Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ervan Yuhenda
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Revitalisasi Pasar Tradisional, Adakah Dampaknya dengan Masa Depan?

Kompas.com, 30 Oktober 2024, 23:46 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Revitalisasi pasar tradisional bukan hanya sekedar renovasi fisik, tetapi juga transformasi menyeluruh yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. 

Di tengah persaingan dengan pusat perbelanjaan modern dan supermarket besar, pasar tradisional sering kali menghadapi tantangan berat untuk bertahan hidup. 

Namun, dengan strategi revitalisasi yang tepat, pasar tradisional memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi lokal yang berkelanjutan, melestarikan budaya, serta memperkuat komunitas.

Ekonomi Lokal dan Kesejahteraan Komunitas

Pasar tradisional merupakan denyut nadi ekonomi bagi banyak komunitas, terutama di negara berkembang. Revitalisasi pasar tradisional dapat memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian lokal.

Pedagang kecil dan menengah yang beroperasi di pasar ini seringkali merupakan tulang punggung ekonomi keluarga mereka.

Dengan memberikan dukungan melalui program revitalisasi, kita dapat membantu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Salah satu strategi utama dalam revitalisasi ekonomi pasar tradisional adalah meningkatkan daya tarik pasar tersebut.

Hal ini bisa dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur, seperti memperbarui fasilitas sanitasi, menyediakan area parkir yang memadai, dan meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Dengan menciptakan lingkungan pasar yang lebih nyaman dan aman, lebih banyak pengunjung akan tertarik untuk berbelanja di sana, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan pedagang.

Selain itu, revitalisasi juga bisa mencakup inisiatif untuk memperkenalkan teknologi digital ke pasar tradisional. Misalnya, pedagang dapat diajarkan cara menggunakan platform e-commerce untuk menjual produk mereka secara online, atau menggunakan aplikasi pembayaran digital untuk mempermudah transaksi.

Dengan adopsi teknologi, pasar tradisional dapat meningkatkan efisiensi operasi dan daya saing mereka di era digital.

Keberlanjutan Lingkungan

Keberlanjutan lingkungan adalah aspek penting dari revitalisasi pasar tradisional. Pasar ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pengurangan dampak lingkungan melalui berbagai cara. 

Salah satu pendekatannya adalah dengan mempromosikan produk lokal. Dengan mendorong masyarakat untuk membeli produk lokal, kita dapat mengurangi emisi karbon dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Pengelolaan sampah juga menjadi fokus penting dalam revitalisasi pasar tradisional. Pasar seringkali menghasilkan sejumlah besar sampah organik dan anorganik.

Program pengelolaan sampah yang efektif, seperti pemisahan sampah, daur ulang, dan pengomposan, dapat diterapkan untuk mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. 

Selain itu, edukasi kepada pedagang dan pengunjung mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik dapat membantu menciptakan kesadaran lingkungan yang lebih luas.

Penggunaan bahan kemasan yang ramah lingkungan juga harus dipromosikan. Misalnya, pedagang dapat didorong untuk menggunakan kantong kain atau kertas daripada kantong plastik. 

Pemerintah dan organisasi non-profit dapat memberikan dukungan berupa penyediaan bahan kemasan ramah lingkungan dengan harga terjangkau atau melalui program subsidi.

Pelestarian Budaya dan Identitas Lokal

Pasar tradisional sering kali menjadi cerminan budaya dan identitas lokal. Di pasar ini, kita dapat menemukan beragam produk dan kuliner yang merupakan warisan budaya suatu daerah. Revitalisasi pasar tradisional dapat membantu melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya ini.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau