
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Melalui sudut pandang seperti yang pernah disampaikan sejarawan lokal Mas Heri Priyatmoko dari Komunitas Solo Societeit, keberadaan masyarakat Tionghoa di Wonogiri menunjukkan bahwa manusia selalu mencari rasa “rumah”, di mana pun mereka berada.
Dan bagi sebagian perantau itu, Wonogiri akhirnya menjadi rumah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Anatomi Pecinan Wonogiri
Pada awal abad ke-20, kawasan Pasar Kota Wonogiri tumbuh sebagai pusat perdagangan yang hidup. Di kawasan inilah Pecinan Wonogiri berkembang, membentuk ruang ekonomi sekaligus ruang budaya.
Bangunan-bangunan di kawasan tersebut umumnya berupa rumah toko atau shophouse dengan karakter khas Tionghoa. Namun menariknya, arsitektur itu telah beradaptasi dengan kondisi iklim Wonogiri yang panas dan kering.
Plafon bangunan dibuat tinggi agar sirkulasi udara tetap lancar. Jendela-jendela kayu besar dibuka lebar setiap pagi untuk mengurangi hawa panas.
Lantai bawah digunakan sebagai ruang usaha dan perdagangan, sementara bagian atas menjadi ruang tinggal keluarga sekaligus tempat menjaga tradisi leluhur.
Di tengah dominasi rumah-rumah warga lokal, bangunan Pecinan tampil dengan identitas yang khas. Atap melengkung menyerupai kipas atau ekor walet menjadi penanda budaya yang tetap dijaga meskipun jauh dari tanah asal.
Tata ruang kawasan ini juga memperlihatkan efisiensi yang menarik. Rumah-rumah dibangun rapat dan langsung menghadap jalan, menciptakan hubungan dekat antara aktivitas perdagangan dan ruang publik.
Gang-gang sempit yang saling terhubung menjadi jalur distribusi barang sekaligus ruang interaksi sosial masyarakat.
Di balik kepadatan tersebut, tersimpan filosofi keseimbangan yang kuat. Aktivitas ekonomi yang sibuk berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual dan keluarga yang dijaga dalam ruang-ruang privat di bagian dalam rumah.
Karena itu, Pecinan Wonogiri bukan sekadar kawasan perdagangan. Ia juga merupakan benteng budaya yang memperlihatkan bagaimana identitas Tionghoa dan kehidupan Jawa bertemu secara alami dalam keseharian.
Akulturasi yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari
Kisah keluarga Oei Wang Mien menjadi salah satu potret menarik dari perjalanan masyarakat Tionghoa di Wonogiri.
Mereka tidak sekadar tinggal sementara, tetapi benar-benar membangun kehidupan di sana. Anak-anak lahir dan tumbuh di tengah suasana Wonogiri, ditemani aroma Kimlo yang dijajakan sang ayah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, seiring waktu, keluarga ini melihat peluang yang lebih besar di Solo, tepatnya di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro yang sejak lama menjadi pusat perdagangan lintas etnis.
Di kota itu, Oei Wang Mien mulai menjual Kimlo dengan cara sederhana namun penuh ketekunan. Ia memikul dagangannya setiap hari, berjalan dari sekolah ke sekolah hingga kawasan Warung Pelem.
Dari perjalanan itulah kemudian lahir nama “Mien Satu”, yang hingga kini masih dikenal dalam sejarah kuliner Solo.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa akulturasi tidak selalu lahir dari peristiwa besar atau kebijakan resmi. Kadang, ia tumbuh dari makanan, perdagangan, dan interaksi sehari-hari yang berlangsung perlahan.