
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika tahu masa kerja di kantor lama tinggal menghitung hari, apakah kita tetap harus menjaga performa dan profesionalitas? Atau wajar kalau mulai menurun semangatnya?
Bagi banyak karyawan yang akan segera resign, perasaan “males banget” menjalani aktivitas kantor memang sering muncul.
Bangun pagi terasa lebih berat, berangkat kerja hanya karena kewajiban, dan tugas-tugas diselesaikan sekadarnya.
Apalagi kalau sudah diterima di tempat baru — pikiran sudah setengah pindah duluan, sementara tubuh masih duduk di kursi kantor lama.
Wajar bila semangat kerja menurun ketika masa resign semakin dekat. Rasa keterikatan dengan tempat kerja lama memang mulai memudar.
Namun justru pada fase inilah profesionalitas seseorang sedang diuji. Cara kita menutup bab pekerjaan di kantor lama sering menjadi penentu bagaimana rekan dan atasan mengingat diri kita — apakah sebagai pribadi yang tetap bertanggung jawab sampai akhir, atau justru sebaliknya.
Banyak orang tidak menyadari bahwa “kesan terakhir” punya pengaruh jangka panjang. Detail pekerjaan mungkin akan terlupakan, tetapi sikap kita di hari-hari terakhir biasanya justru paling diingat.
Bahkan, reputasi itu bisa ikut terbawa ke tempat kerja berikutnya, entah melalui rekomendasi, cerita di jaringan profesional, atau percakapan ringan antar kolega.
Karena itu, meskipun sudah mantap ingin pindah, bukan berarti kualitas kerja boleh diturunkan. Justru saat inilah kesempatan untuk menunjukkan kedewasaan dan integritas sebagai seorang profesional.
Resign Bukan Akhir, Tapi Bagian dari Perjalanan
Resign hanyalah satu tahap dalam perjalanan karier — bukan penutup segalanya. Namun, pada masa transisi ini, godaannya besar: datang terlambat, bekerja seadanya, atau mulai menghindari tanggung jawab. Padahal di fase ini karakter seseorang terlihat paling jelas.
Profesional bukan hanya soal bekerja keras di awal diterima kerja, tetapi bagaimana kita tetap menjaga sikap hingga hari terakhir.
Bekerja dengan baik sampai tuntas adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri. Setelah berjuang sejauh ini, sayang sekali jika perjalanan ditutup dengan kesan ogah-ogahan.
Kesan Terakhir Bisa Jadi Modal Masa Depan
Atasan dan rekan mungkin tidak mengingat setiap pencapaian kita, tetapi mereka akan ingat apakah kita berpamitan dengan baik dan tetap membantu tim hingga akhir.
Siapa tahu, suatu hari kita membutuhkan bantuan, rekomendasi, atau jaringan dari mereka lagi. Dunia kerja itu kecil — reputasi baik bisa membuka banyak pintu, sementara reputasi buruk bisa menyulitkan langkah ke depan.
Kerja profesional sampai akhir juga memberikan ketenangan hati. Ada rasa puas ketika tahu kita meninggalkan tempat lama dengan cara yang baik —bukan karena tekanan, tetapi karena memilih menjaga integritas. Kita masuk ke tempat baru tanpa penyesalan dan dengan kepala tegak.
Tutup dengan Elegan, Mulai dengan Ringan
Tidak perlu memaksakan diri, cukup lakukan yang terbaik sesuai peran, bantu proses transisi, dan tinggalkan jejak positif. Pamit dengan cara yang baik adalah salah satu bentuk kelas seorang profesional.
Pada akhirnya, resign bukan soal meninggalkan pekerjaan lama, tetapi bagaimana kita pindah dengan tetap menjaga rasa hormat — dari orang lain, dan dari diri sendiri.
Tetap semangat, tetap profesional, dan pastikan langkahmu ke bab baru dimulai dengan reputasi yang kuat.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kerja Males-malesan Karena Mau Resign? Duh, Jangan Gitu!"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang