Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tupari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Tupari adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bukit Idaman, Oase Tenang di Dataran Tinggi Gisting

Kompas.com, 17 November 2025, 20:40 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apa yang membuat sebuah destinasi wisata sederhana tiba-tiba menjadi magnet baru bagi banyak orang?

Apakah panorama alam yang menenangkan, geliat ekonomi warga, atau suasana khas pedesaan yang tak bisa ditiru kota?

Tanggamus, Lampung — Kabut pagi pelan-pelan membuka tirai pegunungan. Dari ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut, hamparan pemukiman Gisting dan kokohnya Gunung Tanggamus tampak menyatu dalam lanskap hijau yang menenangkan.

Di antara udara yang sejuk dan bersih, suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berlari menuju ayunan kayu yang menghadap lembah. Inilah Bukit Idaman, destinasi wisata yang beberapa tahun terakhir menjadi primadona baru bagi pelancong domestik.

Terletak di Pekon Gisting Atas, Kecamatan Gisting, tempat ini berkembang menjadi ruang rekreasi keluarga yang menawarkan panorama terbuka tanpa batas. Meski relatif baru, antusiasme wisatawan terus meningkat, terutama di akhir pekan dan saat musim liburan.

Dari Lahan Sunyi Menjadi Ruang Harapan Baru

Beberapa tahun lalu, kawasan ini hanyalah bukit sunyi berkontur tajam, dikelilingi kebun kopi dan sayuran milik warga.

Melihat tren wisata alam dan spot foto yang semakin digemari anak muda, masyarakat setempat mulai bergerak. Bersama-sama, mereka membersihkan lahan, membenahi akses jalan, dan membangun spot-spot sederhana.

Perubahan itu ternyata membawa dampak ekonomi nyata. Warga membuka kios makanan, menyediakan jasa parkir, hingga menjual kopi dari kebun mereka sendiri.

Anak-anak muda desa pun mendapat pekerjaan paruh waktu—sebuah peluang yang penting di tengah keterbatasan lapangan kerja.

Bagi Gisting, wilayah yang sejak lama dikenal sebagai sentra hortikultura, pariwisata memberikan napas baru. Dengan harga komoditas yang kerap naik turun, destinasi seperti Bukit Idaman menjadi alternatif sumber penghidupan yang menjanjikan.

Daya Tarik yang Tenang dan Mengundang

Bukit Idaman menawarkan pengalaman yang sederhana namun menenangkan. Udara khas dataran tinggi, pemandangan hijau yang lapang, dan berbagai spot foto berbahan kayu semakin menambah daya tariknya.

Gardu pandang, taman bunga, hingga ayunan raksasa dirancang menyatu dengan alam, jauh dari kesan artifisial.

Pengunjung bisa datang pagi hari untuk menikmati kabut tipis yang bergerak pelan, atau tiba menjelang sore saat langit memerah dan matahari terbenam di balik Gunung Tanggamus.

Keluarga muda menjadikannya lokasi piknik, sementara anak-anak muda memanfaatkan sudut-sudutnya sebagai konten media sosial.

“Saya lihat dari Instagram teman, ternyata lebih bagus dari yang saya bayangkan,” kata Lestari (22), pengunjung asal Bandar Lampung yang menikmati kopi panas dari warung lokal sambil menunggu matahari terbit.

Tantangan: Infrastruktur dan Pengelolaan Berkelanjutan

Meski berkembang pesat, Bukit Idaman tetap menghadapi sejumlah tantangan. Jalan menuju lokasi cukup menanjak, dengan beberapa ruas sempit yang memerlukan perhatian lebih.

Infrastruktur dasar seperti drainase, penerangan, dan pengelolaan sampah juga masih perlu ditingkatkan.

Pemerintah daerah telah mendorong pengembangan desa wisata melalui program pemberdayaan dan kolaborasi dengan pihak swasta. Namun keberlanjutan destinasi tetap bergantung pada pengelolaan berbasis komunitas.

Kesadaran pengunjung juga memainkan peran penting. Papan-papan imbauan dipasang untuk mengingatkan wisatawan agar membawa kembali sampah dan menjaga tanaman.

Menuju Wisata Berbasis Komunitas

Potensi wisata di Bukit Idaman bukan hanya soal panoramanya. Tempat ini menyimpan peluang untuk menjadi ruang edukasi, ruang budaya, dan ruang promosi produk lokal.

Kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga wisata kebun kopi dapat dirangkai menjadi paket lengkap yang memperkuat identitas Gisting.

Menurut Dr. Endro Prasetya Wahono dari Universitas Lampung—yang turut mendampingi pengembangan wisata berbasis komunitas—kunci keberhasilan wisata desa terletak pada pengelolaan yang melibatkan warga secara aktif, konsisten, dan sistematis.

Merekam Udara Segar, Menyimpan Harapan

Saat sore tiba dan kabut kembali turun, lampu-lampu warung mulai menyala. Aroma kopi robusta lokal menguar, menghangatkan tubuh para pengunjung. Di kejauhan, bunyi angin dan suara ayam menjadi harmoni penutup hari.

Bukit Idaman bukan sekadar tempat untuk berfoto atau menikmati pemandangan. Ia adalah ruang jeda bagi mereka yang mencari ketenangan, sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Dari dataran tinggi Gisting yang sejuk, tersimpan harapan bahwa pariwisata bisa tumbuh menjadi jalan pulang bagi kesejahteraan yang lebih merata.

Di balik siluet Gunung Tanggamus yang berdiri anggun, Bukit Idaman mengingatkan kita bahwa keindahan tak harus megah—kadang cukup berupa bukit sederhana, secangkir kopi panas, dan udara pegunungan yang membuat siapa pun ingin kembali.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bukit Idaman, Napas Wisata Baru dari Dataran Tinggi Gisting"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau