Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Billy Steven Kaitjily
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Billy Steven Kaitjily adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Urgensi Penataan Ulang Sistem Pengangkutan Sampah Jakarta

Kompas.com, 16 Desember 2025, 17:44 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sejauh mana sistem pengangkutan sampah di Jakarta telah benar-benar memperhatikan ketepatan waktu, keselamatan petugas, dan kenyamanan publik?

Pertanyaan ini kembali relevan menyusul kabar duka meninggalnya seorang sopir truk sampah akibat antrean panjang saat bongkar muat di TPST Bantargebang.

Peristiwa ini membuka kembali diskusi tentang bagaimana pengelolaan sampah ibu kota dijalankan, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan tengah melakukan evaluasi internal, termasuk menata ulang sistem antrean dan jadwal pengangkutan sampah dari lima wilayah kota.

Langkah ini diharapkan dapat menciptakan arus pembuangan yang lebih stabil sekaligus menghadirkan kondisi kerja yang lebih manusiawi bagi para petugas di lapangan.

Evaluasi tersebut patut diapresiasi, mengingat pengelolaan sampah Jakarta merupakan pekerjaan besar yang melibatkan ribuan orang dan volume sampah yang tidak sedikit.

Sejak beberapa tahun lalu, Jakarta sebenarnya telah memiliki fleksibilitas dalam pengangkutan sampah. Sistem pengiriman menuju Bantargebang dapat dilakukan selama 24 jam melalui jalur tertentu, sebuah kebijakan yang semestinya mendukung efisiensi.

Maka, dengan produksi sampah harian yang mencapai 7.500 hingga 8.000 ton, sistem yang berjalan nyaris tanpa jeda waktu menjadi kebutuhan mutlak.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa fleksibilitas tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ketepatan waktu yang konsisten.

Dalam praktiknya, pengumpulan sampah dari wilayah-wilayah administrasi Jakarta kerap berlangsung lebih lambat dari jadwal ideal.

Truk-truk yang seharusnya sudah bergerak menuju Bantargebang pada pagi hari, masih tertahan karena proses pengumpulan yang belum selesai.

Akibatnya, sampah menumpuk di sejumlah titik, bau tak sedap menyebar, dan kehadiran truk sampah di jam sibuk turut memperberat lalu lintas. Situasi ini tentu merugikan banyak pihak, mulai dari warga, pengguna jalan, hingga para petugas itu sendiri.

Menariknya, persoalan ini bukan disebabkan oleh keterbatasan armada. DLH DKI Jakarta dalam beberapa tahun terakhir justru telah melakukan modernisasi dengan menghadirkan truk-truk compactor berkapasitas besar yang lebih ramah lingkungan dan mampu menekan bau selama pengangkutan.

Bahkan, armada truk sampah bertenaga listrik mulai dioperasikan sebagai bagian dari komitmen pengurangan emisi.

Dukungan teknologi dan sarana yang relatif memadai, persoalan utama tampaknya terletak pada manajemen waktu dan koordinasi operasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau