
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kuncinya ada pada hati kita sendiri. Selama masih menyimpan harapan, setiap komunikasi akan terasa mendebarkan. Berdamailah dengan diri sendiri, terima bahwa hubungan itu sudah berakhir.
2. Jaga komunikasi secukupnya
Berteman tidak berarti harus intens berbicara setiap hari. Saling menyapa sesekali sudah cukup. Jangan biarkan kebiasaan lama kembali muncul dan memicu perasaan yang belum tuntas.
3. Hargai batasan saat ini
Dulu kita mungkin tahu semua sisi kehidupannya. Kini, tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Batasan ini penting agar hubungan tetap sehat dan tidak menimbulkan salah paham.
4. Perlakukan dia seperti teman lainnya
Jika masih berada dalam satu lingkaran sosial, bersikaplah sewajarnya. Tidak perlu memberi perlakuan istimewa, tetapi juga jangan bersikap dingin. Seimbangkan sikap agar suasana tetap nyaman bagi semua.
Berteman dengan mantan bukanlah hal mustahil. Justru ini bisa menjadi tanda bahwa kita sudah berpikir lebih matang dan mampu menaruh perasaan pada tempatnya.
Bagaimanapun juga, mantan adalah sosok yang pernah memberi kita kebahagiaan dalam satu fase hidup.
Seni berteman dengan mantan adalah seni menatap masa lalu dengan senyuman—sambil melangkah menuju masa depan tanpa beban.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jangan Lagi Fobia Pada Mantan, Sebuah Seni Berteman Tanpa Harus Baper"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang