Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Niat Mulia ke Aksi Nyata, Mencari Format Ideal MBG

Kompas.com, 29 September 2025, 13:28 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sudahkah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar siap menjadi solusi gizi anak? Atau, apakah ini justru sedang memaksakan sesuatu yang belum matang demi mengejar target semata?

Memangnya bagaimana negara memastikan program sebesar ini benar-benar aman, sehat, dan berkelanjutan bagi anak-anak kita?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat di sekolah-sekolah Indonesia.

Sejak awal, program ini digadang-gadang sebagai terobosan untuk meningkatkan gizi anak bangsa sekaligus mendukung kualitas pendidikan. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus.

Harapan besar itu kini dihadapkan pada sejumlah persoalan serius. Beberapa insiden keracunan makanan yang terjadi di sekolah-sekolah menjadi catatan penting yang tidak bisa diabaikan.

Pada tahap uji coba saja, beberapa sekolah telah melaporkan kendala teknis, dan yang paling meresahkan tentu kasus keracunan yang melibatkan banyak siswa.

Kasus-kasus ini memunculkan pertanyaan publik: apakah program ini sudah benar-benar siap? Ataukah kita tengah memaksakan sesuatu yang masih prematur demi mengejar pencitraan?

MBG memang gratis bagi penerima. Namun, “gratis” bukan berarti tanpa risiko. Dalam beberapa kasus, kesehatan hingga keselamatan siswa justru dipertaruhkan.

Orangtua berharap anak-anak mereka pulang dari sekolah dengan ilmu dan semangat, bukan dengan perut mual atau bahkan harus dilarikan ke rumah sakit.

Sebagai program nasional, MBG semestinya dijalankan dengan kesungguhan penuh. Tidak boleh ada istilah setengah hati, apalagi asal jadi, karena yang dipertaruhkan adalah nyawa dan masa depan generasi bangsa.

Pemerintah memang mengakui masih ada banyak evaluasi yang harus dilakukan. Namun, masyarakat juga berhak menuntut transparansi—bukan hanya laporan di atas kertas atau rapat tertutup.

Keterbukaan data, transparansi proses, dan keseriusan tindak lanjut menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik. Tanpa itu semua, MBG hanya akan menjadi program ambisius yang kehilangan arah.

Lalu, apa akar persoalan sesungguhnya? Apakah sistem distribusi yang belum rapi? Standar gizi yang tidak seragam? Integritas penyedia makanan? Atau lemahnya pengawasan di lapangan?

Setiap menu seharusnya melalui kajian ahli gizi dan diuji kelayakannya sebelum dibagikan. Fakta di lapangan menunjukkan masih ada makanan yang kualitasnya diragukan, bahkan ada yang basi sebelum sampai ke siswa.

Konsep rantai pasok makanan adalah hal mendasar dalam kuliner. Jika hotel berbintang saja punya SOP ketat, maka program nasional sekelas MBG tidak boleh longgar dalam pengawasan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
'Kapitil' Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
"Kapitil" Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
Kata Netizen
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Kata Netizen
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Kata Netizen
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kata Netizen
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Kata Netizen
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau