
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah benar penggunaan genteng dapat menjadi solusi seragam untuk memperindah kota-kota di Indonesia? Ataukah kondisi geografis, iklim, dan risiko bencana justru menuntut pendekatan yang lebih adaptif dalam memilih atap rumah?
Dalam sebuah rapat koordinasi nasional kepala daerah, sempat muncul usulan agar penggunaan genteng diperluas demi memperindah wajah kota. Pesannya sederhana: kota yang ingin terlihat rapi dan menarik dapat mendorong penggunaan atap genteng.
Namun, pilihan atap sejatinya bukan semata soal estetika atau tradisi. Di Pulau Jawa, genteng tanah liat memang mendominasi. Dari kawasan perdesaan hingga perkotaan, hunian beratap genteng mudah dijumpai. Akan tetapi, jika menengok bentang Indonesia dari Sabang hingga Merauke, anggapan bahwa genteng adalah solusi universal patut ditinjau kembali.
Perbedaan kondisi geografis, iklim, serta tingkat kerawanan bencana membuat setiap wilayah memiliki kebutuhan yang berbeda.
Wilayah Rawan Gempa dan Beban Struktur
Indonesia berada di jalur Ring of Fire atau cincin api, kawasan dengan aktivitas seismik tinggi. Daerah seperti Palu, Gunungsitoli (Nias), dan Yogyakarta termasuk wilayah yang kerap mengalami gempa.
Dalam konteks ini, beban atap menjadi faktor krusial dalam keselamatan bangunan. Genteng tanah liat maupun beton memiliki bobot yang relatif berat. Ketika gempa besar terjadi, struktur rumah yang tidak dirancang secara kokoh berisiko runtuh akibat tekanan beban dari atas.
Selain itu, genteng yang terlepas saat guncangan dapat jatuh dan membahayakan penghuni.
Karena itu, di wilayah dengan risiko gempa tinggi, material atap yang lebih ringan—seperti seng, spandek, atau atap bitumen—sering kali menjadi pilihan yang lebih aman.
Tantangan Wilayah Pesisir dan Kepulauan
Rumah-rumah di kawasan pesisir menghadapi persoalan berbeda, yakni korosi dan angin kencang.
Meski genteng tanah liat tidak berkarat, sistem pemasangannya perlu menjadi perhatian. Di wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku, angin kencang bukan hal yang asing.
Genteng yang hanya disusun tanpa pengikat kuat berisiko terlepas dan terbawa angin. Selain itu, aspek logistik juga menjadi pertimbangan. Mengirim ribuan keping genteng ke pulau terpencil memiliki risiko pecah yang tinggi serta biaya distribusi yang lebih besar dibanding material atap berbentuk lembaran.
Curah Hujan Tinggi dan Kelembapan
Di daerah dengan curah hujan sangat tinggi, penggunaan genteng juga menghadapi tantangan tersendiri. Celah antar genteng dan kemiringan atap dapat memicu rembesan air, terutama ketika hujan deras disertai angin.
Wilayah pegunungan seperti Tana Toraja dikenal memiliki intensitas hujan tinggi dan angin kencang.
Dalam kondisi tersebut, genteng justru dapat memperbesar risiko kebocoran. Kelembapan yang tinggi juga mempercepat pertumbuhan lumut pada genteng tanah liat. Jika dibiarkan, lumut dapat merusak struktur genteng dan membuatnya rapuh.
Tanah Gambut dan Fondasi Ringan
Sebagian wilayah di Kalimantan dan Sumatera memiliki karakteristik tanah gambut yang lunak dan kurang stabil. Bangunan di atas tanah seperti ini umumnya dirancang seringan mungkin agar tidak mengalami penurunan atau amblas.
Genteng tanah liat yang berat berpotensi membebani fondasi secara berlebihan. Karena itu, masyarakat di wilayah rawa dan lahan gambut lebih banyak memilih atap logam atau sirap kayu yang jauh lebih ringan dan sesuai dengan kondisi tanah.
Kearifan Lokal dan Identitas Arsitektur
Selain faktor teknis, ada pula dimensi kearifan lokal yang patut diperhatikan. Penggunaan genteng secara massal untuk menggantikan berbagai jenis atap tradisional dapat mengabaikan nilai arsitektur lokal.
Sebagai contoh, rumah adat Tongkonan di Toraja memiliki bentuk atap melengkung khas dengan kemiringan tajam. Struktur tersebut secara tradisional menggunakan bahan seperti bambu atau material lokal lainnya yang telah teruji oleh waktu.
Mengganti atap Tongkonan dengan genteng tidak hanya kurang sesuai secara teknis, tetapi juga menghilangkan makna budaya yang melekat.
Adaptasi terhadap Alam
Pada akhirnya, memilih atap bukan sekadar mengikuti tren atau preferensi visual. Ia adalah bentuk adaptasi terhadap kondisi alam setempat.
Genteng tanah liat memang memiliki keunggulan, seperti memberikan efek sejuk dan tampilan klasik.
Namun di wilayah rawan bencana, tanah lunak, atau iklim ekstrem, aspek keselamatan dan kesesuaian struktur perlu menjadi prioritas utama.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman kondisi geografis yang luar biasa. Karena itu, pendekatan yang seragam belum tentu menjadi solusi terbaik.
Justru keberagaman material dan desain atap yang menyesuaikan karakter wilayah dapat menjadi wujud arsitektur yang bijak.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tak Semua Wilayah Indonesia Cocok dengan Genteng"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang