
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengabaikan Bukan Berarti Tidak Sopan
Sering kali, mengabaikan pesan dianggap sebagai sikap sombong. Padahal, tidak selalu demikian. Setiap orang berhak atas batasan diri, termasuk dalam urusan komunikasi digital.
Ketika sebuah pesan dibuka tanpa sapaan atau kejelasan maksud, kita tidak berkewajiban untuk meresponsnya. Bukan karena merasa lebih tinggi, melainkan karena kita menghargai waktu dan energi yang dimiliki.
Dalam konteks tertentu, tidak membalas pesan “P” justru bisa menjadi bentuk edukasi sosial yang halus. Tanpa ceramah, tanpa konflik. Konsekuensi alami bahwa cara tersebut kurang efektif untuk memulai percakapan.
Namun, jika Anda merasa perlu merespons—barangkali karena khawatir itu urusan penting—ada pilihan yang lebih santun daripada sekadar membalas dengan tanda tanya: “Maaf, boleh saya tahu dengan siapa saya bicara dan ada keperluan apa?”
Satu kalimat sederhana, sopan, dan tetap menjaga batas.
Rumus O-K-A untuk Membuka Percakapan
Kini mari melihat dari sisi sebaliknya. Bagaimana jika kita yang ingin menghubungi orang lain?Ada formula sederhana yang bisa digunakan: O-K-A.
O: Objek atau Konteks
Perkenalkan diri dan jelaskan dari mana kontak diperoleh. “Selamat sore Pak Andi, saya Rina dari komunitas penulis Surabaya. Saya mendapatkan nomor Bapak dari Mas Budi.”
K: Kejelasan Tujuan
Sampaikan maksud secara langsung dan ringkas. “Saya ingin berdiskusi mengenai kemungkinan kolaborasi antologi cerpen tahun ini.”
A: Apresiasi Waktu
Berikan ruang tanpa tekanan. “Silakan dibalas saat Bapak berkenan. Terima kasih atas waktunya.”
Jika digabungkan, pesan pembuka itu terdengar hangat, jelas, dan menghargai lawan bicara. Bandingkan dengan satu huruf: “P”. Mana yang lebih ingin kita respons?