
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Saat hujan deras mengalir, sampah yang terjebak menjadi biang kerok banjir lokal. Bukan banjir kiriman, bukan pula bencana besar. Hanya air yang tak bisa bergerak karena pintu keluarnya tertutup oleh sampah yang kita tinggalkan sendiri.
Menjaga selokan bukan semata tugas pemerintah daerah. Ini adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari pagar rumah masing-masing.
Dua Faktor Pemicu Bencana: Hujan dan Sampah
Curah hujan ekstrem adalah kondisi yang sulit kita kendalikan. Namun faktor kedua — pengelolaan sampah — sepenuhnya ada dalam kuasa kita.
Setiap sampah plastik yang berakhir di selokan memperbesar risiko banjir. Setiap tumpukan sampah yang menutup permukaan tanah membuat risiko longsor meningkat.
Ketika sampah plastik bercampur lumpur dan air, ia membentuk massa padat yang sulit dibersihkan.
Petugas kebersihan membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk mengatasinya. Padahal banyak bencana bisa dicegah hanya dengan tidak membuang sampah sembarangan sejak awal.
Tiga Langkah Prioritas Sebelum Hujan Datang Lebih Deras
Untuk menjawab pertanyaan “Apa kabar selokan di depan rumah kita?”, ada tiga langkah yang bisa dilakukan setiap rumah tangga:
1. Pisahkan Sampah dari Sumbernya
Pisahkan organik, anorganik, dan residu. Pastikan plastik, kaleng, dan bungkus makanan tidak berakhir di selokan. Kirimkan ke bank sampah atau pengepul bila memungkinkan.
2. Bersihkan Saluran Air Secara Rutin
Tidak perlu menunggu jadwal kerja bakti. Sisihkan waktu seminggu sekali untuk memeriksa selokan di depan rumah.
Buang daun kering, angkat endapan lumpur, dan pastikan tidak ada sampah tersangkut.
3. Buat Resapan Air Sederhana