Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Syahrial
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Syahrial adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban

Kompas.com, 17 Mei 2026, 13:01 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana rasanya menjadi guru produktif di sebuah jurusan SMK yang perlahan kehilangan siswa? Bagaimana dampaknya bagi murid ketika jurusan yang dipilih ternyata tidak benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja?

Kegalauan Berantai di Balik Kursi Kosong SMK

Membuka jurusan baru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kerap dianggap sebagai langkah strategis untuk menarik minat calon siswa dan orang tua.

Tema-tema yang sedang berkembang seperti digitalisasi, energi terbarukan, hingga ekonomi kreatif sering dijadikan daya tarik utama dalam promosi sekolah.

Sekilas, langkah tersebut tampak relevan dengan perkembangan zaman. Sekolah ingin terlihat adaptif dan mampu menjawab kebutuhan masa depan. Namun, di balik spanduk promosi yang tampak menjanjikan, ada tantangan besar yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Membuka jurusan baru bukan hanya soal menambah pilihan, tetapi juga menyangkut kesiapan ekosistem pendidikan secara menyeluruh.

Jika tidak direncanakan dengan matang, kondisi ini dapat memunculkan persoalan yang berdampak panjang, mulai dari siswa, fasilitas sekolah, hingga para guru produktif yang menjadi ujung tombak pembelajaran kejuruan.

Selama ini, pendidikan vokasi masih sering dihadapkan pada orientasi kuantitas, berapa banyak jurusan yang dibuka dibanding kualitas keterhubungan dengan dunia kerja. Padahal, membuka jurusan tanpa analisis kebutuhan industri ibarat membangun jalan tanpa memastikan tujuan akhirnya.

Konsep link and match yang selama ini digaungkan seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administrasi atau kerja sama simbolis semata.

Lebih dari itu, konsep tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk hubungan nyata antara sekolah dan dunia industri, mulai dari penyusunan kurikulum hingga peluang kerja bagi lulusan.

Dampak pertama tentu dirasakan oleh siswa. Ketika sebuah jurusan dibuka tanpa dukungan ekosistem industri yang memadai, siswa berisiko mempelajari keterampilan yang kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Mereka belajar dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik, tetapi pada akhirnya justru dihadapkan pada ketidakpastian.

Tidak sedikit lulusan SMK yang akhirnya kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi yang dipelajari. Dalam situasi seperti ini, sekolah yang seharusnya menjadi jembatan menuju dunia kerja justru berpotensi menjadi ruang tunggu yang penuh kegelisahan.

Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri juga perlahan dapat menurunkan kepercayaan dunia usaha terhadap sekolah.

Kesempatan praktik kerja lapangan (PKL) menjadi semakin terbatas, peluang rekrutmen berkurang, dan reputasi sekolah ikut terdampak.

Ketika hal itu terjadi terus-menerus, jurusan yang sebelumnya dibuka dengan optimisme perlahan kehilangan peminat. Ruang kelas mulai menyisakan kursi kosong, sementara semangat untuk berkembang ikut melemah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Kata Netizen
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Kata Netizen
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan 'Kehidupan Baru' di Rumah
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan "Kehidupan Baru" di Rumah
Kata Netizen
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau