Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
andry natawijaya
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Tentang Anggaran pada Awal Tahun Ajaran Sekolah

Kompas.com, 11 Juli 2025, 13:25 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Setiap kali masuk tahun ajaran baru, baik itu sekadar naik angkatan maupun naik tingkat, pasti permasalahan anggaran tidak bisa dikesampingkan.

Mengutip yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel "Anak Semua Bangsa", salah satu tokoh utama, Minke, berkata, "Di sini, kami, anak semua bangsa, belajar menjadi manusia merdeka."

Jika melihat dari pandangan tersebut, pendidikan tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan.

Jika dahulu, pendidikan di sekolah menjadi bagian dari perjuangan, maka di masa ini sekolah menjadi media pembentukan karakter manusia untuk membangun kemajuan negara, hanya saja di masa kini banyak tantangan pendidikan di sekolah terkendala biaya.

Meminjam data BPS, standar hidup layak di Indonesia pada tahun 2024 adalah Rp12,34 juta per tahun, atau sekitar Rp1,02 juta per bulan, dan itu termasuk pendidikan. Tetapi nyatanya masalah biaya pendidikan atau sekolah kerap disinggung mahal.

Biaya pendidikan, terutama di sekolah swasta atau sekolah dengan fasilitas unggulan, seringkali jauh lebih tinggi dari standar BPS, dan setiap tahun selalu naik lantaran terbawa inflasi.

Memang sekolah negeri menggratiskan para peserta didik atau murid, tapi masih ada biaya lainnya.

Akhirnya, setiap tahun ajaran baru tiba, topik bayar sekolah selalu menjadi bahan perbincangan seru.

Selain proses daftar sekolah negeri yang banyak dikeluhkan ruwet, biaya sekolah juga menambah beban pengeluaran para orangtua. Sepertinya menyongsong tahun ajaran baru sama dengan mengeluarkan rupiah. Fight back to school, seakan kembali ke sekolah layaknya perjuangan.

Masuk Sekolah, Keluar Rupiah

Nyatanya perlu perjuangan keras mengupayakan anak mendapat pendidikan layak, sekolah negeri yang digadang-gadang terbuka bagi semua kalangan, nyatanya untuk mendaftar saja berebut, kuotanya sangat terbatas, alternatifnya jelas mendaftar ke sekolah swasta, di sinilah uang berbicara.

Wajar jika orangtua mengupayakan supaya anaknya mendapatkan akses pendidikan terbaik, bagi kalangan kategori berpenghasilan tinggi atau mampu, soal biaya mungkin tidak jadi kendala, namun lain cerita di kalangan ekonomi menengah ke bawah. 

Ironi, ketika pembangunan SDM diperlukan sebagai bekal aset bangsa, ternyata terjadi ketimpangan kualitas pendidikan anak-anak, dan jelas memperlebar kesenjangan sosial ekonomi masyarakat.

Data Survei Litbang Kompas menunjukkan beban biaya masuk sekolah swasta tahun ajaran 2024/2025, rata-rata Sekolah Dasar (SD) di Jabodetabek membutuhkan biaya Rp5-15 juta, SMP Rp10-25 juta, SMA menyedot anggaran Rp20-40 juta, dengan biaya SPP bulanan mencapai Rp300 ribu -- 3 juta. Belum lagi biaya seragam, buku dan biaya entah apalagi yang akhirnya harus keluar banyak uang.

Jumlah yang besar bagi keluarga menengah, terlebih di tengah impitan tuntutan harga bahan pokok yang serba melejit.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau