
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana rasanya menjadi guru produktif di sebuah jurusan SMK yang perlahan kehilangan siswa? Bagaimana dampaknya bagi murid ketika jurusan yang dipilih ternyata tidak benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja?
Kegalauan Berantai di Balik Kursi Kosong SMK
Membuka jurusan baru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kerap dianggap sebagai langkah strategis untuk menarik minat calon siswa dan orang tua.
Tema-tema yang sedang berkembang seperti digitalisasi, energi terbarukan, hingga ekonomi kreatif sering dijadikan daya tarik utama dalam promosi sekolah.
Sekilas, langkah tersebut tampak relevan dengan perkembangan zaman. Sekolah ingin terlihat adaptif dan mampu menjawab kebutuhan masa depan. Namun, di balik spanduk promosi yang tampak menjanjikan, ada tantangan besar yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Membuka jurusan baru bukan hanya soal menambah pilihan, tetapi juga menyangkut kesiapan ekosistem pendidikan secara menyeluruh.
Jika tidak direncanakan dengan matang, kondisi ini dapat memunculkan persoalan yang berdampak panjang, mulai dari siswa, fasilitas sekolah, hingga para guru produktif yang menjadi ujung tombak pembelajaran kejuruan.
Selama ini, pendidikan vokasi masih sering dihadapkan pada orientasi kuantitas, berapa banyak jurusan yang dibuka dibanding kualitas keterhubungan dengan dunia kerja. Padahal, membuka jurusan tanpa analisis kebutuhan industri ibarat membangun jalan tanpa memastikan tujuan akhirnya.
Konsep link and match yang selama ini digaungkan seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administrasi atau kerja sama simbolis semata.
Lebih dari itu, konsep tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk hubungan nyata antara sekolah dan dunia industri, mulai dari penyusunan kurikulum hingga peluang kerja bagi lulusan.
Dampak pertama tentu dirasakan oleh siswa. Ketika sebuah jurusan dibuka tanpa dukungan ekosistem industri yang memadai, siswa berisiko mempelajari keterampilan yang kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Mereka belajar dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik, tetapi pada akhirnya justru dihadapkan pada ketidakpastian.
Tidak sedikit lulusan SMK yang akhirnya kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi yang dipelajari. Dalam situasi seperti ini, sekolah yang seharusnya menjadi jembatan menuju dunia kerja justru berpotensi menjadi ruang tunggu yang penuh kegelisahan.
Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri juga perlahan dapat menurunkan kepercayaan dunia usaha terhadap sekolah.
Kesempatan praktik kerja lapangan (PKL) menjadi semakin terbatas, peluang rekrutmen berkurang, dan reputasi sekolah ikut terdampak.
Ketika hal itu terjadi terus-menerus, jurusan yang sebelumnya dibuka dengan optimisme perlahan kehilangan peminat. Ruang kelas mulai menyisakan kursi kosong, sementara semangat untuk berkembang ikut melemah.