
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bukan karena alergi atau kondisi kesehatan, melainkan karena rasa dan selera. Anak-anak dikenal jujur dalam urusan makan. Jika tidak cocok, makanan akan ditinggalkan begitu saja.
Pada titik inilah guru kerap memikul peran tambahan yang tak tertulis dalam aturan apa pun: mengecek sisa MBG, mengumpulkannya, memastikan tidak tercecer, hingga mencari solusi agar makanan tidak terbuang sia-sia.
Aktivitas ini memang dilakukan dengan niat baik, tetapi dalam praktiknya menyita waktu dan energi yang seharusnya bisa difokuskan pada tugas utama mengajar.
PR Rasa dan Menu
Sebagus apa pun desain sebuah program, pelaksanaan di lapangan menjadi penentu keberhasilannya. MBG tidak terkecuali. Salah satu catatan yang berulang kali muncul adalah soal rasa dan variasi menu.
Tujuan MBG jelas dan mulia: meningkatkan asupan gizi, energi, dan konsentrasi siswa selama belajar.
Namun tujuan ini akan sulit tercapai jika makanan tidak dimakan. Ketika paket MBG dibiarkan utuh, nutrisi tidak terserap, anggaran terbuang, dan persoalan baru muncul di sekolah.
Keluhan tentang rasa memang tidak selalu disuarakan secara formal, tetapi terlihat jelas dari sisa makanan yang menumpuk.
Sebaliknya, di beberapa kesempatan, menu tertentu justru selalu habis dan bahkan dinantikan. Fakta ini menunjukkan bahwa rasa dan kesesuaian menu dengan selera siswa memegang peranan penting.
Evaluasi dari pihak penyedia, termasuk SPPG, menjadi krusial. Bukan untuk mengurangi nilai gizi, melainkan untuk memastikan gizi tersebut benar-benar masuk ke tubuh siswa.
Variasi menu, cara penyajian, hingga penyesuaian dengan kebiasaan makan anak-anak perlu terus diperhatikan.
Menjaga Niat Baik agar Tidak Terbuang
MBG adalah program dengan niat baik dan dampak potensial yang besar. Siswa yang kenyang cenderung lebih siap belajar. Energi yang cukup membantu menjaga fokus, sementara perut yang terisi membuat suasana kelas lebih kondusif.
Namun seperti semua kebijakan publik, MBG membutuhkan ruang evaluasi yang berkelanjutan. Sekolah sebagai ruang nyata pelaksanaan program seharusnya menjadi sumber umpan balik yang didengar.
Survei sederhana tentang menu, dialog dengan siswa, atau forum evaluasi kecil bisa menjadi langkah awal yang efektif.