Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Andi Firmansyah
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Muhammad Andi Firmansyah adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Menerima Nasehat Orang Lain Terasa Berat untuk Dijalani

Kompas.com, 31 Agustus 2024, 09:25 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Namun, pada tahun 1996, sebuah kolom dalam surat kabar The Straight Dope menawarkan penjelasan lain: survivorship bias. Cecil Adams, penulis kolom tersebut, mengatakan bahwa penelitian itu hanya didasarkan pada kucing yang dibawa ke rumah sakit. Masalahnya, kucing yang mati akibat terjatuh dari lantai enam ke atas tidak dibawa ke rumah sakit.

Mereka mungkin langsung dikubur atau, lebih buruknya, dibawa ke tempat sampah. Dengan kata lain, kucing yang sudah mati karena terjatuh dari lantai 20 tidak dibawa ke ruang gawat darurat dan karenanya pihak rumah sakit tidak pernah diberitahu. Alhasil, kucing yang mati saat jatuh dari lantai yang lebih tinggi tidak dilaporkan dalam penelitian tersebut.

Hal itu dapat membuat statistik menjadi tidak akurat, seolah jatuh dari jarak yang sangat jauh terlihat lebih aman daripada yang sebenarnya. Faktanya, sebuah penelitian tahun 2024 telah membantah statistik tersebut, membuktikan bahwa kucing yang jatuh dari lantai tujuh atau lebih tinggi mengalami cedera yang lebih parah.

Jadi, tolong, jangan iseng mendorong kucing Anda dari lantai 20.

Mengapa kita, bahkan para ahli dan profesional sekalipun, rentan mengalami bias penyintas? Menurut Taleb, itu karena kita dilatih untuk mengambil keuntungan dari informasi yang ada di depan mata kita dan mengabaikan informasi yang tidak kita lihat. Dengan kata lain, hal itu mudah untuk dilakukan.

Alasan kedua, bias penyintas membuat kita merasa nyaman. Jika Anda berencana mendirikan bisnis restoran, mana yang lebih menarik, kisah orang-orang yang berhasil merintis usahanya pada percobaan pertama atau segudang kisah kegagalan di bulan pertama? Saya tidak naif; saya enggan menyimak cerita orang-orang bangkrut.

Lagi pula, yang pertama membuat Anda optimis, sedangkan yang kedua membuat Anda ingin mengutuk semua bisnis restoran dan akhirnya menyimpan uang Anda demi memastikan itu tetap bersama Anda (selamanya). Saya tidak akan menyalahkan Anda, tetapi kenyataannya sebagian besar bisnis berakhir gagal dan bangkrut, apa pun jenisnya.

Dan bagaimanapun di sinilah kita, menyimak cerita-cerita menarik dan "inspiratif" dari para ahli diet terlaris, CEO selebriti, dan atlet superstar. Kita dengan tekun mendengarkan nasihat dan petunjuk mereka, berharap bisa mengetahui rahasia kesuksesan. Semacam jalan pintas, atau setidaknya memastikan kita berada di jalan yang benar.

"Bangunlah jam 5 pagi. Jangan membuka ponsel lebih dari 2 jam dalam sehari. Berolahragalah setidaknya 30 menit, tiga kali per minggu. Bekerja keraslah. Beranilah mengambil risiko." Dan seterusnya hingga kita diberitahu bahwa orang-orang gagal juga melakukan semua itu, bahkan mungkin lebih dari yang kita kira.

Sayangnya, mereka yang gagal jarang sekali, jika ada, yang diundang ke perguruan tinggi dan konferensi untuk membagikan apa yang menjadikan mereka gagal dan karenanya harus kita hindari. Mereka hilang dari pandangan kita, dan lenyap pula informasi tentang "cara menjadi tidak gagal" bersama mereka.

Sebaliknya, kita lebih memilih pembicara yang bersinar. Mereka berkeliling ke seluruh negeri untuk mengisi seminar tentang cara menjadi sukses. Mereka meyakinkan kita bahwa kita bisa menjadi sesukses mereka, dan caranya ada dalam buku mereka tentang "Cara Mendapatkan Satu Miliar Pertama Sebelum 25 Tahun". Jadi kita didorong untuk membeli bukunya.

Pikirkan para tokoh ikonik teknologi seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. Anda mungkin terpikir untuk mengikuti jejak mereka: berhenti kuliah dan memulai bisnis dengan teman Anda di garasi rumah orang tua Anda. Mimpi menjadi miliarder tidaklah salah, tetapi mereka yang putus kuliah, secara statistik, lebih sulit menjadi miliarder.

Data BPS terbaru menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula upah yang diterima seseorang. Ya, kuliah belum tentu menjadi kaya dan miliarder belum tentu mengenyam kuliah. Bagaimanapun, kalau kita melihat gambaran keseluruhan, jelaslah bahwa kuliah membantu. Suka-tak-suka, datanya memang begitu.

Kebanyakan dari kita gagal menyadari betapa banyaknya orang yang mengikuti jejak Steve Jobs dan gagal, karena pada dasarnya tidak ada yang mendokumentasikan kisah mereka menjadi buku atau film. Paling banter, kisah mereka berakhir secara menyedihkan dalam diari pribadi mereka masing-masing.

Demikianlah, meskipun mudah dan nyaman, bias penyintas membekukan otak kita ke dalam kondisi ketidaktahuan yang membuat kita yakin bahwa kesuksesan itu lebih umum daripada yang sebenarnya. Kita secara keliru memahami realitas dan gagal menangkap banyak privilese (hak istimewa) yang membantu segelintir orang untuk sukses.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau