
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Saya memutar laptop dan membiarkannya membaca sejarah leluhurnya sendiri.
Saya sadar, ia bukan mahasiswa sejarah. Saya tidak ingin memaksanya tenggelam terlalu jauh dalam arsip masa lalu. Namun saya berharap, setidaknya ia memahami konteks lokal tempat penelitiannya berlangsung agar promosi kesehatan yang ia susun benar-benar relevan dengan masyarakatnya.
Tanpa diduga, harapan sederhana itu justru membawa saya pada situasi lain.
Keesokan harinya ia datang sambil berkata pelan, “Bapa dan Tete minta Ibu datang.”
Saya nyaris tersedak es teh.
Mengapa saya harus datang jauh-jauh ke kampungnya? Membayangkan perjalanan menuju Pulau Seram saja sudah terasa melelahkan: perjalanan darat menuju bandara, transit di Jakarta atau Makassar, bermalam di Ambon, menyeberang laut, lalu kembali melanjutkan perjalanan darat.
Belum lagi saya hanyalah staf pengajar pemula dengan akses riset yang terbatas. Dana penelitian internal kampus pun tidak besar. Secara logika, perjalanan itu terasa sulit diwujudkan.
Namun ada sesuatu yang lebih sulit diabaikan.
Selama ini saya melihat bagaimana mahasiswa dari wilayah 3T kerap menghadapi stigma tertentu. Ada yang dianggap kurang mampu, ada pula yang tumbuh dengan rasa rendah diri karena berasal dari daerah yang jauh dari pusat.
Mungkin, perjalanan ke Seram bukan sekadar perjalanan akademik. Mungkin ini adalah kesempatan bagi saya untuk bertukar posisi dengan mahasiswa saya sendiri merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang datang dari tempat jauh, membawa identitas lokal, lalu mencoba dipahami di ruang akademik.
Saya mulai melihat bahwa permintaan untuk datang itu bukan basa-basi. Ada pengetahuan yang memang tidak selesai di ruang kelas.
Ada hal-hal yang baru bisa dipahami ketika kita bersedia keluar dari zona nyaman dan hadir langsung di tengah komunitas yang selama ini hanya kita kenal sebagai “objek penelitian”.
Di titik itulah saya mulai memahami batas paling sederhana dari peran seorang guru. Kadang, guru tidak selalu harus menjadi pihak yang paling banyak menjelaskan. Ada saatnya guru perlu datang, mendengar, dan belajar langsung dari ruang hidup murid-muridnya.
Tentu saja keyakinan ini masih saya pertanyakan. Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin tidak semua pengetahuan bekerja dengan cara seperti itu. Mungkin pula tidak semua jarak harus ditempuh.
Namun di tengah segala keraguan itu, kini saya berada di dalam pesawat yang akan membawa saya menuju Pulau Seram—sebuah perjalanan untuk mengajar sekaligus belajar, memahami sekaligus dipahami.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Pengetahuan Tidak Selesai di Kelas, Saya Bertukar Posisi"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang