
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mobilitas saya biasanya hanya seputar Jabodetabek, dan itu kalau dari rumah dalam kondisi baterai 100%, pulangnya masih sisa 50% lebih.
Jadi saya tak perlu pusing mencari SPKLU, karena saya sudah perkirakan mau ke mana, mampir ke mana, dan lewat mana saja.
Jika totalnya masih di bawah 200 kilometer ya ngapain nyari SPKLU. Balik ke rumah dan ngecas dari malam, ditinggal tidur, paginya sudah full lagi.
Pertanyaan selanjutnya soal nilai jual kembali, apakah worth it? Terlepas dari saya yang modalnya gratisan, tapi seharusnya dengan segala efisiensi mobil listrik, pemilik mobil listrik sudah nggak mikirin lagi soal mau nilai jualnya jatuh.
Misal saja, beli baru mobil kelas LCGC seharga 200 juta dan selama 5 tahun masih bisa dijual 150 juta. Dibandingkan beli mobil listrik mini dengan harga barunya sekitar 200 juta dan setelah 5 tahun pemakaian mungkin hanya laku 40-50 juta saja.
Harusnya perbandingan itu diikuti efisiensi biaya operasional, termasuk biaya service dan pajak yang jauh lebih tinggi mobil LCGC. Bayangkan saja, dari sisi bahan bakar, jika mobil konvensional kurang lebih butuh biaya BBM minimal 2 juta rupiah per bulannya, tentu lebih boros dibandingkan mobil listrik yang rata-rata butuh 300 ribu per bulan untuk ngecas (untuk pemakaian setiap hari).
Pertanyaan demikian biasanya juga diikuti dengan ketakutan soal harga baterai jika rusak yang bisa seharga mobilnya. Lah, ngapain takut, kan mobil saya punya garansi delapan tahun, termasuk garansi baterai. Bahkan, untuk mobil keluaran terbaru sudah digaransi seumur hidup.
Bahkan, tanpa garansi pun seharusnya nggak perlu paranoid soal baterai cepat soak atau rusak. Sampai dengan service rutin bulan lalu, baterai health mobil saya masih 100% alias baik-baik saja.
Pertanyaan-pertanyaan lain pun kadang hanya ketakutan tak berdasar yang timbul karena perang konten di media sosial. Termasuk soal isu lingkungan.
"Ah, gara-gara mobil listrik banyak tambang nikel merusak lingkungan," ucap mereka pengguna kendaraan BBM yang bikin polusi udara.
Padahal yang salah bukan mobil listriknya. Tapi pengelolaan tambangnya.
Toh, kalau anti mobil listrik gara-gara tambang nikel merusak lingkungan, bukannya mereka juga pakai smartphone hingga laptop yang pakai unsur nikel juga?
Pada akhirnya soal memilih mobil listrik atau konvensional itu pilihan masing-masing. Tetapi tak elok juga menghakimi sesuatu hal tanpa pernah mencobanya langsung.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pengalaman Menggunakan Mobil Listrik Setelah 20 Bulan Pemakaian"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang