Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mustopa
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mustopa adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sekolah, Kegiatan "Mengisi Waktu Luang" yang Mahal

Kompas.com, 10 Juli 2023, 22:13 WIB

Saya termasuk anak yang pertama menapaki jenjang SMK yang kemudian diikuti oleh anak-anak yang lebih muda.

Dulu saya merasa begitu senang karena langkah yang sedikit menginspirasi itu. Beberapa orangtua ada yang meminta anaknya untuk saya antarkan mendaftar di tempat saya sekolah.

Seiring berjalannya waktu, kegembiraan itu kian sirna dengan berbagai kenyataan yang terjadi. Rata-rata harapan bekerja setelah lulus tak menjadi kenyataan. Ada yang menganggur, ada pula yang mengikuti jejak orangtuanya menjadi kuli bangunan. Rasa sedih itu kian bertambah tatkala mendengar kisah-kisah semacam cerita Lek Edi itu.

Akhir-akhir ini, biaya sekolah agaknya memang kian meninggi. Namun penghasilan warga Pembinaan masyarakat tak banyak meningkat, stagnan, bahkan ada yang menurun. Meski demikian, SPP, biaya buku, dan biaya kegiatan masih terjangkau oleh warga meski harus membanting tulang. Namun agaknya bukan itu yang menjadi persoalan pokok dan menguras kantong mereka.

Menurut cerita yang disampaikan oleh paman saya atau orang yang saya temui, biaya uang saku dan kegiatan tambahan merupakan anggaran yang memberatkan mereka.

"Nek biaya SPP mono sesasi pisan, ning nek sangu kui kudu metu bendino (Kalau biaya SPP hanya sekali sebulan, tetapi kalau uang saku harus setiap hari),” tutur seorang paman saya, Lek Bani.

"Paling mumet neh nek pas ono kegiatan tambahan, ndadak trus lek kudu mbayar. Nek ra lek mbayar mengko anake ra entuk melu kegiatan, lak yo mesake to? (Lebih memusingkan lagi jika ada kegiatan tambahan, mendadak dan harus segera membayar. Jika tidak segera membayar nanti anaknya tidak boleh ikut kegiatan, kasian kan?),” Lek Bani menambahkan sambil menghela nafas panjang.

Penuturan Lek Bani itu sudah beberapa tahun yang lalu. Kini kedua anaknya telah lulus dan telah bekerja meski dengan gaji seadanya. Oleh karena itu, kini saya dapat melihat senyum sumringahnya, meski sesekali ia masih bercerita soal sisa utang yang belum terbayar. Mengenai pekerjaan anaknya, ia tak pernah mempersoalkan meski pekerjaan tersebut tak sesuai dengan jurusan waktu ia sekolah.

Perihal mahalnya ongkos uang saku sekolah itu, saya sendiri juga merasakannya. Anak saya yang kini kelas 3 SD, tiap hari uang sakunya Rp 10.000, dibandingkan dengan uang saku ketika saya seumurannya, bedanya begitu jauh.

Dulu ketika ahri-hari biasa, uang saku saya hanya Rp 100. Karena di samping sekolah saya ada pasar pahing dan kliwon, maka pada hari pasaran uang, saku saya bertambah menjadi Rp 200 plus tambahan saku dari nenek saya. Biaya buku atau kegiatan lain lagi, yang ini hampir sama dengan yang diceritakan oleh Lek Bani.

Baru-baru ini di media sosial viral mengenai biaya wisuda sekolah yang tidak wajar. Selama saya sekolah dulu belum mengalami wisuda. Paling-paling perpisahan, jika harus iuran pun, maka sewajarnya.

Satu-satunya cerita wisuda tersebut saya ketahui ketika SD di desa saya beberapa waktu yang lalu mengadakan acara yang serupa. Acara tersebut saya ketahui dari kemenakan yang meminjam jas milik saya. Katanya untuk wisuda. Saya tak menghadirinya, namun sepertinya acara tersebut cukup meriah, dibuktikan dengan adanya pentas kesenian rakyat.

Jika berbicara perihal sekolah dengan segala tetek bengeknya itu, saya selalu teringat sebuah buku yang berjudul Sekolah Itu Candu yang ditulis oleh Roem Topatimasang.

Menurut buku tersebut, sekolah pada awalnya hanyalah "kegiatan untuk mengisi waktu luang". Kata sekolah berasal dari bahasa latin yakni skhole, scola, scolae, schola, kata tersebut secara harfiah bermakna "waktu luang" atau "waktu senggang". Meski kemudian seiring berjalannya waktu, kegiatan mengisi waktu senggang itu menjadi kewajiban hingga saat ini. Untuk belajar, untuk menimba ilmu.

Menurut saya mengenai mahalnya atau tidaknya biaya sekola, kita pun dapat menilainya dengan objektif. Saat ini dunia sedang berada di era industri. Semua orang saya yakin dapat memahaminya, sebuah produk akan dihargai mahal jika berkualitas.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah pendidikan atau sekolah di negeri ini berkualitas dan pantas dihargai mahal?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sekolah, Kegiatan Mengisi Waktu Luang Berbiaya Mahal"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau