Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Niko L
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Niko L adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Keamanan Siber yang Masih Kerap Dianaktirikan

Kompas.com, 25 Februari 2024, 19:00 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Salah satu isu penting yang sering luput dibahas oleh calon pemimpin negara ini adalah soal keamanan informasi, terutama keamanan siber (Cyber Security).

Isu keamanan dunia maya ini nampaknya memang tidak begitu populer dan sering mendapat perhatian para pemangku kekuasaan kita. Padahal masalah keamanan siber ini begitu penting demi menjaga kedaulatan negara kita dari berbagai serangan siber.

Ruang Siber: Antara Keamanan dan Ancaman

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa keamanan diartikan sebagai kondisi ketika tidak ada ancaman yang signifikan terhadap individu, masyarakat, lingkungan, negara, dan institusi lainnya, termasuk ideologi.

Ancaman mungkin tetap ada, namun dengan kontrol yang memadai. Konsep keamanan tidak hanya terbatas pada ancaman fisik seperti serangan militer, tetapi juga melibatkan tantangan dunia maya.

Keamanan siber, dalam perspektif ini, merujuk pada upaya untuk menjaga "sistem, jaringan, dan program dari serangan digital" (Sumber: www.its.ac.id).

Di dunia maya, pelaku kriminal seringkali memanfaatkan kelemahan sistem untuk mencuri, mengubah, dan menyalahgunakan informasi penting. Pemerasan, pencurian data bisnis, hingga disinformasi demi tujuan politik adalah beberapa bentuk ancaman yang kerap terjadi di berbagai negara.

Ancaman ini tidak mengenal batasan. Individu, lembaga sosial, hingga kementerian pertahanan dengan sistem keamanan siber yang kuat pun bisa menjadi sasaran. Dampak dari pencurian data pribadi bisa merugikan korban secara pribadi, menyebabkan depresi, bahkan hingga bunuh diri.

Tantangan Keamanan Siber di Indonesia

Indonesia, dengan jumlah penduduk yang besar dan pasar yang dinamis, menjadi target empuk bagi kejahatan siber. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat 700 juta serangan siber terjadi di Indonesia selama tahun 2022. Modus operandi umum melibatkan ransomware dan malware untuk pemerasan dan tebusan.

Hanya pada Januari 2022, tercatat ada 272.962.734 kasus serangan siber (Sumber: kompas.id). Data lain mencatat bahwa antara Januari-September 2021, kejahatan siber melibatkan penipuan (4601 kasus), pengancaman (3101 kasus), pencemaran (30101 kasus), dan pemerasan (1606 kasus).

Pencurian data tidak hanya merugikan individu, tetapi juga perusahaan dan lembaga pelayanan umum. Kejadian serius seperti kebocoran data BPJS tahun 2021, pembobolan data peserta asuransi BRI Life, dan serangan terhadap jaringan pemerintah pada September 2021 menjadi bukti ketidakamanan siber yang meresahkan.

Indeks Keamanan Siber dari National Cyber Security Index (NCSI) menempatkan Indonesia di peringkat 83 dari 160 negara. Skor indeks keamanan siber sebesar 38,96 dan tingkat pengembangan digital mencapai 46,84. Ketidakamanan ini disebabkan oleh sistem jaringan yang rentan, tata kelola keamanan internet yang kurang memadai, dan minimnya literasi pengguna internet.

Literasi Digital sebagai Benteng Pertahanan Terhadap Kejahatan Siber

Selain keamanan infrastruktur, literasi digital menjadi kunci untuk menghadapi ancaman kejahatan siber. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan dalam pembelajaran, bersosialisasi, berpikir kritis, dan kreatif seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

UNESCO mendefinisikan literasi digital sebagai keterampilan hidup yang mencakup "Kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, serta kapasitas dalam pembelajaran, bersosialisasi, berpikir kritis, dan kreatif" (Budianto, 2022).

Empat kompetensi literasi digital yang perlu dikembangkan adalah kecakapan bermedia digital, budaya bermedia digital, etika bermedia digital, dan keamanan bermedia digital. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan internet seringkali dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Staf di lembaga publik, terutama yang menangani data warga negara yang sensitif, perlu memiliki literasi digital yang memadai. Keamanan informasi publik menjadi landasan keamanan nasional. Keteledoran dalam penggunaan internet oleh aparatur negara dapat membahayakan keamanan nasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau