
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah puasa hanya berdimensi spiritual atau di baliknya tersimpan mekanisme biologis yang juga menyehatkan tubuh?
Bagi umat Islam, puasa merupakan kewajiban sekaligus bentuk ibadah yang mencerminkan ketakwaan kepada Allah SWT. Setiap bulan Ramadan, umat Muslim menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari sebagai wujud ketaatan dan latihan pengendalian diri.
Namun di balik perintah tersebut, terdapat pula manfaat kesehatan yang menarik untuk dicermati dari sudut pandang ilmiah.
Salah satu konsep yang belakangan banyak dibahas dalam dunia medis adalah autophagy. Keterkaitan antara puasa dan autophagy memang belum banyak dipahami secara luas. Karena itu, tulisan ini mencoba menjelaskan hubungan keduanya secara ringkas dan proporsional.
Secara sederhana, autophagy adalah proses alami tubuh untuk “mendaur ulang” komponen sel yang rusak atau menurun fungsinya. Istilah ini mulai dikenal dalam bidang kesehatan dan genetika pada era 1960an.
Autophagy memungkinkan sel menghancurkan protein yang rusak, organel yang tidak lagi berfungsi optimal, serta patogen tertentu, sehingga membantu menjaga keseimbangan dan kesehatan sel serta mencegah penumpukan zat yang tidak diperlukan.
Pada dekade 1970an, para peneliti mulai memahami mekanisme autophagy, termasuk peran hormon seperti glukagon yang dapat memicunya. Diketahui pula bahwa asam amino tertentu justru menghambat proses ini.
Penelitian yang lebih mendalam dilakukan oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang sejak tahun 1990an meneliti mekanisme autophagy secara detail. Atas kontribusinya tersebut, ia dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran.
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Secara ilmiah, puasa dipandang sebagai salah satu pemicu autophagy yang efektif. Ketika tubuh tidak menerima asupan energi dari luar, terjadi perubahan prioritas metabolisme.
Energi yang sebelumnya digunakan untuk pertumbuhan dan penyimpanan akan dialihkan pada proses perbaikan serta daur ulang sel.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa autophagy mulai meningkat setelah tubuh berpuasa dalam rentang waktu tertentu.
Pada fase ini, kadar insulin dan glukosa menurun. Penurunan tersebut menjadi sinyal bagi tubuh untuk mulai memanfaatkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak sebagai sumber energi alternatif.
Dalam konteks kesehatan, proses ini memberikan sejumlah manfaat. Pembersihan sel-sel yang rusak termasuk mitokondria yang tidak lagi optimal dan protein yang salah lipat dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Dengan berkurangnya stres dan peradangan pada tingkat seluler, kesehatan secara umum dapat lebih terjaga.
Puasa juga diketahui dapat meningkatkan hormon pertumbuhan secara sementara, yang berperan dalam menjaga massa otot tetap sehat.
Selain itu, penurunan kadar insulin selama puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu regulasi gula darah. Autophagy yang terpicu juga berkontribusi pada pembaruan sel-sel imun, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat bekerja lebih efektif.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan puasa dengan penurunan risiko penyakit degeneratif, berkat proses daur ulang protein yang rusak dan berkurangnya inflamasi.
Nah, di samping itu, puasa memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat, membantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, serta mendukung fungsi ginjal.
Pada akhirnya, puasa Ramadan bukan hanya aktivitas spiritual yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah SWT, melatih kedisiplinan, serta menumbuhkan empati sosial. Ia juga membawa dampak positif bagi kesehatan fisik dan psikologis.
Dimensi ibadah dan dimensi ilmiah ini tidak perlu dipertentangkan; keduanya dapat berjalan beriringan, saling memperkaya pemahaman kita tentang makna puasa.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Puasa dan Autophagy"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang