
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apa yang membuat sebuah destinasi wisata sederhana tiba-tiba menjadi magnet baru bagi banyak orang?
Apakah panorama alam yang menenangkan, geliat ekonomi warga, atau suasana khas pedesaan yang tak bisa ditiru kota?
Tanggamus, Lampung — Kabut pagi pelan-pelan membuka tirai pegunungan. Dari ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut, hamparan pemukiman Gisting dan kokohnya Gunung Tanggamus tampak menyatu dalam lanskap hijau yang menenangkan.
Di antara udara yang sejuk dan bersih, suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berlari menuju ayunan kayu yang menghadap lembah. Inilah Bukit Idaman, destinasi wisata yang beberapa tahun terakhir menjadi primadona baru bagi pelancong domestik.
Terletak di Pekon Gisting Atas, Kecamatan Gisting, tempat ini berkembang menjadi ruang rekreasi keluarga yang menawarkan panorama terbuka tanpa batas. Meski relatif baru, antusiasme wisatawan terus meningkat, terutama di akhir pekan dan saat musim liburan.
Dari Lahan Sunyi Menjadi Ruang Harapan Baru
Beberapa tahun lalu, kawasan ini hanyalah bukit sunyi berkontur tajam, dikelilingi kebun kopi dan sayuran milik warga.
Melihat tren wisata alam dan spot foto yang semakin digemari anak muda, masyarakat setempat mulai bergerak. Bersama-sama, mereka membersihkan lahan, membenahi akses jalan, dan membangun spot-spot sederhana.
Perubahan itu ternyata membawa dampak ekonomi nyata. Warga membuka kios makanan, menyediakan jasa parkir, hingga menjual kopi dari kebun mereka sendiri.
Anak-anak muda desa pun mendapat pekerjaan paruh waktu—sebuah peluang yang penting di tengah keterbatasan lapangan kerja.
Bagi Gisting, wilayah yang sejak lama dikenal sebagai sentra hortikultura, pariwisata memberikan napas baru. Dengan harga komoditas yang kerap naik turun, destinasi seperti Bukit Idaman menjadi alternatif sumber penghidupan yang menjanjikan.
Daya Tarik yang Tenang dan Mengundang
Bukit Idaman menawarkan pengalaman yang sederhana namun menenangkan. Udara khas dataran tinggi, pemandangan hijau yang lapang, dan berbagai spot foto berbahan kayu semakin menambah daya tariknya.
Gardu pandang, taman bunga, hingga ayunan raksasa dirancang menyatu dengan alam, jauh dari kesan artifisial.
Pengunjung bisa datang pagi hari untuk menikmati kabut tipis yang bergerak pelan, atau tiba menjelang sore saat langit memerah dan matahari terbenam di balik Gunung Tanggamus.
Keluarga muda menjadikannya lokasi piknik, sementara anak-anak muda memanfaatkan sudut-sudutnya sebagai konten media sosial.
“Saya lihat dari Instagram teman, ternyata lebih bagus dari yang saya bayangkan,” kata Lestari (22), pengunjung asal Bandar Lampung yang menikmati kopi panas dari warung lokal sambil menunggu matahari terbit.
Tantangan: Infrastruktur dan Pengelolaan Berkelanjutan
Meski berkembang pesat, Bukit Idaman tetap menghadapi sejumlah tantangan. Jalan menuju lokasi cukup menanjak, dengan beberapa ruas sempit yang memerlukan perhatian lebih.
Infrastruktur dasar seperti drainase, penerangan, dan pengelolaan sampah juga masih perlu ditingkatkan.
Pemerintah daerah telah mendorong pengembangan desa wisata melalui program pemberdayaan dan kolaborasi dengan pihak swasta. Namun keberlanjutan destinasi tetap bergantung pada pengelolaan berbasis komunitas.
Kesadaran pengunjung juga memainkan peran penting. Papan-papan imbauan dipasang untuk mengingatkan wisatawan agar membawa kembali sampah dan menjaga tanaman.
Menuju Wisata Berbasis Komunitas
Potensi wisata di Bukit Idaman bukan hanya soal panoramanya. Tempat ini menyimpan peluang untuk menjadi ruang edukasi, ruang budaya, dan ruang promosi produk lokal.
Kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga wisata kebun kopi dapat dirangkai menjadi paket lengkap yang memperkuat identitas Gisting.
Menurut Dr. Endro Prasetya Wahono dari Universitas Lampung—yang turut mendampingi pengembangan wisata berbasis komunitas—kunci keberhasilan wisata desa terletak pada pengelolaan yang melibatkan warga secara aktif, konsisten, dan sistematis.
Merekam Udara Segar, Menyimpan Harapan
Saat sore tiba dan kabut kembali turun, lampu-lampu warung mulai menyala. Aroma kopi robusta lokal menguar, menghangatkan tubuh para pengunjung. Di kejauhan, bunyi angin dan suara ayam menjadi harmoni penutup hari.
Bukit Idaman bukan sekadar tempat untuk berfoto atau menikmati pemandangan. Ia adalah ruang jeda bagi mereka yang mencari ketenangan, sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Dari dataran tinggi Gisting yang sejuk, tersimpan harapan bahwa pariwisata bisa tumbuh menjadi jalan pulang bagi kesejahteraan yang lebih merata.
Di balik siluet Gunung Tanggamus yang berdiri anggun, Bukit Idaman mengingatkan kita bahwa keindahan tak harus megah—kadang cukup berupa bukit sederhana, secangkir kopi panas, dan udara pegunungan yang membuat siapa pun ingin kembali.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bukit Idaman, Napas Wisata Baru dari Dataran Tinggi Gisting"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang