Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tupari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Tupari adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Siapa Masih Jadikan Hujan sebagai Alasan Bolos?

Kompas.com, 20 Agustus 2025, 15:41 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apa perasaanmu ketika masih pagi tetapi langit kelabu karena hujan sudah turun sejak subuh?

Saat keluar, jalanan mulai tergenang, sedangkan beberapa tempat orang-orang tiba di tujuan dengan baju yang sudah basah. Lalu, sebagaian lagi datang terlambat. 

Akan tetapi ada yang menarik, yaitu sebagian lainnya justru ada yang absen dengan satu alasan: hujan.

Sebagai contoh saja, anak-anak sekolah kerap melakukan hal semacam itu. Grup WhatsApp wali kelas pun mendadak ramai.

Satu per satu orang tua menyampaikan kabar: ada yang izin karena anaknya basah kuyup kehujanan di jalan, ada yang mengabarkan pulang kembali ke rumah karena baju tidak bisa dipakai untuk belajar, dan ada pula yang meminta maaf datang terlambat lantaran hujan deras yang tak kunjung reda.

Derasnya hujan pagi itu benar-benar mengganggu aktivitas belajar. Bukan hanya soal basah dan dingin, tetapi juga soal keselamatan anak-anak saat menuju sekolah.

Grup WhatsApp menjadi saksi bagaimana para orang tua berusaha bertanggung jawab menyampaikan kondisi, di tengah cuaca yang sulit diprediksi.

Namun, haruskah kita menyalahkan hujan? Bukankah hujan itu sejatinya berkah yang memberi kehidupan, menyuburkan tanah, dan menyejukkan udara?

Justru di balik tetes-tetesnya, ada pelajaran berharga tentang kesabaran, kesiapan, dan cara manusia beradaptasi dengan keadaan.

Hujan tidak datang untuk menghalangi, melainkan menguji: apakah kita menyerah pada kendalanya, atau menjadikannya kesempatan untuk melatih ketangguhan?

Sebenarnya, fenomena ini sudah menjadi cerita lama di dunia pendidikan kita. Setiap musim hujan, guru, orang tua, dan siswa kembali dihadapkan pada dilema yang sama: apakah hujan sah dijadikan alasan untuk telat atau bahkan tidak masuk sekolah? 

Pertanyaan ini bukan sekadar soal teknis kehadiran, melainkan menyangkut nilai yang lebih dalam: disiplin, tanggung jawab, dan juga empati pada realitas sosial yang dihadapi siswa.

Antara Disiplin dan Alasan

Sekolah selalu menanamkan nilai disiplin. Siswa diajarkan untuk tepat waktu, konsisten hadir, dan menjalankan kewajiban tanpa banyak alasan.

Bagi banyak guru, hujan bukan alasan yang cukup kuat untuk tidak datang. "Di dunia kerja nanti, kalau hujan deras pun, kita tetap harus berangkat. Kenapa sekolah harus berbeda?" begitu argumen yang sering terdengar.

Di sisi lain, kenyataan di lapangan jauh dari seragam. Ada siswa yang berangkat naik motor dengan jas hujan lengkap, ada yang diantar mobil orang tua, tapi ada juga yang berjalan kaki lebih dari dua kilometer melewati jalan berlumpur.

Bagi sebagian siswa, hujan deras berarti resiko sakit, pakaian basah kuyup, atau bahkan keterlambatan kendaraan umum. Maka, izin atau telat karena hujan menjadi jalan keluar paling realistis.

Realitas Sosial yang Tak Bisa Dipungkiri

Saya masih ingat sebuah cerita dari dosen S2 saya. Beliau pernah bercerita pengalaman saat menempuh studi doktoralnya di Jepang. Suatu hari, beliau datang terlambat ke kelas karena hujan deras.

Jadi, dengan penuh keyakinan, ia mengira alasan itu bisa dimaklumi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sang profesor di Jepang sama sekali tidak bisa menerima alasan “hujan” sebagai pembenar keterlambatan.

“Kedisiplinan adalah yang utama. Jangan pernah mencari pembenaran dengan alasan tertentu,” tutur dosennya kala itu.

Cerita sederhana ini menegaskan, di banyak budaya lain, hujan tidak pernah dianggap penghalang. Disiplin ditempatkan di atas segala keadaan, karena tanggung jawab harus tetap dijalankan apa pun kondisinya. Justru dari sanalah mental tangguh terbentuk.

Tetapi, konteks di Indonesia tentu berbeda. Jepang memiliki infrastruktur yang rapi, transportasi publik yang tertata, dan fasilitas yang memungkinkan orang tetap datang tepat waktu meski hujan turun deras. 

Sementara di negeri kita, tidak semua siswa punya kemewahan itu. Ada yang harus berjalan kaki melewati jalan berlumpur, ada yang menunggu kendaraan umum yang terhambat banjir, bahkan ada yang kembali pulang karena seragamnya sudah basah kuyup sebelum sampai sekolah.

Di titik inilah, hujan menjadi lebih dari sekadar fenomena alam. Ia membuka tabir perbedaan antara ideal disiplin dan realitas sosial yang tidak selalu berpihak pada semua orang.

Hujan membuka mata kita pada kenyataan bahwa akses pendidikan di Indonesia masih timpang. Anak-anak di perkotaan mungkin bisa menertawakan alasan "izin karena hujan" karena mereka memiliki fasilitas transportasi yang memadai.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau