Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Julianda Boang Manalu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Julianda Boang Manalu adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global

Kompas.com, 12 Maret 2026, 13:27 WIB

Selain itu, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam berbagi pengetahuan. Webinar, kuliah daring, mentoring akademik, hingga komunitas riset virtual memungkinkan transfer pengetahuan terjadi tanpa harus menunggu seseorang kembali secara fisik ke tanah air.

Dalam konteks ini, kontribusi tidak lagi bersifat satu arah, tetapi menjadi proses yang terus berlangsung.

Seorang awardee yang berada di luar negeri tetap dapat mengalirkan ide, gagasan, dan jaringan yang dimilikinya untuk mendukung perkembangan ekosistem akademik di Indonesia.

Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa kepulangan tidak penting. Banyak sektor pembangunan memang membutuhkan kehadiran fisik para profesional di dalam negeri.

Namun menganggap bahwa kontribusi hanya sah jika seseorang pulang juga berisiko menutup potensi besar dari jaringan global yang sebenarnya dapat dimanfaatkan.

Menggeser Cara Kita Memahami Kontribusi

Kontroversi seperti kasus DS pada akhirnya menunjukkan satu hal: masyarakat Indonesia memiliki harapan besar terhadap para penerima beasiswa negara. Harapan itu lahir dari rasa kepemilikan bersama terhadap program pendidikan yang dibiayai oleh uang publik.

Harapan tersebut wajar dan bahkan perlu. Pendidikan memang bukan hanya investasi individu, tetapi juga investasi sosial.

Namun pada saat yang sama, kita juga perlu memperbarui cara memahami hubungan antara pendidikan global dan kontribusi nasional. Dunia saat ini semakin saling terhubung, dan jaringan pengetahuan tidak lagi mengikuti batas geografis yang kaku.

Kontribusi bagi bangsa tidak selalu berbentuk kepulangan fisik dengan membawa ijazah dari luar negeri. Dalam banyak kasus, kontribusi justru lahir dari kemampuan seseorang menjembatani berbagai ekosistem pengetahuan di dunia.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memanfaatkan jaringan diaspora intelektual yang tersebar di berbagai negara. Para awardee LPDP, alumni universitas luar negeri, hingga peneliti Indonesia di institusi internasional dapat menjadi simpul penting dalam jaringan tersebut.

Jika dikelola secara strategis, jaringan ini dapat mempercepat pertukaran pengetahuan, memperluas kolaborasi riset, serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta akademik global.

Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem yang memungkinkan hubungan tersebut tetap hidup bukan hanya melalui kewajiban administratif, tetapi melalui ruang kolaborasi yang nyata antara diaspora akademik dan institusi di dalam negeri.

Pada akhirnya, masa depan pembangunan berbasis pengetahuan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak orang yang pulang, tetapi juga pada seberapa kuat jaringan pengetahuan yang dapat kita bangun bersama.

Mungkin sudah saatnya kita beralih dari kecemasan tentang brain drain menuju optimisme tentang brain network. Dalam dunia yang semakin terhubung, talenta Indonesia di berbagai belahan dunia tidak harus dipandang sebagai kehilangan.

Sebaliknya, mereka dapat menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan arus besar pengetahuan global.

Dan jika jembatan itu dikelola dengan baik, kontribusinya mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dari Brain Drain ke Brain Network, Model Kontribusi Baru Awardee LPDP"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau