
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Cara Mengobrol adalah Cermin Diri
Ada satu hal sederhana yang sering terlupa: cara kita menyapa orang lain mencerminkan seberapa besar kita menghargai mereka.
Berbagai diskusi tentang komunikasi digital menunjukkan bahwa pesan pembuka yang jelas dan sopan jauh lebih mungkin mendapat respons positif dibanding pesan yang ambigu. Namun, lebih dari soal peluang dibalas, ini adalah soal sikap.
Apakah kita bersedia meluangkan beberapa detik ekstra untuk menyapa dengan layak? Atau justru terbiasa mengambil jalan paling singkat, meski membingungkan orang lain?
Percakapan yang baik adalah investasi—bukan hanya untuk mendapat balasan, tetapi juga untuk membangun reputasi diri di ruang digital.
Kembali pada Esensi
Di balik setiap nomor WhatsApp, ada manusia dengan dunianya masing-masing. Ada yang sedang bekerja, ada yang mengurus keluarga, ada pula yang sedang beristirahat. Semua layak disapa dengan hormat.
Sebelum menekan tombol kirim dengan satu huruf “P”, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana perasaan saya jika menerima pesan seperti ini?
Huruf “P” memang gratis, tetapi kesopanan selalu punya nilai.
Itulah alasan saya tidak pernah membalas pesan “P”. Bukan karena merasa lebih tinggi, melainkan karena saya percaya: di tengah dunia yang serba cepat, keramahan tetap layak dipertahankan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P""
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang