Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
andry natawijaya
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Tentang Anggaran pada Awal Tahun Ajaran Sekolah

Kompas.com, 11 Juli 2025, 13:25 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bukan perkara sepele, lantaran jika mengacu data OCBC NISP Financial Fitness Index 2023, dari 3 orangtua hanya 1 orang sudah mempersiapkan dana pendidikan, sementara 48% rumah tangga urban kelas menengah tiap awal masuk sekolah mengaku sulit mengelola biaya sekolah anak secara tunai dan 40% orangtua di kota besar mulai berpikir skema pembiayaan cicilan pendidikan atau berutang.

Solusi, Pinjol Masuk Sekolah?

Konon, di zaman modern, teknologi selalu menjadi solusi, demikian juga nampaknya di ranah pendidikan menyangkut kebutuhan dana, pinjol hadir menawarkan solusi.

Nyatanya ada beberapa pinjol yang berinisiatif menjajakan pendanaan melalui sekolah, nama seperti Danacita, Pintek atau malah yang terafiliasi dengan bank pelat merah, sudah mengendus pangsa pasar di tingkat sekolah.

Skemanya adalah Direct to School (Dts), mirip cara channelling di sektor lembaga jasa keuangan, pinjol bekerja sama dengan pihak sekolah memberikan fasilitas kepada orangtua murid.

Dana disediakan pinjol, kemudian seleksi kelayakan dilakukan pihak sekolah, selanjutnya jika disetujui dana digunakan untuk pembiayaan pendidikan, artinya sekolah menerima uang atas nama murid.

Proses pembayaran angsuran bisa disetor orangtua ke pihak sekolah atau ke pinjol, tergantung kesepakatan.

Memang bisa jadi solusi, namun cara ini perlu diperhatikan karena ada kesan komersialisasi pendidikan karena pinjaman semacam ini pasti dikenakan bunga lumayan tinggi, salah satu pinjol menawarkan hingga 1,7% per bulan, tinggal dikalikan saja dengan masa pinjaman untuk mengetahui total bunga. Untuk jangka waktu 6 bulan totalnya adalah 10,2%.

Skema DtS sudah tentu tidak akan merata bisa diterapkan di semua sekolah, pihak pinjol pasti akan sangat selektif, karena menghindari risiko kredit bermasalah. Risiko lainnya adalah pihak sekolah bisa ikut terkena risiko reputasi jika mitra pinjolnya terkena kasus.

Potensi masalah lain adalah jika orangtua yang menunggak, selain reputasi sekolah, siswa terkait bisa menjadi korban perundungan karena dianggap orangtuanya berutang, hal seperti ini hanya akan menimbulkan persoalan lain di kalangan sekolah.

Strategi Pembiayaan Lain

Ada baiknya mempelajari skema pendanaan publik, cara ini sudah lama diterapkan di negara lain, seperti di Amerika Serikat, sekolah aktif mencari sumber pendanaan alternatif, seperti dana hibah dari yayasan, donasi dari alumni, dan kerja sama dengan industri. Dana-dana ini seringkali digunakan untuk mendukung program-program khusus, penelitian, atau pengadaan fasilitas yang tidak sepenuhnya didanai oleh pemerintah.

Mengembangkan koperasi dan unit usaha sekolah juga dapat ditempuh, sekolah membuka usaha mandiri sebagai sumber dana sosial atau subsidi biaya pendidikan, laba disisihkan untuk kas beasiswa atau subsidi siswa tak mampu. Koperasi juga berperan sebagai sarana simpan pinjam, sehingga bisa memberikan fasilitas pinjaman kepada orangtua murid untuk keperluan biaya sekolah.

Skema cicilan internal sekolah, opsi angsuran biaya masuk hingga 6--12 bulan tanpa bunga, semuanya disepakati antara pihak sekolah dan orangtua, melalui pendekatan personal, orangtua bisa mengajukan permohonan angsuran sesuai kondisi keuangan.

Beasiswa, praktik ini sudah banyak diterapkan, sangat membantu siswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan biaya sekolah. Menyediakan beasiswa parsial dan penuh dari donasi orangtua murid kategori mampu, alumni, dan dana CSR internal.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau