Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rania Wahyono
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rania Wahyono adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kenapa Mesti Belajar Menolak dan Bilang "Tidak"?

Kompas.com, 31 Maret 2025, 14:23 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Jika mereka benar-benar teman atau kolega yang baik, mereka akan menghormati keputusanmu. Jangan takut bahwa menolak akan merusak hubungan. Justru batasan yang jelas bisa membuat hubungan lebih sehat.

3. Utamakan Self-Care

Self-care di sini bukan hanya soal makan makanan sehat atau rutin olahraga, tapi termasuk menjaga dirimu sendiri dari stres. Mengatakan "tidak" bukan hanya soal menolak permintaan orang lain, tapi juga soal tentang menjaga emosional, kesehatan mental dan menjaga keseimbangan hidupmu.

Jika kamu terus berkata "iya" demi menyenangkan orang lain, lama-lama kamu akan kehilangan waktu untuk dirimu sendiri. Kesempatanmu untuk mendapatkan kesenangan dari hal-hal yang kamu sukai jadi berkurang karena selalu mengikuti orang lain bukan mengikuti keinginanmu sendiri.

4. Mulai dari Hal-Hal Kecil

Jika selama ini kamu menjadi orang yang sangat baik, berusaha menyenangkan semua orang (people pleasure) selalu menjadi Yes Man. Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi bagimu untuk menolak dalam situasi besar seperti kepada bos, pacar, pasangan dan keluarga. Jadi cobalah mulai dari hal-hal kecil.

Pilih situasi umum yang enggak terlalu signifikan untuk belajar bilang "tidak". Contohnya, saat Kasir di Minimarket menawarkan produk diskon, alih-alih bilang "Nggak dulu" atau "Nanti deh Mbak." Coba kamu jawab dengan lebih lugas "Nggak Mbak, sorry terima kasih" 

Atau ketika ada sales yang menawarkan produk, jangan bilang "Nanti saya pikirkan," coba langsung katakan, "Maaf, saya tidak tertarik. Terima kasih." Lama-kelamaan kemampuanmu untuk berkata “tidak” akan meningkat, dan rasa bersalah setelahnya pun akan berkurang

Mulailah dari hal-hal yang kecil, perlahan-lahan kamu akan lebih nyaman mengatakan "tidak" tanpa merasa bersalah dan rasa nggak enakan yang muncul akan semakin berkurang.

*****

Berani berkata "tidak" bukan berarti menjadi orang yang kasar atau egois. Sebaliknya, ini tentang menghargai diri sendiri dan bagian dari menjaga kesejahteraan dirimu sendiri.

Kamu tidak bisa menghindari fakta bahwa akan selalu ada orang yang ingin memanfaatkan kebaikanmu dan selalu ada orang yang hanya peduli terhadap dirinya sendiri. Mereka akan selalu mencari celah untuk memanfaatkan dirimu.

Jika kamu terus mengiyakan semua permintaan, bisa jadi kamu akan kehilangan waktu untuk hal-hal yang sebenarnya penting bagi dirimu sendiri dan berisiko kehilangan energi serta kebahagiaanmu. 

Jadi mulai sekarang, berlatihlah mengatakan "tidak" untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan prioritasmu dengan percaya diri. Hidup akan lebih sehat, lebih seimbang, dan lebih bahagia.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saatnya Berani Bilang "Tidak""

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau