
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah pesan sesingkat huruf "P" itu layak dibalas atau justru mencerminkan cara kita berkomunikasi di era digital hari ini?
Bayangkan seseorang datang ke rumah Anda: Ia tidak mengetuk pintu, tidak mengucap salam, dan orang tersebut hanya berdiri di depan pagar sambil berseru singkat, lalu menunggu Anda keluar.
Aneh? Kurang sopan? Atau sekadar membingungkan?
Kurang lebih, begitulah perasaan yang muncul ketika menerima pesan “P”. Satu huruf yang entah bagaimana menjadi pembuka percakapan paling ringkas dan paling sering memicu kebingungan di ruang digital kita.
Oleh karena itulah, hingga kini, saya memilih untuk tidak membalasnya.
Keramahan yang Perlahan Memudar di Ujung Jari
Kita hidup di masa serba cepat. Pesan terkirim dalam hitungan detik, notifikasi datang silih berganti, dan komunikasi berlangsung nyaris tanpa jeda. Namun, di tengah kemudahan itu, ada satu hal yang kerap tergerus perlahan: etika berkomunikasi.
Awalnya, “P” dikenal sebagai singkatan dari ping, fitur teknis untuk memastikan apakah seseorang sedang aktif. Dalam perkembangannya, huruf ke-16 alfabet ini bertransformasi menjadi pembuka percakapan yang berdiri sendiri—seolah satu karakter sudah cukup mewakili maksud apa pun.
Padahal, membuka percakapan bukan sekadar soal mengirim pesan. Di sana ada upaya menyapa, memberi konteks, dan menunjukkan penghargaan pada orang lain. Percakapan, sekecil apa pun, adalah jembatan emosional. Dan jembatan yang dibangun dari satu huruf tentu terasa rapuh.
Ketika Pesan “P” Masuk ke Layar Ponsel
Saya masih ingat suatu sore, di tengah tenggat penulisan artikel, ponsel bergetar. Nomor tak dikenal. Pesannya singkat: “P”. Tidak ada lanjutan. Tidak ada penjelasan.
Dalam hitungan detik, pikiran mulai bekerja: siapa pengirimnya? Apakah penting? Salah sambung, penipuan, atau justru urusan profesional? Ketidakjelasan ini memaksa otak mengisi kekosongan informasi yang seharusnya sudah diberikan sejak awal.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai beban kognitif saat kita dipaksa menebak-nebak sesuatu yang mestinya jelas. Ditambah lagi, muncul rasa tidak nyaman karena ruang personal kita seakan dimasuki tanpa permisi.
Akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan yang sama-sama serba tanggung:
Saya memilih opsi terakhir. Dan keputusan itu saya ambil dengan sadar.