Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Julianda Boang Manalu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Julianda Boang Manalu adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global

Kompas.com, 12 Maret 2026, 13:27 WIB

Namun seiring perkembangan globalisasi, perspektif terhadap mobilitas talenta mulai bergeser. Para peneliti kemudian memperkenalkan konsep brain circulation dan brain network, yang melihat mobilitas manusia tidak lagi semata sebagai kehilangan, melainkan sebagai potensi pertukaran pengetahuan yang lebih luas (Saxenian, 2005).

Dengan kata lain, seorang ilmuwan atau profesional yang bekerja di luar negeri tidak selalu berarti kehilangan bagi negara asal. Dalam banyak kasus, justru mereka dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai ekosistem pengetahuan di dunia.

Pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita sudah siap melihat kontribusi awardee LPDP dalam kerangka yang lebih luas seperti itu?

Dari Brain Drain Menuju Brain Network

Selama ini, diskusi mengenai diaspora intelektual sering terjebak dalam dua kutub: brain drain dan brain gain. Jika talenta pergi, kita khawatir kehilangan. Jika mereka pulang, kita merasa memperoleh kembali investasi yang pernah ditanamkan.

Namun perkembangan dunia menunjukkan bahwa realitasnya tidak sesederhana itu.

Konsep brain network menawarkan cara pandang yang lebih dinamis. Dalam kerangka ini, talenta yang tersebar di berbagai negara tidak dianggap sebagai kehilangan, melainkan sebagai simpul-simpul dalam jaringan pengetahuan global yang tetap dapat terhubung dengan negara asalnya.

Penelitian AnnaLee Saxenian tentang diaspora teknologi dari India dan Taiwan menunjukkan bahwa banyak inovasi teknologi di Silicon Valley justru lahir dari jaringan profesional lintas negara.

Para ilmuwan dan insinyur yang bekerja di Amerika Serikat tetap menjalin hubungan erat dengan institusi, perusahaan, dan universitas di negara asal mereka (Saxenian, 2005).

Melalui jaringan tersebut terjadi transfer pengetahuan, investasi, kolaborasi riset, hingga pembangunan ekosistem teknologi baru di negara asal.

Dalam konteks Indonesia, awardee LPDP sebenarnya memiliki potensi besar untuk memainkan peran serupa. Mereka tidak hanya belajar di kampus luar negeri, tetapi juga membangun relasi dengan profesor, peneliti, laboratorium, dan komunitas akademik global.

Relasi-relasi tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga. Jika dikelola dengan baik, jaringan ini dapat membuka peluang kolaborasi riset internasional, akses terhadap teknologi baru, hingga kerja sama institusional yang sebelumnya sulit dijangkau.

Sayangnya, diskusi publik sering kali masih melihat kontribusi dalam kerangka yang sangat sempit. Ukuran kontribusi kerap direduksi menjadi satu pertanyaan sederhana: apakah awardee pulang atau tidak.

Padahal kontribusi dapat hadir dalam banyak bentuk yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Awardee LPDP sebagai Diplomat Pengetahuan

Bayangkan seorang peneliti Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di sebuah universitas luar negeri. Selama masa studinya, ia terlibat dalam proyek penelitian internasional, mempublikasikan artikel ilmiah bersama tim peneliti dari berbagai negara, serta menghadiri konferensi akademik global.

Di ruang-ruang seperti itulah reputasi akademik sebuah negara ikut dipertaruhkan.

Ketika seorang mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan kapasitas intelektual yang kuat, secara tidak langsung ia membawa nama Indonesia dalam percakapan ilmiah dunia.

Dalam banyak kasus, kehadiran individu seperti ini bahkan membuka jalan bagi mahasiswa Indonesia lainnya untuk masuk ke jaringan akademik yang sama.

Peran semacam ini sering disebut sebagai knowledge diplomacy atau diplomasi pengetahuan. Tidak selalu muncul dalam headline berita, tetapi dampaknya bisa sangat signifikan dalam jangka panjang.

Awardee LPDP juga dapat menjadi penghubung bagi kolaborasi penelitian antara universitas luar negeri dengan kampus di Indonesia. Kolaborasi semacam ini dapat menghasilkan publikasi ilmiah bersama, program pertukaran mahasiswa, hingga proyek penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau