
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa hewan liar semakin sering turun ke permukiman? Apakah ini sekadar gangguan sesaat, atau sebenarnya sinyal bahwa lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja?
Seberapa besar risiko bagi kesehatan manusia ketika habitat satwa semakin menyempit?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlahan menjadi relevan bagi banyak daerah di Indonesia, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Hewan Liar Muncul di Permukiman, Fenomena yang Terus Berulang
Dalam beberapa waktu terakhir, laporan monyet liar masuk ke permukiman tak lagi terdengar sebagai kasus terpencil.
Dari Batam, Tanjungpinang, Jakarta, hingga Pekanbaru, cerita serupa bermunculan: monyet turun dari bukit, masuk halaman rumah, mengacak-acak sampah, bahkan kadang mengejar warga.
Di Batam saja, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mencatat sedikitnya 15 kasus konflik manusia–monyet sepanjang 2022. Di Tanjungpinang, laporan meningkat dalam dua tahun terakhir.
Kasus-kasus ini bukan sekadar angka. Ia adalah sinyal—bahwa ekosistem di sekitar kita sedang berubah.
Ketika Habitat Menyusut, Permukiman Jadi Target Baru
Hewan liar memasuki wilayah manusia karena satu alasan sederhana: rumah mereka hilang.
Alih fungsi lahan, pembangunan perumahan, perluasan kawasan industri, dan rusaknya koridor satwa membuat ruang hidup yang dulu nyaman menjadi sempit.
Ketika hutan dan semak hilang, satwa pun mencari sumber makanan baru. Dan bagi mereka, permukiman adalah pilihan paling mudah.
Fenomena ini mencerminkan hubungan yang semakin tidak seimbang antara manusia dan alam.
Risiko Zoonosis: Ancaman yang Tidak Boleh Dianggap Remeh
Masalahnya bukan hanya soal kenyamanan warga. Semakin dekat hewan liar dengan manusia, semakin besar risiko zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.