Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Donor Ginjal: Cerita Pengalaman Pribadi Mengurus Segala Prosedurnya

Kompas.com, 2 Agustus 2023, 14:01 WIB

Tindakan transplantasi atau pemindahan organ dari satu tubuh ke tubuh lain merupakan salah satu tindakan medis yang paling rumit, baik secara teknis pelaksanaannya mapun prosedur yang mengiringinya.

Terkait transplantasi ini, saya pribadi pernah mengalami betapa panjang, ruwet, serta mahalnya proses sebelum, saat pelaksanaan, hingga sesudah tindakan medis yang dilakukan.

Pasalnya, beberapa tahun lalu saya pernah mengurus prosedur transplantasi organ tubuh, yakni ginjal ayah mertua di RSCM.

Awal Keputusan Melakukan Transplantasi

Alasan mengapa ayah mertua saya harus terpaksa menjalani transplantasi ginjal adalah karena dokter menyebutkan bahwa kedua ginjalnya sudah mengkerut dan fungsi kedua ginjalnya  berjalan 15% saja.

Penyebab utama gagal ginjal tersebut adalah penyakit darah tinggi yang sudah diderita mertua saya lebih dari 20 tahun.

Dokter yang menangani langsung mertua saya juga mengungkapkan bahwa di Indonesia, kasus gagal ginjal rata-rata berawal dari penyakit darah tinggi dan diabetes.

Mertua saya sendiri sudah menjalani prosedur medis hemodialisis atau cuci darah sebanyak tiga kali setiap minggunya.

Proses cuci darah ini dilakukan untuk menggantikan salah satu fungsi ginjal, yakni membersihkan darah dari senyawa beracun pada tubuh sebelum akhirnya dialirkan kembali ke seluruh tubuh, semacam filter bagi tubuh.

Jika proses cuci darah ini tak dilakukan, padahal ginjal sudah tidak berfungsi dengan baik, maka bisa menyebabkan keracunan dan akan memberikan dampak fatal.

Gejala awal gagal ginjal yang dialami mertua saya adalah sesak napas hebat, sehingga ia perlu dipasangi alat bantu pernapasan agar tetap bisa bernapas.

Mertua saya juga menuturkan bahwa punggungnya juga sering merasa gatal yang berasal dari bawah kulit.

Proses cuci darah ini juga diakui sangat “menyiksa”, apalagi Sang Pasien harus menjalani prosedur tertentu, seperti mengatur kadar hemoglobin yang ada dalam tubuh agar sesuai standar yang telah ditentukan.

Ketika sudah menjalani proses cuci darah yang cukup lama, mertua saya mengaku tak kuat sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan transplantasi ginjal.

Demi melancarkan proses transplantasi ginjal mertua saya, saya lalu mengumpulkan segala informasi terkait prosedur transplantasi ginjal.

Dari berbagai informasi yang dikumpulkan, akhirnya diketahui bahwa proses tranplantasi ginjal ini bisa dilakukan di RSCM Kencana.

Sebelum Transplantasi

Ketika sudah memutuskan melakukan transplantasi gjnjal untuk mertua saya, saya lantas menemui Profesor Endang, dokter spesialis bedah urologi, ahli cangkong ginjal terbaik di Indonesia yang bertugas di RSCM Kencana.

Profesor Endang kemudian memeriksa kondisi mertua saya secara komprehensif. Hasil dari pemeriksaan itu, ia menyatakan bahwa kondisi mertua saya memungkinkan untuk dilakukan transplantasi ginjal.

Ia pun menjelaskan soal prosedur panjang yang harus dijalani sebelum proses transplantasi dilakukan, baik oleh mertua saya sebagai penerima donor maupun calon pendonor.

Setelah mendengar semua hal yang mesti dijalani dijalani tersebut, saya dan pihak keluarga lain lantas mencari pihak yang bersedia mendonorkan ginjalnya.

Proses pencarian calon pendonor di Indonesia ini ternyata cukup sulit, apalagi calon pendonor tersebut harus memenuhi kualifikasi tertentu yang sudah ditetapkan, seperti golongan serta resus darah antara pendonor dan penerima harus sama.

Maka dari itu, Prof. Endang menyarankan pendonor ini lebih baik merupakan keluarga dekat. Bersyukur ada dua anggota keluarga saya yang bersedia untuk menjadi pendonor.

Prosedur yang mesti dilakukan untuk menjadi pendonor juga ternyata tak mudah. Sebelum dinyatakan orang tersebut layak menjadi pendonor, ia harus memenuhi prosedur compliance, etik, dan administrasi yang sudah ditetapkan RSCM.

Sang calon pendonor terlebih dahulu harus mengisi formulir yang menyatakan bahwa keputusannya menjadi pendonor ginjal dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan siapa pun serta tak ada juga transaksi jual-beli di dalamnya. Formulir pernyataan itu ditandatangani di atas materai.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau