
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Meskipun saya menggunakannya hanya pada waktu weekend atau sesekali ke kantor, karena untuk pergi bekerja saya masih merasa nyaman naik KRL yang tidak kena macet di jalan.
Tetapi ketika melakukan perjalanan dengan mobil listrik dengan total jarak tempuh 200 kilometer, biaya konsumsi listriknya masih lebih murah dibandingkan makan berempat di warteg.
Kemudian biaya service rutin di bengkel resmi. Setidaknya sudah beberapa kali saya service rutin sesuai buku petunjuk dan biayanya masih terjangkau.
Mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen yang bergerak dan tidak membutuhkan pergantian oli mesin. Paling komponen yang dicek dan mesti dilakukan pergantian rutin seperti filter AC, cairan rem, dan cairan wiper.
Maka, bawa uang 500 ribu ke bengkel buat jaga-jaga biasanya masih sisa dan cukup untuk makan di mal atau nonton bioskop.
Nah, yang paling bikin lega untuk saat ini masih ada insentif pajak bagi mobil listrik sehingga pengalaman membayar pajak tahunan ke Samsat hanya bayar 0 rupiah. Saya hanya dikenakan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) sekitar Rp140 ribuan plus ongkos biaya beli gorengan dan air mineral saat menunggu antrean loket.
Lagi-lagi masih lebih murah dibandingkan pajak tahunan sepeda motor bensin keluaran baru.
Sebelumnya di tahun 2023 itu saya masih buta soal mobil listrik, dan waktu itu belum banyak beredar berbagai jenis dan merk mobil listrik seperti sekarang. Tapi begitu mulai mengemudi dengan mobil listrik, seolah mobil BBM tidak lagi menarik di mata saya.
Meskipun berukuran kecil, mobil saya masih mampu mengangkut lima orang penumpang dewasa. Masih bisa pula melaju sampai 200 kilometer dalam sekali ngecas.
Kelebihan lainnya soal nyari parkiran yang relatif lebih mudah dan gampang dicarikan Kang Parkir lokasi nyempil di pojokan jika parkiran terlihat penuh.
Soal masuk jalanan kecil juga lebih enak karena lebih mudah manuver jika ketemu kendaraan lain di jalanan yang hanya muat satu mobil. Benar-benar cocok bagi saya yang tinggal di lingkungan jalanan sempit khas pinggiran Jabodetabek.
Nah, gara-gara sejak 2023 sudah punya mobil listrik (alhamdulillah), sampai sekarang saya banyak menerima pertanyaan dan bahkan diajak debat soal mobil listrik ini.
Bak narasumber dadakan (dan nggak dibayar) saya mesti menjawab pengalaman saya menggunakan mobil listrik dari sisi pengguna.
Pertanyaan soal ngecas dan SPKLU termasuk yang sering ditanyakan. Mereka khawatir jika menggunakan mobil listrik sewaktu-waktu daya habis dan nggak nemu SPKLU terus bagaimana?
Menjawab pertanyaan ini tentu saya perlu memberi gambaran bahwa habit pengguna mobil listrik tentu saja harus berbeda dengan mobil BBM.