Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yamin Mohamad
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yamin Mohamad adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Alam untuk Alam, Kelompok Tani Semu Dane Desa Pengembur

Kompas.com - 31/07/2024, 14:59 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika menghampiri kegitan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Minggu, 28 Juli 2024, tengah menjalani salah satu mata kuliah itu dengan berbagai program.

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 45 hari sebanyak 10 orang mahasiswa di Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Sepanjang jalan dan sejauh mata memandang di Desa Pengembur tampak hamparan persawahan yang landai. Sebagian persawahan itu terlihat kerontang, hanya terlihat sisa batang padi yang telah dipanen.

Sebagian lainnya mulai hijau dengan tanaman tembakau. Sedangkan sisi-sisi lainnya ada tanaman semangka, kedelai, dan hortikultura yang menjadi andalan para petani.

Desa Pengembur memiliki wilayah yang cukup luas. Desa ini terletak di sebelah selatan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (Bizam), Praya, Lombok Tengah. Jarak tempuh dari Bandara ke Desa Pengembur sekitar 8 km.

Nah, di sini menariknya, keberadaan Kelompok Tani Semu Dane yang mewadahi para petani di desa tersebut.

Pajarudin, Ketua kelompok Tani yang berusia mendekati 70 tahun tergopoh-gopoh menyambut kedatangan dengan ramah menyapa ketika baru pulang dari sawah.

Kopi dihidangkan di atas meja bundar dan kursi yang terbuat dari ban bekas. Sedangkan di halamannya terhampar juga selembar terpal berwarna oranye melingkupi dua buah traktor.

Itu merupakan alat pertanian bantuan dari dinas pertanian Kabupaten setempat. Kelompok Tani yang dikelola Pak Pajarudin beranggotakan sekitar 40 orang.

Melalui kelompok tani itu, Pajarudin berusaha memberikan edukasi kepada anggota dan masyarakat setempat untuk melakukan perawatan tanaman secara organik dengan memanfaatkan produk berbahan alami.

Pajar menunjukkan salah satu botol pupuk cair yang dibuat dan diproduksi sendiri. Semua bahan pupuk itu diambil dari alam sekitar. Bahannya berupa akar bambu, kapur Sirih, terasi, molase (gula), penyedap makanan (vetsin), dan air kelapa/air cucian beras.

Produk lain yang dihasilkan Pajar bersama kelompoknya berupa pestisida nabati. Sama dengan pupuk pestisida organik itu dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada, seperti, gadung, biji atau daun mimba, lengkuas, dan kunyit.

Lelaki itu rupanya paham betul soal tetek bengek pertanian. Saat menyebut tentang asam amino, misalnya, Pak Pajar mengaku terbiasa memproduksi sendiri.

Asam amino, menurutnya, merupakan pengganti pupuk NPK yang berfungsi meningkatkan kualitas rasa tanaman, mempercepat proses pembungaan dan pembuahan tanaman, hingga meningkatkan berat atau bobot biji dan buah tanaman.

Bahan asam amino yang dibuat Pak Pajar terdiri dari buah nanas muda, pisang yang telah matang, ikan lele/ikan teri, eceng gondok, dan molase/gula, EM.4, dan Air cucian beras.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

'Selain Donatur Dilarang Mengatur', untuk Siapa Pernyataan Ini?

"Selain Donatur Dilarang Mengatur", untuk Siapa Pernyataan Ini?

Kata Netizen
Kenapa Mesti Belajar Menolak dan Bilang 'Tidak'?

Kenapa Mesti Belajar Menolak dan Bilang "Tidak"?

Kata Netizen
'Fatherless' bagi Anak Laki-laki dan Perempuan

"Fatherless" bagi Anak Laki-laki dan Perempuan

Kata Netizen
Mudik Backpacker, Jejak Karbon, dan Cerita Perjalanan

Mudik Backpacker, Jejak Karbon, dan Cerita Perjalanan

Kata Netizen
Antara RTB dan Kualitas Hidup Warga Jakarta?

Antara RTB dan Kualitas Hidup Warga Jakarta?

Kata Netizen
Apa yang Membuat Hidup Sederhana Jadi Pilihan?

Apa yang Membuat Hidup Sederhana Jadi Pilihan?

Kata Netizen
Pembelajaran dari Ramadan, Minim Sampah dari Dapur

Pembelajaran dari Ramadan, Minim Sampah dari Dapur

Kata Netizen
Bagaimana Premanisme Bisa Hidup di Tengah Kehidupan?

Bagaimana Premanisme Bisa Hidup di Tengah Kehidupan?

Kata Netizen
Kasus Konstipasi Meningkat Selama Puasa, Ini Solusinya!

Kasus Konstipasi Meningkat Selama Puasa, Ini Solusinya!

Kata Netizen
Zakat di Sekolah, Apa dan Bagaimana Caranya?

Zakat di Sekolah, Apa dan Bagaimana Caranya?

Kata Netizen
Kesiapan Tana Toraja Sambut Arus Mudik Lebaran

Kesiapan Tana Toraja Sambut Arus Mudik Lebaran

Kata Netizen
Ada Halte Semu bagi Pasien Demensia di Jerman

Ada Halte Semu bagi Pasien Demensia di Jerman

Kata Netizen
Memberi Parsel Lebaran, Lebih dari Sekadar Berbagi

Memberi Parsel Lebaran, Lebih dari Sekadar Berbagi

Kata Netizen
Melihat Kota Depok Sebelum dan Setelah Lebaran

Melihat Kota Depok Sebelum dan Setelah Lebaran

Kata Netizen
'Mindful Eating' di Bulan Ramadan dan Potensi Perubahan Iklim

"Mindful Eating" di Bulan Ramadan dan Potensi Perubahan Iklim

Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau