
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seporsi Kimlo yang dinikmati masyarakat hari ini sejatinya menyimpan perjalanan panjang tentang migrasi, kerinduan, dan kemampuan beradaptasi.
Gema yang Masih Tersisa di Sudut Pasar
Ketika kembali menyusuri kawasan Pasar Kota Wonogiri hari ini, ada suasana yang berbeda dibanding masa lalu.
Pada dekade 1990-an, kawasan tersebut masih dipenuhi pertokoan milik etnis Tionghoa. Pintu-pintu kayu besar dan rolling door besi yang dibuka setiap pagi menjadi bagian dari denyut ekonomi kota kecil itu.
Kini, banyak bangunan telah berganti fungsi dan kepemilikan. Spanduk modern menggantikan papan nama lama. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, jejak Pecinan itu sebenarnya belum sepenuhnya hilang.
Atap-atap melengkung, jendela kayu tinggi, hingga detail ornamen lama masih bertahan di beberapa sudut bangunan tua.
Di balik semua itu, tersimpan pula kenangan-kenangan personal yang sederhana namun membekas.
Salah satunya tentang sebuah toko mainan bernama Toko Sanur. Di masa ketika ATM belum mudah ditemukan dan transaksi masih mengandalkan uang tunai, hubungan antara pedagang dan pelanggan dibangun lewat kepercayaan.
Pemilik toko yang akrab dipanggil “Cik” pernah mengizinkan seorang nenek membawa pulang mainan untuk cucunya terlebih dahulu, dengan janji pembayaran dilakukan keesokan harinya saat kembali ke pasar.
“Gowonen sik wae, bayare sesuk pas ning pasar meneh.”
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran tentang hubungan sosial yang hangat antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa di Wonogiri.
Tidak ada sekat yang kaku. Yang ada justru rasa saling percaya dan penghargaan satu sama lain.
Mungkin toko itu kini sudah berubah, atau sang pemilik sudah lama tiada. Namun, kenangan tentang kebaikan tersebut tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Bukan hanya tentang bangunan tua, perdagangan, atau jejak migrasi, tetapi tentang bagaimana manusia dari latar belakang berbeda pernah hidup berdampingan, berbagi ruang, dan saling memberi tempat dalam kehidupan sehari-hari.
Wonogiri mungkin terus berubah. Namun, jejak sejarah yang tertanam di sela batu karang, gang sempit, dan toko-toko tua itu tampaknya akan selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap dikenang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menelusuri Fragmen Akulturasi Pecinan di Kota Gaplek Abad XX"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang