Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Galuh Ambar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Galuh Ambar adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid

Kompas.com, 19 Mei 2026, 09:33 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika sedang mengajar, tetapi justru diam-diam sedang belajar dari pengalaman murid sendiri. Nah, sejauh mana sebuah ruang kelas mampu menjelaskan kenyataan hidup yang begitu luas di luar sana?

“A, B, C, D, E... Seram, Bu. Bukan seram. Kalau seram itu hantu toh?”

Seorang murid saya selalu tertawa kecil sekaligus gemas setiap kali saya keliru melafalkan nama kampung halamannya di dalam naskah skripsi. Ia bukan mahasiswa Departemen Sejarah, melainkan Ilmu Keperawatan. Ia “dititipkan” kepada saya agar mendapatkan perspektif lokal dan global dalam kajian promosi kesehatan yang sedang ia teliti.

Membimbing mahasiswa dari disiplin ilmu kesehatan selalu menghadirkan ritme yang berbeda dibanding dunia saya sebagai sejarawan.

Dalam bidang mereka, ketelitian menjadi sesuatu yang mutlak karena menyangkut kehidupan manusia. Sementara saya terbiasa bekerja dengan konteks waktu, arsip, dan jejak masa lalu.

Ada masa ketika dosen pembimbing utamanya ingin berdiskusi dengan saya mengenai cara saya membangun dialog dengan mahasiswa. Namun di lain waktu, justru saya yang merasa kehilangan pijakan karena tidak sepenuhnya memahami dunia yang sedang ia bawa ke ruang diskusi kami.

Bayangkan saja, seorang sejarawan diminta memahami promosi kesehatan bagi perempuan suku Alune-Wemale dengan hiperurisemia. Saya bahkan baru mengetahui bahwa istilah tersebut merujuk pada kadar asam urat tinggi.

Pengetahuan saya tentang masyarakat Alune pun sangat terbatas. Sebagian besar hanya berasal dari satu disertasi karya Dyah Maria Wirawati Suharno mengenai pencitraan lingkungan alam dan perilaku pertanian orang Alune. Itu pun lebih banyak membahas Alune, bukan Wemale.

Berawal dari Budaya Makan

Sebagai sejarawan, kajian saya selalu terikat pada konteks sejarah dan sumber-sumber sezaman. Karena itu, saya sempat kesulitan membantu mahasiswa saya memahami bagaimana hiperurisemia hadir dalam kehidupan masyarakat hari ini. Saya juga sempat bertanya-tanya, mengapa penelitian dilakukan di Pulau Seram, bukan di daerah yang lebih dekat seperti Salatiga?

Percakapan demi percakapan akhirnya membuka banyak hal baru.

Mahasiswa saya bercerita bahwa ia berasal dari bagian selatan Pulau Seram. Konflik tapal batas wilayah pernah membuat keluarganya harus mengungsi ke Ambon. Ia juga menjelaskan bahwa laporan kesehatan di Provinsi Maluku menunjukkan angka hiperurisemia yang cukup tinggi. Keterbatasan layanan kesehatan serta biaya pengobatan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Dari dirinya pula saya mulai memahami bahwa penyakit tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan pola makan, dan dalam masyarakat Alune-Wemale, makanan bukan sekadar soal nutrisi, melainkan bagian dari struktur sosial dan budaya.

Ia menjelaskan tentang makanan turun-temurun yang diwariskan lintas generasi, juga putus pusa, yaitu makanan yang sejak kecil telah menjadi bagian dari kebiasaan hidup masyarakat. Salah satu contohnya adalah papeda.

Ada pula konsep kumpul basudara, ketika makanan menjadi medium relasi sosial. Hidangan sederhana seperti cabai dan garam yang diletakkan di tengah meja ternyata memiliki makna yang lebih dalam: makan bukan sekadar aktivitas individual, melainkan ruang kebersamaan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Kata Netizen
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Kata Netizen
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan 'Kehidupan Baru' di Rumah
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan "Kehidupan Baru" di Rumah
Kata Netizen
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau