Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gregorius Nafanu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Gregorius Nafanu adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan

Kompas.com, 11 Januari 2026, 15:31 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah kota yang kian padat dan minim ruang terbuka, mungkinkah lingkungan urban tetap menjadi sumber pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan?

Perkembangan kota yang berlangsung begitu cepat membawa konsekuensi nyata terhadap ketersediaan ruang dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat perkotaan.

Lahan pertanian semakin menyusut, tergantikan oleh gedung-gedung tinggi dan kawasan permukiman yang padat.

Di sisi lain, kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, sehingga ketergantungan kota terhadap pasokan dari luar wilayah pun semakin besar.

Meski demikian, keterbatasan ruang bukan berarti menutup peluang. Di balik padatnya kawasan urban, sebenarnya masih terdapat potensi yang dapat dimanfaatkan secara kreatif.

Melalui pendekatan urban farming dan urban scouting, ruang-ruang kota yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi sumber pangan yang produktif dan berkelanjutan.

Urban Farming: Bertani di Tengah Kota

Di tengah kepadatan bangunan dan ritme hidup yang serba cepat, urban farming hadir sebagai pendekatan inovatif yang mengubah cara pandang warga kota terhadap ruang dan lingkungan sekitarnya.

Konsep ini mendorong praktik pertanian di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas secara efisien dan adaptif.

Urban farming bukan sekadar aktivitas menanam, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan kemandirian pangan sekaligus kesadaran ekologis.

Balkon apartemen, teras rumah, atap gedung, hingga dinding kosong dapat disulap menjadi area tanam.

Beragam jenis tanaman, mulai dari sayuran daun, tanaman herbal, hingga buah-buahan tertentu, bisa dibudidayakan melalui teknik sederhana seperti pot, vertikultur, maupun sistem hidroponik.

Di berbagai kota besar, praktik urban farming berkembang sebagai solusi praktis untuk menghadapi tingginya harga pangan segar. Warga dapat memanen sendiri kangkung, bayam, selada, cabai, atau tomat untuk kebutuhan harian.

Selain lebih hemat, hasil panen juga cenderung lebih sehat karena proses penanamannya dapat dikontrol tanpa penggunaan bahan kimia berlebihan. Aktivitas ini pun memberi nilai tambah sebagai sarana rekreasi yang menenangkan di tengah tekanan kehidupan perkotaan.

Urban Scouting: Menemukan Potensi Ruang Kota

Keberhasilan urban farming tidak terlepas dari peran urban scouting. Pendekatan ini berfokus pada proses identifikasi, pemetaan, dan analisis ruang-ruang potensial di kawasan perkotaan yang dapat dimanfaatkan secara produktif.

Lahan kosong sementara, sudut gang, area di sekitar fasilitas umum, hingga atap bangunan menjadi objek utama dalam urban scouting.

Melalui pemetaan yang sistematis, praktik pertanian kota dapat direncanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Urban scouting membantu komunitas maupun pemerintah menentukan lokasi yang sesuai, dengan mempertimbangkan faktor seperti akses cahaya matahari, ketersediaan air, serta kesesuaian fungsi ruang.

Pendekatan ini juga berperan penting dalam meminimalkan konflik kepemilikan lahan dan mendorong kolaborasi antarwarga.

Contoh penerapan urban scouting dapat dilihat pada pemanfaatan atap gedung perkantoran sebagai kebun sayur bersama. Melalui perencanaan yang matang, area tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan.

Hasil panen dapat dibagikan kepada karyawan atau masyarakat sekitar, sementara proses bercocok tanam menjadi media pembelajaran tentang keberlanjutan dan kepedulian terhadap alam.

Sinergi Menuju Kota yang Lebih Berdaya

Sinergi antara urban farming dan urban scouting turut mendorong tumbuhnya kebun-kebun komunitas di berbagai kota.

Warga dari latar belakang yang beragam bekerja sama mengelola lahan kecil menjadi sumber pangan kolektif.

Selain menghasilkan sayuran, kebun komunitas juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat solidaritas dan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar, sekaligus mempertemukan generasi muda dan tua dalam kegiatan yang produktif.

Dari sisi ekonomi, urban farming membuka peluang usaha skala kecil yang sejalan dengan gaya hidup modern.

Produk seperti sayuran organik, microgreen, atau tanaman hias dari kebun kota memiliki pasar tersendiri.

Dalam hal ini, urban scouting berperan penting dalam menentukan lokasi strategis yang mendukung produksi dan distribusi, sehingga usaha berbasis pertanian kota dapat berkembang secara realistis.

Dampak positif lainnya terlihat pada aspek lingkungan. Kehadiran tanaman hijauan di ruang urban membantu menurunkan suhu, meningkatkan kualitas udara, serta mengurangi limpasan air hujan.

Kota yang sebelumnya didominasi beton perlahan berubah menjadi ekosistem yang lebih ramah bagi manusia dan alam.

Pada akhirnya, urban farming dan urban scouting merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi.

Urban farming menggerakkan praktik bercocok tanam di tengah kota, sementara urban scouting memastikan ruang perkotaan dimanfaatkan secara cerdas, adil, dan berkelanjutan.

Keduanya menawarkan harapan bahwa kota tidak hanya menjadi pusat konsumsi, tetapi juga ruang hidup yang produktif, hijau, dan berdaya untuk masa depan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Urban Farming dan Urban Scouting, Strategi Ubah Ruang Kota Jadi Sumber Pangan Berkelanjutan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau