
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kadang ada cerita lucu, seperti bapak ronda ketiduran diselimuti anak-anak kecil, atau kisah heroik berhasil menggagalkan maling motor.
Siskamling adalah simbol kebersamaan. Dan sekarang, saat satpam dan CCTV mengambil alih fungsi pengamanan, rasa itu seperti perlahan memudar.
Menghidupkan Siskamling dengan Wajah Baru
Tradisi siskamling sebenarnya bisa bertransformasi. Balai warga bisa menjadi kunci untuk memoles ulang ronda malam agar relevan dengan gaya hidup masa kini:
1. Nongkrong Sehat
Balai warga bisa jadi tempat nongkrong sehat lintas generasi. Anak muda bawa gitar, main board game, atau sekadar ngobrol.
Bapak-bapak main gaple atau catur. Ibu-ibu bikin camilan bareng. Semakin ramai balai warga, maling pun enggan mendekat.
2. Ronda Tematik
Supaya tidak monoton, ronda bisa dibuat tematik. Ada “Ronda Literasi” dengan kegiatan membaca buku anak-anak, “Ronda Musik” dengan gitar dan cajon, “Ronda Hijau” untuk cek tanaman sekitar, hingga “Ronda Film” dengan nobar dokumenter keluarga.
Setiap minggu temanya berbeda, warga pun lebih tertarik datang.
3. Lintas Generasi
Salah satu daya tarik siskamling dulu adalah percampuran lintas usia. Balai warga bisa memfasilitasi itu. Anak muda belajar sejarah kampung dari para sesepuh, sementara bapak-ibu belajar hal kekinian dari generasi Z.
Bayangkan Pak RT belajar bikin reels Instagram dari anak SMA, atau sebaliknya anak SMA mendengar cerita ronda kentongan zaman dulu.
4. Shift Kreatif
Konsep jadwal jaga malam tetap bisa dipertahankan, tetapi lebih ringan. Misalnya, pukul 9–11 malam bapak-bapak main gaple sambil ngawasi jalan.
Kemudian pada pukul 11–1 dini hari anak muda nongkrong sambil bikin konten positif, lalu giliran lain patroli keliling. Ronda jadi menyenangkan tanpa kehilangan fungsi utamanya.
5. Festival Ronda Tahunan
Sekali setahun, warga bisa mengadakan Festival Ronda. Lomba kentongan, masak, stand-up comedy, atau parade ronda.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara merayakan identitas dan kebanggaan warga.
6. Balai Warga sebagai “Pusat Alarm Sosial”
Selain tempat berkegiatan, balai warga bisa jadi pusat koordinasi. Info warga sakit, musibah, atau kejadian mendesak bisa cepat tersebar. Solidaritas terjaga, bukan hanya saat ronda.