
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bukan perkara sepele, lantaran jika mengacu data OCBC NISP Financial Fitness Index 2023, dari 3 orangtua hanya 1 orang sudah mempersiapkan dana pendidikan, sementara 48% rumah tangga urban kelas menengah tiap awal masuk sekolah mengaku sulit mengelola biaya sekolah anak secara tunai dan 40% orangtua di kota besar mulai berpikir skema pembiayaan cicilan pendidikan atau berutang.
Solusi, Pinjol Masuk Sekolah?
Konon, di zaman modern, teknologi selalu menjadi solusi, demikian juga nampaknya di ranah pendidikan menyangkut kebutuhan dana, pinjol hadir menawarkan solusi.
Nyatanya ada beberapa pinjol yang berinisiatif menjajakan pendanaan melalui sekolah, nama seperti Danacita, Pintek atau malah yang terafiliasi dengan bank pelat merah, sudah mengendus pangsa pasar di tingkat sekolah.
Skemanya adalah Direct to School (Dts), mirip cara channelling di sektor lembaga jasa keuangan, pinjol bekerja sama dengan pihak sekolah memberikan fasilitas kepada orangtua murid.
Dana disediakan pinjol, kemudian seleksi kelayakan dilakukan pihak sekolah, selanjutnya jika disetujui dana digunakan untuk pembiayaan pendidikan, artinya sekolah menerima uang atas nama murid.
Proses pembayaran angsuran bisa disetor orangtua ke pihak sekolah atau ke pinjol, tergantung kesepakatan.
Memang bisa jadi solusi, namun cara ini perlu diperhatikan karena ada kesan komersialisasi pendidikan karena pinjaman semacam ini pasti dikenakan bunga lumayan tinggi, salah satu pinjol menawarkan hingga 1,7% per bulan, tinggal dikalikan saja dengan masa pinjaman untuk mengetahui total bunga. Untuk jangka waktu 6 bulan totalnya adalah 10,2%.
Skema DtS sudah tentu tidak akan merata bisa diterapkan di semua sekolah, pihak pinjol pasti akan sangat selektif, karena menghindari risiko kredit bermasalah. Risiko lainnya adalah pihak sekolah bisa ikut terkena risiko reputasi jika mitra pinjolnya terkena kasus.
Potensi masalah lain adalah jika orangtua yang menunggak, selain reputasi sekolah, siswa terkait bisa menjadi korban perundungan karena dianggap orangtuanya berutang, hal seperti ini hanya akan menimbulkan persoalan lain di kalangan sekolah.
Strategi Pembiayaan Lain
Ada baiknya mempelajari skema pendanaan publik, cara ini sudah lama diterapkan di negara lain, seperti di Amerika Serikat, sekolah aktif mencari sumber pendanaan alternatif, seperti dana hibah dari yayasan, donasi dari alumni, dan kerja sama dengan industri. Dana-dana ini seringkali digunakan untuk mendukung program-program khusus, penelitian, atau pengadaan fasilitas yang tidak sepenuhnya didanai oleh pemerintah.
Mengembangkan koperasi dan unit usaha sekolah juga dapat ditempuh, sekolah membuka usaha mandiri sebagai sumber dana sosial atau subsidi biaya pendidikan, laba disisihkan untuk kas beasiswa atau subsidi siswa tak mampu. Koperasi juga berperan sebagai sarana simpan pinjam, sehingga bisa memberikan fasilitas pinjaman kepada orangtua murid untuk keperluan biaya sekolah.
Skema cicilan internal sekolah, opsi angsuran biaya masuk hingga 6--12 bulan tanpa bunga, semuanya disepakati antara pihak sekolah dan orangtua, melalui pendekatan personal, orangtua bisa mengajukan permohonan angsuran sesuai kondisi keuangan.
Beasiswa, praktik ini sudah banyak diterapkan, sangat membantu siswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan biaya sekolah. Menyediakan beasiswa parsial dan penuh dari donasi orangtua murid kategori mampu, alumni, dan dana CSR internal.