Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Risma Achmad
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Risma Achmad adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"

Kompas.com, 18 Januari 2026, 15:19 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah pesan sesingkat huruf "P" itu layak dibalas atau justru mencerminkan cara kita berkomunikasi di era digital hari ini?

Bayangkan seseorang datang ke rumah Anda: Ia tidak mengetuk pintu, tidak mengucap salam, dan orang tersebut hanya berdiri di depan pagar sambil berseru singkat, lalu menunggu Anda keluar.

Aneh? Kurang sopan? Atau sekadar membingungkan?

Kurang lebih, begitulah perasaan yang muncul ketika menerima pesan “P”. Satu huruf yang entah bagaimana menjadi pembuka percakapan paling ringkas dan paling sering memicu kebingungan di ruang digital kita.

Oleh karena itulah, hingga kini, saya memilih untuk tidak membalasnya.

Keramahan yang Perlahan Memudar di Ujung Jari

Kita hidup di masa serba cepat. Pesan terkirim dalam hitungan detik, notifikasi datang silih berganti, dan komunikasi berlangsung nyaris tanpa jeda. Namun, di tengah kemudahan itu, ada satu hal yang kerap tergerus perlahan: etika berkomunikasi.

Awalnya, “P” dikenal sebagai singkatan dari ping, fitur teknis untuk memastikan apakah seseorang sedang aktif. Dalam perkembangannya, huruf ke-16 alfabet ini bertransformasi menjadi pembuka percakapan yang berdiri sendiri—seolah satu karakter sudah cukup mewakili maksud apa pun.

Padahal, membuka percakapan bukan sekadar soal mengirim pesan. Di sana ada upaya menyapa, memberi konteks, dan menunjukkan penghargaan pada orang lain. Percakapan, sekecil apa pun, adalah jembatan emosional. Dan jembatan yang dibangun dari satu huruf tentu terasa rapuh.

Ketika Pesan “P” Masuk ke Layar Ponsel

Saya masih ingat suatu sore, di tengah tenggat penulisan artikel, ponsel bergetar. Nomor tak dikenal. Pesannya singkat: “P”. Tidak ada lanjutan. Tidak ada penjelasan.

Dalam hitungan detik, pikiran mulai bekerja: siapa pengirimnya? Apakah penting? Salah sambung, penipuan, atau justru urusan profesional? Ketidakjelasan ini memaksa otak mengisi kekosongan informasi yang seharusnya sudah diberikan sejak awal.

Psikolog menyebut kondisi ini sebagai beban kognitif saat kita dipaksa menebak-nebak sesuatu yang mestinya jelas. Ditambah lagi, muncul rasa tidak nyaman karena ruang personal kita seakan dimasuki tanpa permisi.

Akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan yang sama-sama serba tanggung:

  • Membalas, tapi khawatir membuang waktu atau menghadapi risiko.
  • Menunda, sambil cemas jika ternyata penting.
  • Mengabaikan, dengan perasaan tidak enak.

Saya memilih opsi terakhir. Dan keputusan itu saya ambil dengan sadar.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau