Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Billy Steven Kaitjily
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Billy Steven Kaitjily adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Cilincing Menuju Ekonomi Sirkular dari Limbah Cangkang Kerang

Kompas.com, 29 September 2025, 15:35 WIB

Bagaimana nasib limbah hasil laut yang setiap hari diolah oleh masyarakat pesisir? Apakah limbah itu hanya menjadi masalah lingkungan? Apakah itu bisa diubah menjadi sumber penghidupan baru yang lebih berkelanjutan?

Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan dengan foto dan video tumpukan limbah cangkang kerang setinggi sekitar lima meter di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Tumpukan yang menyerupai ‘gunung’ buatan ini telah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga sekitar.

Berdasarkan pantauan sejumlah media, petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta turun tangan untuk mengangkut sebagian limbah.

Namun, pada saat yang sama, puluhan anak terlihat bermain di atas tumpukan tersebut, sementara pedagang kaki lima memanfaatkan keramaian untuk berjualan jajanan ringan.

Fenomena ini menunjukkan betapa persoalan limbah cangkang kerang di Cilincing sudah berlangsung lama dan belum menemukan solusi tuntas.

Sebagian besar masyarakat Cilincing bekerja sebagai nelayan kerang hijau. Mereka tidak hanya menjual kerang mentah, tetapi juga mengolahnya agar lebih mudah dikonsumsi pembeli. Proses ini memisahkan daging kerang dari kulitnya — dan di sinilah masalahnya bermula.

Sejak dibangunnya tanggul laut di Jalan Kalibaru Barat, warga kesulitan membuang kulit kerang ke laut seperti kebiasaan lama mereka.

Akibatnya, limbah tersebut menumpuk di pinggir pantai, tepat di dekat tanggul, hingga membentuk tumpukan besar yang viral di media sosial.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa aktivitas ekonomi produktif tidak boleh mengabaikan dampak lingkungan yang menyertainya.

Ancaman Ganda bagi Lingkungan dan Kesehatan

Penumpukan limbah cangkang kerang di Cilincing memicu pencemaran lingkungan multidimensi. Dampaknya nyata:

Pendangkalan kawasan pesisir, yang mengganggu lalu lintas kapal nelayan.

Bau tak sedap dari tumpukan yang bercampur dengan sampah rumah tangga, mengganggu kenyamanan warga.

Ancaman kesehatan, karena limbah ini berpotensi menjadi sarang penyakit, terutama bagi anak-anak yang bermain di sekitar lokasi.

Masalah ini kian kompleks karena limbah cangkang kerang tidak bisa dibuang begitu saja ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Pemerintah pun belum menyediakan fasilitas khusus untuk pengelolaan limbah jenis ini. Warga akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit: menumpuk limbah di pinggir pantai atau menghentikan mata pencaharian mereka.

Padahal, cangkang kerang bukan sekadar limbah. Karakteristiknya yang unik justru menjadikannya bahan baku potensial untuk berbagai produk bernilai ekonomi.

Ekonomi Sirkular Sebagai Solusi

Paradigma ekonomi sirkular bisa menjadi jalan keluar. Model ekonomi ini berfokus pada mengeliminasi limbah dengan merancang ulang sistem produksi dan konsumsi, sehingga sampah dapat menjadi sumber daya baru.

Dalam konteks Cilincing, cangkang kerang yang selama ini dianggap limbah sesungguhnya adalah bahan baku industri kreatif yang bernilai tinggi.

Data program TJSL PELNI menunjukkan bahwa cangkang kerang dapat diolah menjadi souvenir, dekorasi rumah, media tanam, hingga bahan bangunan ramah lingkungan seperti paving block.

Negara-negara seperti Filipina dan Thailand sudah membuktikan keberhasilan industri olahan cangkang kerang. Dengan garis pantai lebih dari 54.000 kilometer, Indonesia seharusnya bisa mengikuti jejak tersebut.

Dari sisi ekonomi, jika setiap rumah tangga pengolah kerang di Cilincing dapat menghasilkan produk kerajinan senilai Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per bulan dari limbah yang sebelumnya terbuang, dampak ekonominya akan signifikan.

Nilai ini berpotensi mencapai ratusan juta rupiah per bulan untuk seluruh kawasan, belum termasuk efek ganda berupa lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan pemasaran.

Pendekatan ini juga lebih efektif secara lingkungan dibanding metode pembuangan konvensional, karena mengurangi volume limbah secara signifikan sekaligus menciptakan nilai tambah.

Langkah Nyata yang Dibutuhkan

Pemerintah perlu mengambil langkah tegas dan progresif agar masyarakat Cilincing tidak harus memilih antara mata pencaharian dan kelestarian lingkungan. Pendekatan reaktif — sekadar mengangkut sampah secara berkala — tidak lagi cukup.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan:

Mendirikan Pusat Pengolahan dan Pelatihan Cangkang Kerang di Cilincing sebagai tempat pengumpulan limbah, pelatihan keterampilan, sekaligus showroom produk olahan.

Menciptakan ekosistem pasar yang kuat melalui kebijakan khusus, seperti menyediakan area di pasar tradisional dan modern, memberikan insentif pajak, dan memfasilitasi platform e-commerce dengan branding “Produk Hijau Pesisir Jakarta.”

Memberdayakan kelompok rentan, seperti ibu rumah tangga dan pemuda, melalui pelatihan, modal usaha, dan pendampingan berkelanjutan.

Program semacam ini bukanlah charity, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan ekonomi hijau perkotaan.

Momentum untuk Transformasi

Viralnya tumpukan limbah cangkang di Cilincing bukan sekadar berita negatif. Ini adalah momentum untuk perubahan.

Pendekatan ekonomi sirkular yang tepat, dukungan kebijakan pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat, Cilincing dapat bertransformasi menjadi model pembangunan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.

Jika berhasil, model Cilincing bisa direplikasi di ribuan komunitas pesisir lain di Indonesia yang menghadapi persoalan serupa.

Anak-anak pun tidak lagi bermain di atas tumpukan limbah, tetapi melihat orang tua mereka mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Apakah kita akan membiarkan tumpukan limbah cangkang kerang ini menjadi simbol masalah tak terselesaikan, atau menjadikannya titik awal transformasi menuju ekonomi hijau yang inklusif? 

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saatnya Cilincing Bertransformasi, dari Limbah Cangkang Kerang Menuju Ekonomi Sirkular"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Kata Netizen
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Kata Netizen
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau