Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kraiswan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kraiswan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Cerita Orangtua yang Anaknya Latihan Main "Push Bike"

Kompas.com, 26 Juni 2025, 16:18 WIB

Hari Sabtu adalah hari tenang buatku dan istri. Tapi itu dulu. Kini, seiring bertambah aktivitas pelayanan dan kegiatan anak, hari tenang itu bak fatamorgana.

Drama dimulai sejak Jumat malam...

Anak kami beranjak empat tahun. Makin banyak akalnya, makin pintar, namun juga makin suka berontak dan tidak mau menurut. Maunya main terus...

Aku dan istri sudah sounding sejak petang, "Kamu besok mau lihat kuda ndak, Nak?" tanyaku. "Iya!" balas anak kami antusias. Untuk itu, kami mendorongnya agar tidur cepat, sehingga besok bisa bangun pagi.

Realita: aku menemani tidur sejak jam 10, menjelang tengah malam tak juga tidur. Sampai aku yang ketiduran. Payah. Alhasil, esoknya anak kami susah bangun. Jam 7 lebih baru bangun. Sedang istriku masih harus belanja. Makin siang, keburu bubar kudanya.

Di daerah Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, ada pacuan kuda terkenal yang biasa dipakai ajang balap kuda level nasional. Anak kami tipe naturalis, jadi suka melihat bermacam hewan, temasuk kuda. Sejak umur setahun kami sudah mengajaknya melihat kuda.

Syukurnya, meski mentari kian tinggi, masih ada kuda yang diajak latihan di lapangan pacu. Jadi anak masih ada kesempatan melihat kuda. Ia sangat antusias! 

Habis Nonton Kuda, Sarapan Kemudian

Menyadari menonton kuda latihan tak otomatis memberi tubuh kekuatan, kami segera mencari sarapan. "Aku mau makan soto!" seru anakku. Ya, soto adalah makanan favorit mami. Kuah panas, gurih, ada nasinya, tambah gorengan. Cocok!

Selesai sarapan, kelar urusan? Tidak. Kami masih harus ke tempat Mbah untuk mengambil barang, ada pertemuan online Pasutri, aku masih harus persiapan untuk Sekolah Minggu ke gereja, dan nanti sore mendampingi anak latihan push bike.

Bermain push bike menjadi salah satu kiat kami untuk melatih dan mendorong anak agar berkembang secara sosial, emosi, dan kemampuan. Sepeda sudah dibelikan. Helm dan jersey juga dibeli, ada kakak rohani yang memberi uang. 

Tapi makin ke sini, anak kami belum menunjukkan progres berarti. Kalau tidak rewel, ya nangis. Tidak fokus untuk latihan. Melihat mainan teman, pengen dilihat Melihat truk parkir, pengen naik. Belum kalau ada anak lain yang makan jajanan.

Sabtu lalu, aku menyusul anak dan istri ke lokasi latihan. Cone pembatas sudah ditata, aku terlambat. Kabarnya, anakku sudah mau muter-muter lintasan lebih dari lima kali. Keren!

Namun, di waktu-waktu berikutnya anakku kumat. Berhenti melihat ikan, menggeser cone, putar balik cuma 2 meter dari garis start.

Paling parah, tantrum karena ingin mobil mainan teman. Aku dan istri sudah berusaha menenangkan, tapi gagal. Tantrumnya bertahan sampai anak-anak lain melakukan pendinginan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau