
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apa perasaanmu ketika masih pagi tetapi langit kelabu karena hujan sudah turun sejak subuh?
Saat keluar, jalanan mulai tergenang, sedangkan beberapa tempat orang-orang tiba di tujuan dengan baju yang sudah basah. Lalu, sebagaian lagi datang terlambat.
Akan tetapi ada yang menarik, yaitu sebagian lainnya justru ada yang absen dengan satu alasan: hujan.
Sebagai contoh saja, anak-anak sekolah kerap melakukan hal semacam itu. Grup WhatsApp wali kelas pun mendadak ramai.
Satu per satu orang tua menyampaikan kabar: ada yang izin karena anaknya basah kuyup kehujanan di jalan, ada yang mengabarkan pulang kembali ke rumah karena baju tidak bisa dipakai untuk belajar, dan ada pula yang meminta maaf datang terlambat lantaran hujan deras yang tak kunjung reda.
Derasnya hujan pagi itu benar-benar mengganggu aktivitas belajar. Bukan hanya soal basah dan dingin, tetapi juga soal keselamatan anak-anak saat menuju sekolah.
Grup WhatsApp menjadi saksi bagaimana para orang tua berusaha bertanggung jawab menyampaikan kondisi, di tengah cuaca yang sulit diprediksi.
Namun, haruskah kita menyalahkan hujan? Bukankah hujan itu sejatinya berkah yang memberi kehidupan, menyuburkan tanah, dan menyejukkan udara?
Justru di balik tetes-tetesnya, ada pelajaran berharga tentang kesabaran, kesiapan, dan cara manusia beradaptasi dengan keadaan.
Hujan tidak datang untuk menghalangi, melainkan menguji: apakah kita menyerah pada kendalanya, atau menjadikannya kesempatan untuk melatih ketangguhan?
Sebenarnya, fenomena ini sudah menjadi cerita lama di dunia pendidikan kita. Setiap musim hujan, guru, orang tua, dan siswa kembali dihadapkan pada dilema yang sama: apakah hujan sah dijadikan alasan untuk telat atau bahkan tidak masuk sekolah?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal teknis kehadiran, melainkan menyangkut nilai yang lebih dalam: disiplin, tanggung jawab, dan juga empati pada realitas sosial yang dihadapi siswa.
Antara Disiplin dan Alasan
Sekolah selalu menanamkan nilai disiplin. Siswa diajarkan untuk tepat waktu, konsisten hadir, dan menjalankan kewajiban tanpa banyak alasan.
Bagi banyak guru, hujan bukan alasan yang cukup kuat untuk tidak datang. "Di dunia kerja nanti, kalau hujan deras pun, kita tetap harus berangkat. Kenapa sekolah harus berbeda?" begitu argumen yang sering terdengar.
Di sisi lain, kenyataan di lapangan jauh dari seragam. Ada siswa yang berangkat naik motor dengan jas hujan lengkap, ada yang diantar mobil orang tua, tapi ada juga yang berjalan kaki lebih dari dua kilometer melewati jalan berlumpur.
Bagi sebagian siswa, hujan deras berarti resiko sakit, pakaian basah kuyup, atau bahkan keterlambatan kendaraan umum. Maka, izin atau telat karena hujan menjadi jalan keluar paling realistis.
Realitas Sosial yang Tak Bisa Dipungkiri
Saya masih ingat sebuah cerita dari dosen S2 saya. Beliau pernah bercerita pengalaman saat menempuh studi doktoralnya di Jepang. Suatu hari, beliau datang terlambat ke kelas karena hujan deras.
Jadi, dengan penuh keyakinan, ia mengira alasan itu bisa dimaklumi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sang profesor di Jepang sama sekali tidak bisa menerima alasan “hujan” sebagai pembenar keterlambatan.
“Kedisiplinan adalah yang utama. Jangan pernah mencari pembenaran dengan alasan tertentu,” tutur dosennya kala itu.
Cerita sederhana ini menegaskan, di banyak budaya lain, hujan tidak pernah dianggap penghalang. Disiplin ditempatkan di atas segala keadaan, karena tanggung jawab harus tetap dijalankan apa pun kondisinya. Justru dari sanalah mental tangguh terbentuk.
Tetapi, konteks di Indonesia tentu berbeda. Jepang memiliki infrastruktur yang rapi, transportasi publik yang tertata, dan fasilitas yang memungkinkan orang tetap datang tepat waktu meski hujan turun deras.
Sementara di negeri kita, tidak semua siswa punya kemewahan itu. Ada yang harus berjalan kaki melewati jalan berlumpur, ada yang menunggu kendaraan umum yang terhambat banjir, bahkan ada yang kembali pulang karena seragamnya sudah basah kuyup sebelum sampai sekolah.
Di titik inilah, hujan menjadi lebih dari sekadar fenomena alam. Ia membuka tabir perbedaan antara ideal disiplin dan realitas sosial yang tidak selalu berpihak pada semua orang.
Hujan membuka mata kita pada kenyataan bahwa akses pendidikan di Indonesia masih timpang. Anak-anak di perkotaan mungkin bisa menertawakan alasan "izin karena hujan" karena mereka memiliki fasilitas transportasi yang memadai.