berburu, seorang nelayan umumnya hanya membawa pana dan kacamata selam sederhana.
Nah, dengan perlengkapan yang terbatas tersebut, mereka memasuki dunia bawah laut yang penuh warna untuk mencari ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomi cukup baik.
Keberhasilan memperoleh ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi laut, kemampuan menyelam, serta pengalaman membaca perilaku ikan. Tidak jarang ikan yang sudah berada dalam jangkauan tiba-tiba menghilang di balik karang sebelum tombak sempat dilepaskan.
Karena itu, bapana mengajarkan pentingnya kesabaran. Pemburu harus mampu mengendalikan napas, bergerak perlahan, dan menjaga ketenangan tubuh agar tidak membuat ikan merasa terganggu. Pengalaman bertahun-tahun biasanya menjadi pembeda antara pemburu pemula dan mereka yang telah mahir.
Menjaga Warisan Budaya Maritim
Selama berada di permukiman Orang Bajau, saya memang belum sempat menyaksikan langsung proses berburu ikan menggunakan pana. Saya lebih banyak mendengarkan cerita dari para pelaku bapana sambil mengamati alat yang mereka gunakan.
Meski demikian, kisah-kisah tersebut cukup memberikan gambaran mengenai posisi bapana dalam kehidupan masyarakat Bajau. Tradisi ini bukan sekadar teknik menangkap ikan, melainkan juga cara mempertahankan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman dan semakin berkembangnya teknologi penangkapan ikan, tradisi seperti bapana mengingatkan kita bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu bertahan karena alasan ekonomi.
Ada identitas, pengalaman hidup, dan hubungan yang begitu dekat antara manusia dengan alam yang ikut dijaga melalui tradisi tersebut.
Barangkali, itulah sebabnya bapana masih memiliki tempat dalam kehidupan Orang Bajau—bukan hanya sebagai cara berburu ikan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita panjang masyarakat yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai rumahnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bapana, Tradisi Berburu Ikan yang Menjaga Identitas Orang Bajau"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang