Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Galuh Ambar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Galuh Ambar adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid

Kompas.com, 19 Mei 2026, 09:33 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Saya memutar laptop dan membiarkannya membaca sejarah leluhurnya sendiri.

Saya sadar, ia bukan mahasiswa sejarah. Saya tidak ingin memaksanya tenggelam terlalu jauh dalam arsip masa lalu. Namun saya berharap, setidaknya ia memahami konteks lokal tempat penelitiannya berlangsung agar promosi kesehatan yang ia susun benar-benar relevan dengan masyarakatnya.

Tanpa diduga, harapan sederhana itu justru membawa saya pada situasi lain.

Keesokan harinya ia datang sambil berkata pelan, “Bapa dan Tete minta Ibu datang.”

Saya nyaris tersedak es teh.

Mengapa saya harus datang jauh-jauh ke kampungnya? Membayangkan perjalanan menuju Pulau Seram saja sudah terasa melelahkan: perjalanan darat menuju bandara, transit di Jakarta atau Makassar, bermalam di Ambon, menyeberang laut, lalu kembali melanjutkan perjalanan darat.

Belum lagi saya hanyalah staf pengajar pemula dengan akses riset yang terbatas. Dana penelitian internal kampus pun tidak besar. Secara logika, perjalanan itu terasa sulit diwujudkan.

Namun ada sesuatu yang lebih sulit diabaikan.

Selama ini saya melihat bagaimana mahasiswa dari wilayah 3T kerap menghadapi stigma tertentu. Ada yang dianggap kurang mampu, ada pula yang tumbuh dengan rasa rendah diri karena berasal dari daerah yang jauh dari pusat.

Mungkin, perjalanan ke Seram bukan sekadar perjalanan akademik. Mungkin ini adalah kesempatan bagi saya untuk bertukar posisi dengan mahasiswa saya sendiri merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang datang dari tempat jauh, membawa identitas lokal, lalu mencoba dipahami di ruang akademik.

Saya mulai melihat bahwa permintaan untuk datang itu bukan basa-basi. Ada pengetahuan yang memang tidak selesai di ruang kelas.

Ada hal-hal yang baru bisa dipahami ketika kita bersedia keluar dari zona nyaman dan hadir langsung di tengah komunitas yang selama ini hanya kita kenal sebagai “objek penelitian”.

Di titik itulah saya mulai memahami batas paling sederhana dari peran seorang guru. Kadang, guru tidak selalu harus menjadi pihak yang paling banyak menjelaskan. Ada saatnya guru perlu datang, mendengar, dan belajar langsung dari ruang hidup murid-muridnya.

Tentu saja keyakinan ini masih saya pertanyakan. Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin tidak semua pengetahuan bekerja dengan cara seperti itu. Mungkin pula tidak semua jarak harus ditempuh.

Namun di tengah segala keraguan itu, kini saya berada di dalam pesawat yang akan membawa saya menuju Pulau Seram—sebuah perjalanan untuk mengajar sekaligus belajar, memahami sekaligus dipahami.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Pengetahuan Tidak Selesai di Kelas, Saya Bertukar Posisi"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Kata Netizen
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Kata Netizen
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan 'Kehidupan Baru' di Rumah
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan "Kehidupan Baru" di Rumah
Kata Netizen
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau