Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yulius Roma Patandean
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yulius Roma Patandean adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia

Kompas.com, 22 Februari 2026, 10:24 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah benar penggunaan genteng dapat menjadi solusi seragam untuk memperindah kota-kota di Indonesia? Ataukah kondisi geografis, iklim, dan risiko bencana justru menuntut pendekatan yang lebih adaptif dalam memilih atap rumah?

Dalam sebuah rapat koordinasi nasional kepala daerah, sempat muncul usulan agar penggunaan genteng diperluas demi memperindah wajah kota. Pesannya sederhana: kota yang ingin terlihat rapi dan menarik dapat mendorong penggunaan atap genteng.

Namun, pilihan atap sejatinya bukan semata soal estetika atau tradisi. Di Pulau Jawa, genteng tanah liat memang mendominasi. Dari kawasan perdesaan hingga perkotaan, hunian beratap genteng mudah dijumpai. Akan tetapi, jika menengok bentang Indonesia dari Sabang hingga Merauke, anggapan bahwa genteng adalah solusi universal patut ditinjau kembali.

Perbedaan kondisi geografis, iklim, serta tingkat kerawanan bencana membuat setiap wilayah memiliki kebutuhan yang berbeda.

Wilayah Rawan Gempa dan Beban Struktur

Indonesia berada di jalur Ring of Fire atau cincin api, kawasan dengan aktivitas seismik tinggi. Daerah seperti Palu, Gunungsitoli (Nias), dan Yogyakarta termasuk wilayah yang kerap mengalami gempa.

Dalam konteks ini, beban atap menjadi faktor krusial dalam keselamatan bangunan. Genteng tanah liat maupun beton memiliki bobot yang relatif berat. Ketika gempa besar terjadi, struktur rumah yang tidak dirancang secara kokoh berisiko runtuh akibat tekanan beban dari atas.

Selain itu, genteng yang terlepas saat guncangan dapat jatuh dan membahayakan penghuni.

Karena itu, di wilayah dengan risiko gempa tinggi, material atap yang lebih ringan—seperti seng, spandek, atau atap bitumen—sering kali menjadi pilihan yang lebih aman.

Tantangan Wilayah Pesisir dan Kepulauan

Rumah-rumah di kawasan pesisir menghadapi persoalan berbeda, yakni korosi dan angin kencang.

Meski genteng tanah liat tidak berkarat, sistem pemasangannya perlu menjadi perhatian. Di wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku, angin kencang bukan hal yang asing.

Genteng yang hanya disusun tanpa pengikat kuat berisiko terlepas dan terbawa angin. Selain itu, aspek logistik juga menjadi pertimbangan. Mengirim ribuan keping genteng ke pulau terpencil memiliki risiko pecah yang tinggi serta biaya distribusi yang lebih besar dibanding material atap berbentuk lembaran.

Curah Hujan Tinggi dan Kelembapan

Di daerah dengan curah hujan sangat tinggi, penggunaan genteng juga menghadapi tantangan tersendiri. Celah antar genteng dan kemiringan atap dapat memicu rembesan air, terutama ketika hujan deras disertai angin.

Wilayah pegunungan seperti Tana Toraja dikenal memiliki intensitas hujan tinggi dan angin kencang.

Dalam kondisi tersebut, genteng justru dapat memperbesar risiko kebocoran. Kelembapan yang tinggi juga mempercepat pertumbuhan lumut pada genteng tanah liat. Jika dibiarkan, lumut dapat merusak struktur genteng dan membuatnya rapuh.

Tanah Gambut dan Fondasi Ringan

Sebagian wilayah di Kalimantan dan Sumatera memiliki karakteristik tanah gambut yang lunak dan kurang stabil. Bangunan di atas tanah seperti ini umumnya dirancang seringan mungkin agar tidak mengalami penurunan atau amblas.

Genteng tanah liat yang berat berpotensi membebani fondasi secara berlebihan. Karena itu, masyarakat di wilayah rawa dan lahan gambut lebih banyak memilih atap logam atau sirap kayu yang jauh lebih ringan dan sesuai dengan kondisi tanah.

Kearifan Lokal dan Identitas Arsitektur

Selain faktor teknis, ada pula dimensi kearifan lokal yang patut diperhatikan. Penggunaan genteng secara massal untuk menggantikan berbagai jenis atap tradisional dapat mengabaikan nilai arsitektur lokal.

Sebagai contoh, rumah adat Tongkonan di Toraja memiliki bentuk atap melengkung khas dengan kemiringan tajam. Struktur tersebut secara tradisional menggunakan bahan seperti bambu atau material lokal lainnya yang telah teruji oleh waktu.

Mengganti atap Tongkonan dengan genteng tidak hanya kurang sesuai secara teknis, tetapi juga menghilangkan makna budaya yang melekat.

Adaptasi terhadap Alam

Pada akhirnya, memilih atap bukan sekadar mengikuti tren atau preferensi visual. Ia adalah bentuk adaptasi terhadap kondisi alam setempat.

Genteng tanah liat memang memiliki keunggulan, seperti memberikan efek sejuk dan tampilan klasik.

Namun di wilayah rawan bencana, tanah lunak, atau iklim ekstrem, aspek keselamatan dan kesesuaian struktur perlu menjadi prioritas utama.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman kondisi geografis yang luar biasa. Karena itu, pendekatan yang seragam belum tentu menjadi solusi terbaik.

Justru keberagaman material dan desain atap yang menyesuaikan karakter wilayah dapat menjadi wujud arsitektur yang bijak.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tak Semua Wilayah Indonesia Cocok dengan Genteng"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau