Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Dahron
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Muhammad Dahron adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Gaya Hidup 90an, Apakah Masih Relevan?

Kompas.com, 31 Agustus 2024, 21:37 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

"Sekarang ini banyak gaya hidup anak muda yang sering dianggap sebagai tren baru."

Namun, sebenarnya banyak inspirasi dari masa lalu, termasuk di era 90an.

Meski mungkin terdengar ketinggalan zaman, akan tetapi beberapa aspek dari gaya hidup anak muda era 90an masih relevan hingga sekarang. 

Musik dan Film

Begitu pentingnya peran musik dan film dalam gaya hidup anak muda era 90an, banyak artis musik dan bintang film yang menjadi ikon dan ikonografi di kalangan anak muda pada masa itu. 

Artis musik seperti Nirvana, Guns N' Roses, Soundgarden, Pearl Jam, Rage Against the Machine, dan Red Hot Chili Peppers, menginspirasi para penikmat musik pada masa itu dengan musik mereka yang bermakna dan rebellious. 

Sementara itu, bintang film seperti Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Johnny Depp, dan Keanu Reeves, menarik perhatian penonton dengan akting yang brilian dan style fashion mereka yang dikagumi.

Film-film pada masa itu juga mengekspresikan politik, sosial, dan budaya dari perspektif yang berbeda.

The Matrix, misalnya, menunjukkan keraguan dan ketidakpuasan orang terhadap kenyataan yang ada, sedangkan Pulp Fiction menampilkan kekerasan yang rumit dan bercanda, yang menyentuh masalah sosial dan kehidupan.

Fashion dan Stil

Meskipun fashion telah berkembang dan berubah secara drastis dari zaman era 90an, namun beberapa elemen tetap bertahan dan terus menjadi tren hingga saat ini. 

Salah satu contohnya adalah gaya streetwear, yang kembali populer pada tahun-tahun terakhir ini. Pada masa itu, gaya streetwear ditandai dengan jaket kulit atau jaket bomber, kaos yang longgar dan kemeja denim yang dikenakan dengan celana jeans robek.

Kini, beberapa elemen gaya streetwear masih relevan dan seringkali dilengkapi dengan ukuran yang lebih konservatif. 

Baju oversized dan celana pendek high-waisted yang diperkenalkan pada tahun 90an kembali populer dan banyak dipakai oleh remaja di seluruh dunia. Snapback hats dan trainers juga masih menjadi hot item.

Selain itu, gaya grunge juga menjadi populer kembali dalam trend fashion akhir-akhir ini. Dulu gaya berpakaian grunge di 90an dikenal dengan kemeja kotak-kotak besar yang diikat sampai pinggang, boots chunky, jeans robek dan kaos oblong, dan sekarang ini menjadi trend fashion utama pada era 2010an. 

Begitu pula dengan sneakers klasik yang populer di era 90an, seperti Converse dan Vans, yang masih menjadi favorit hingga saat ini.

Teknologi

Era 90an memang dikenal sebagai masa transisi ke arah teknologi digital. Pada awal tahun 90an, internet masih merupakan teknologi baru dan belum banyak yang terkoneksi dengan jaringan dial-up. 

Selain itu, saat itu pula berkembang teknologi baru seperti email dan perpesanan instan, yang menjadikan komunikasi jarak jauh menjadi lebih mudah tanpa batas waktu dan tempat. 

Banyak pemuda masa itu, menghabiskan waktu di depan layar monitor komputer untuk menjajal aplikasi baru seperti Instant Messenger (IM) seperti AIM, ICQ, dan MSN Messenger.

Pada masa itu juga, konsol game seperti Nintendo, Sega Genesis, dan PlayStation mulai populer dan banyak dimainkan oleh anak muda. 

Teknologi game semakin berkembang dan mengalami perubahan pada era 90an, terlihat dari berbagai macam genre yang bermunculan, seperti game fighting, racing, role-playing, adventure, dan simulasi membuat industri game semakin berkembang dan menghasilkan banyak game-game yang legendaris.

Selain teknologi game dan internet, musik juga mengalami perkembangan teknologi pada era 90an.

Jadi dengan bantuan compact disc, musik menjadi lebih mudah didengar tanpa harus memutar pita kaset seperti pada tahun 80an. Banyak band dan artis terkenal pada masa itu menghasilkan album dan lagu baru yang dirilis dalam format CD.

Dalam bidang teknologi, kamera juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Pada era 90an, kamera film masih menjadi teknologi utama dan kamera pocket menjadi populer pada waktu itu. 

Selain itu, pada tahun 1997, produk kamera digital yang pertama kali diperkenalkan di pasaran oleh merek Olympus, dan Samsung meluncurkan kamera digital pada tahun 1998.

Kebiasaan Sosial

Beberapa kebiasaan sosial yang dianut oleh anak muda pada masa 90an ternyata masih berlanjut hingga sekarang. Salah satunya adalah budaya berkumpul atau nongkrong bareng teman-teman. 

Waktu luang sering dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat seperti cafe, mall, atau kawasan publik lainnya untuk bersantai dan mengobrol dengan teman-teman.

Skateboarding dan BMX juga masih populer di kalangan anak muda saat ini. Bahkan pemerintah kota di beberapa negara telah membuka taman skateboarding dan BMX publik untuk menyediakan tempat yang aman dan terorganisir bagi para penggemar olahraga tersebut. 

Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan perguruan tinggi pun banyak yang menawarkan kegiatan-kegiatan seperti itu.

Selain itu, teknologi digital pun membuat kebiasaan-kebiasaan sosial menjadi lebih mudah dan efektif. Aplikasi chatting dan game online dapat digunakan untuk menjaga hubungan dengan teman-teman, bahkan jika jarak dan waktu terhalang. 

Kegiatan virtual seperti game online juga memungkinkan untuk menemukan teman-teman baru dengan minat yang sama.

Di masa kini, kebiasaan sosial juga lebih mementingkan kesadaran akan lingkungan dan keberlanjutan hidup. Banyak anak muda yang tertarik dengan gaya hidup sehat, vegan, dan ramah lingkungan, serta kegiatan yang mendukung hak asasi manusia dan hak-hak minoritas.

Attitude dan Perspektif

Aura dan attitude anak muda era 90an sangat khas dan mudah dikenali. Mereka menunjukkan kebebasan dalam diri mereka dan berusaha menjadi diri mereka sendiri. 

Budaya pop dan counter-culture sangat berpengaruh pada sikap dan perbuatan mereka. Saya dapat melihat beberapa contoh pada saat itu, seperti gerakan grunge dan punk rock yang berkaitan dengan music, dan streetwear dalam fashion.

Pada saat itu, musik seperti grunge, punk rock, dan Britpop berasal dari gerakan underground dan mencerminkan citra gaya hidup anak muda yang anti-establishment. 

Mereka menolak norma sosial yang ditetapkan, seperti norma dalam hal berpakaian atau menjadi sukses sesuai dengan definisi masyarakat. Mereka merasa lebih merdeka dan ingin hidup dengan "di kehendaki oleh diri mereka sendiri".

Selain musik, budaya pop juga mempengaruhi attitude anak muda pada masa itu. Dari film-film hingga genre game, konten populer pada era 90an memperlihatkan budaya pop yang mendunia dan melintasi batasan sosial dan budaya. 

Budaya itu yang menjadi alasan bahwa banyak remaja memilih untuk mengikuti jejak ikon-ikon populer pada masa itu, untuk menmambah gaya hidup baru yang menarik.

Dalam hal fashion, streetwear menjadi contoh nyata akan attitude remaja pada masa itu. Gaya berpakaian yang casual, longgar, dan banyak menggunakan apparel yang kamuflase, membuat anak muda menjadi semakin beda dan anti-mainstream. Mereka ingin dikenali sebagai budaya pop yang lowkey, bergaya rok, dan sedikit pemberontak.

Secara keseluruhan, era 90an menjadi era yang sangat berpengaruh bagi gaya hidup anak muda hingga saat ini. Musik, film, fashion, teknologi, kebiasaan sosial, dan sikap, semuanya memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk budaya pop dan gaya hidup anak muda saat ini.

Beberapa elemen dari era 90an, seperti gaya streetwear, grunge, serta game dan teknologi tertentu, masih relevan dan populer hingga saat ini. 

Kebiasaan sosial seperti berkumpul dan nongkrong bareng teman, serta kegiatan luar ruangan lainnya seperti skateboarding dan BMX, juga masih dilakukan oleh anak muda pada masa kini.

Aura dan attitude anak muda masa itu juga masih terasa hingga sekarang, dengan sikap yang merdeka, anti-establishment, dan berkaitan dengan budaya pop. 

Pengaruh dari masa itu juga memunculkan sejumlah tren yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan. Hal ini menunjukkan betapa era 90an masih memiliki dampak yang besar hingga saat ini.

Gaya hidup anak muda pada masa 90an membentuk karakter anak muda yang lebih kritis, kreatif, dan merdeka. 

Pada akhirnya, budaya pop dan gaya hidup anak muda pada masa lalu dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa kini untuk membangun kepribadian dan karir mereka sendiri, melihat perkembangan teknologi dan gaya hidup yang akan datang, dan memori-kan efek dari pasti dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jejak Anak Muda Era 90an dalam Gaya Hidup Masa Kini, Apa yang Masih Relevan?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau