
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kira-kira, apakah kamu pernah menemukan sebuah tempat yang diam-diam membuat Anda betah, bukan karena megahnya fasilitas, tetapi karena suasana yang terasa “klik” sejak pertama kali datang?
Ada banyak perpustakaan di Jakarta, tetapi satu yang satu ini jarang sekali terdengar namanya: Perpustakaan Freedom Institute.
Letaknya berada di lantai dasar Wisma Bakrie, Kuningan, Jakarta Selatan, dan dikelola oleh LSM Freedom Institute yang didirikan oleh Rizal Mallarangeng.
Secara akses, perpustakaan ini termasuk mudah dijangkau. Pengguna transportasi umum bisa turun di Halte TransJakarta Kuningan Madya yang berjarak sangat dekat, atau dari Stasiun LRT Rasuna Said yang hanya sekitar 500 meter. Lokasinya terbilang strategis dan ramah bagi siapa pun yang ingin berkunjung.
Namun, di balik posisinya yang cukup nyaman, perpustakaan ini menyimpan cerita panjang tentang perpindahan lokasi. Dulunya berada di Jalan Irian, Menteng (2001–2010), kemudian pindah ke Jalan Proklamasi (2010–2015), sempat vakum dua tahun, dan akhirnya menetap di tempatnya sekarang.
Mereka pernah berada pada masa ramai pengunjung—mencapai 250 orang per hari—ketika masih menempati gedung milik sendiri di Proklamasi. Jam bukanya pun dulu lebih panjang, hingga pukul 9 malam.
Mengelola gedung pribadi di Jakarta ternyata tidak mudah. Biaya operasional sangat besar: pajak gedung sekitar 100 juta per tahun, ditambah kebutuhan bulanan hingga 50 juta. Pada akhirnya, gedung tersebut harus dijual dan perpustakaan pun tutup sementara.
Meski cerita itu mengundang simpati, alasan saya datang justru lebih sederhana: perpustakaan ini disebut sebagai salah satu perpustakaan estetik di Jakarta. Begitu tahu lokasi barunya dekat dengan stasiun LRT, minat saya semakin besar.
Perjalanan dari LRT menuju pintu masuknya hanya memakan waktu beberapa menit. Walau sempat canggung karena gedungnya merupakan gedung perkantoran, sebuah plang besar bertuliskan “Perpustakaan Umum Freedom Institute” membuat langkah saya mantap.
Begitu masuk, saya langsung terkejut. Desain interiornya terasa berbeda dari perpustakaan pada umumnya.
Ruangannya modern, hangat, dan tidak kaku. Konsep industrial membuat langit-langit terlihat terbuka, memberikan kesan luas.
Seorang petugas meminta saya mengisi data diri sebelum memberikan tas pengganti berbahan spunbond. Laptop, ponsel, charger, dan barang kecil lain saya pindahkan ke tas tersebut.
Sementara bekal dan tumbler saya letakkan di meja resepsionis, mengikuti kebiasaan para pengunjung lain.
Ruangannya tidak besar, tetapi sangat nyaman. Warna-warna hangat seperti cokelat dan krem mendominasi, berpadu dengan lantai semen yang memberi kesan sederhana. Area baca, area kerja, dan area koleksi buku bisa terlihat dari satu sapuan pandang.
Ada meja panjang untuk duduk bersama, kursi melingkar merah yang empuk, hingga meja dengan sekat bagi mereka yang ingin bekerja lebih fokus.
Ketika saya datang, hanya ada beberapa pengunjung. Mungkin karena itu saya mudah mendapatkan kursi bersekat.
Banyaknya stop kontak di berbagai titik membuat pengalaman bekerja di sini terasa semakin menyenangkan.
Di dinding, terpajang gambar tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Kartini, dan beberapa tokoh lain. Ada pula kutipan-kutipan inspiratif dan patung dari berbagai daerah, menambah sentuhan etnik yang hangat.
Tentu saja, yang paling penting tetaplah koleksi bukunya. Jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi sangat menarik.
Perpustakaan ini awalnya hanya memiliki sekitar 4.000 buku—semua koleksi pribadi Rizal Mallarangeng. Koleksi itu berkembang menjadi 8.000, dan kini mencapai sekitar 14.000 buku.
Pilihan bukunya beragam: filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, sosial, ekonomi, agama, hingga hubungan internasional. Koleksi berbahasa asing pun tersedia. Semuanya ditata rapi sesuai tema.
Rak sejarah dan sastra langsung menjadi favorit saya. Di sana saya menemukan banyak nama besar: N.H. Dini, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Y.B. Mangunwijaya, Sitor Situmorang, Ahmad Tohari, dan banyak lagi.
Buku-buku populer seperti Supernova, Negeri 5 Menara, karya Ayu Utami, hingga Leila S. Chudori juga ada. Bahkan koleksi kecil seperti kumpulan cerpen Dunia di Dalam Mata—yang jarang saya dengar gaungnya—ikut terselip di rak.
Rasanya seperti membaca daftar isi rak buku saya sendiri. Seolah-olah perpustakaan ini punya selera baca yang sangat mirip dengan saya. Selain buku, tersedia pula jurnal dan koran terbaru.
Meski koleksinya tidak sebanyak perpustakaan besar, justru kurasinya terasa pas dan menyenangkan. Semua terlihat menarik, membuat pengunjung betah berlama-lama.
Fasilitas yang Tersedia
Perpustakaan ini menyediakan jaringan Wi-Fi yang cukup baik—mungkin karena saat saya datang tidak terlalu ramai. Layanan fotokopinya juga terjangkau, sekitar Rp175 per lembar.
Toilet menggunakan fasilitas gedung Wisma Bakrie yang letaknya sangat dekat. Mushola berada di depan meja pendaftaran. Meski sederhana, cukup memenuhi kebutuhan pengunjung. Tempat wudhu berada di toilet yang sama.
Biasanya saya datang sambil membawa bekal. Karena tidak ada ruang makan khusus, saya memakannya di taman umum tepat di depan perpustakaan.
Kalau pun tidak membawa bekal, banyak penjual makanan di sekitar area gedung dengan harga terjangkau—lumrah untuk kawasan perkantoran.
Bagi saya, perpustakaan ini unggul dari sisi kenyamanan dan koleksi, meski fasilitas lain tidak semewah perpustakaan besar seperti Perpusnas, Perpustakaan Jakarta, ataupun Jusuf Kalla Library. Namun, saya bisa memaklumi itu.
Perjalanan panjang mereka sebagai lembaga nirlaba yang membiayai diri sendiri sudah cukup menunjukkan perjuangan mereka.
Dengan akses masuk yang gratis untuk semua orang saja, saya sudah merasa cukup untuk jatuh cinta pada tempat ini.
Seperti halnya cinta, saya tidak lagi bertanya apa yang bisa mereka berikan, tetapi lebih pada mensyukuri pengalaman yang saya dapatkan.
Sambil menulis ini, saya terpikir satu hal: kapan ya saya bisa kembali berkunjung? Rasanya sudah rindu sekali.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jatuh Cinta Mendadak dengan Perpustakaan Freedom Institute"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang