
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah upah minimum memang layak diposisikan sebagai nilai tambah atau justru merupakan hak dasar yang memang sudah semestinya dipenuhi oleh setiap pemberi kerja?
Pasalnya, sebagaimana kita tahu, setiap lowongan pekerjaan kerap mencantumkan "gaji sesuai UMR" sebagai salah satu benefit.
Apalagi belakangan ini, berbagai platform pencarian kerja dipenuhi oleh ribuan iklan rekrutmen dengan beragam penawaran.
Nah, di antara berbagai informasi tersebut, ada satu kalimat yang cukup sering dijumpai, yakni "gaji sesuai UMR" yang ditempatkan di bagian benefit atau keuntungan bekerja di perusahaan tersebut.
Sekilas, tidak ada yang keliru. Namun, jika dicermati lebih jauh, penyebutan tersebut memunculkan ruang diskusi yang menarik mengenai bagaimana hak dasar pekerja dipersepsikan dalam dunia kerja saat ini.
Secara prinsip, upah minimum merupakan standar yang ditetapkan pemerintah sebagai batas paling rendah yang harus dipenuhi perusahaan kepada pekerja sesuai ketentuan yang berlaku.
Jadi, dengan kata lain, pemenuhan UMR bukanlah fasilitas tambahan, melainkan bagian dari kewajiban normatif perusahaan.
Karena itu, ketika "gaji sesuai UMR" ditempatkan sejajar dengan berbagai fasilitas lain dalam kolom benefit, sebagian pencari kerja mempertanyakan apakah penyebutannya sudah berada pada konteks yang tepat.
Bayangkan jika sebuah rumah dipromosikan dengan kalimat, "Bonus atap." Padahal keberadaan atap merupakan bagian mendasar dari sebuah rumah yang layak huni. Analogi tersebut memang sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana sebagian orang memandang fenomena ini.
Benefit Semestinya Menjadi Nilai Tambah
Dalam praktik rekrutmen, kolom benefit biasanya berfungsi untuk menunjukkan keunggulan sebuah perusahaan dibandingkan tempat kerja lain.
Berbagai fasilitas seperti asuransi kesehatan tambahan, program pengembangan kompetensi, fleksibilitas bekerja, tunjangan pendidikan, cuti yang lebih baik, atau dukungan terhadap keseimbangan kehidupan dan pekerjaan merupakan contoh nilai tambah yang dapat menjadi daya tarik bagi calon karyawan.
Sebaliknya, gaji sesuai UMR sesungguhnya merupakan fondasi dasar hubungan kerja.
Perbedaan inilah yang kemudian membuat sebagian pencari kerja merasa istilah benefit menjadi kurang tepat ketika digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang sudah menjadi hak normatif pekerja.
Tentu saja, tidak sedikit perusahaan yang mencantumkannya semata-mata sebagai bentuk transparansi mengenai kisaran penghasilan yang akan diterima calon karyawan. Tujuannya agar pelamar memperoleh gambaran sejak awal.