
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Anne berjalan paling depan sambil menggenggam peta. Di belakangnya ada Tiwi, saya, dan Eva.
Kami melewati pondok pesantren, jalan setapak, serta beberapa percabangan kecil sebelum akhirnya Anne menghentikan langkah.
"Kok kalian ke kanan?" Kami saling berpandangan. "Lho, bukannya lewat jalur baru?"
Beberapa detik kemudian kami menyadari bahwa Anne kembali salah membaca arah.
Akhirnya Tiwi mengambil alih posisi terdepan, sementara Anne menerima dengan lapang dada bahwa pagi itu ia kembali menjadi sasaran candaan.
Jalur baru ternyata jauh lebih sepi dibandingkan jalur utama.
Pepohonan besar menaungi perjalanan, vegetasi tumbuh rapat di sisi kanan dan kiri, sementara rumpun-rumpun bambu sesekali muncul seperti gerbang alami yang mengantar kami menuju lanskap berikutnya.
Di tengah perjalanan itulah saya mulai memahami alasan pendakian ini dilakukan. Perjalanan ini bukan sekadar mengantar Eva sebelum melanjutkan studi.
Tiwi dan Eva rupanya ingin membantu Anne berdamai dengan pengalaman buruk yang pernah dialaminya saat mendaki sekitar sepuluh tahun lalu.
Anne bercerita bahwa ketika itu ia dimarahi karena berjalan terlalu lambat. Ia juga tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai perlengkapan maupun cara menghadapi cuaca di gunung.
Pengalaman tersebut membuatnya enggan kembali mendaki selama bertahun-tahun. Akan tetapi, di tengah cerita yang cukup serius itu, Anne tiba-tiba berkata,
"Tapi aku masih ingat baksonya. Enak."
Kalimat sederhana itu langsung mengundang tawa. Tiwi dan Eva mengaku baru pertama kali mendengar bahwa bakso ternyata menjadi bagian penting dari kisah traumatis tersebut.
Gunung yang Menyimpan Jejak Budaya
Semakin mendaki, dari kejauhan terdengar suara pengajian, kasidah, hingga irama tari Soreng.
Suara-suara itu mengingatkan saya pada beberapa seniman rakyat yang pernah saya temui di kawasan Andong dan Telomoyo.
Suatu ketika saya pernah bertanya mengapa pertunjukan Soreng justru menghadirkan Arya Penangsang sebagai tokoh utama, padahal sejarah lebih sering menempatkan para pemenang sebagai pusat cerita.
Jawaban mereka sederhana: tontonan itu tuntunan.
Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak hanya belajar dari teladan yang baik, tetapi juga dari berbagai kesalahan yang pernah terjadi.
Barangkali, di situlah seni rakyat menyimpan cara pandangnya sendiri terhadap sejarah.
Seekor Monyet dan Sebuah Pertanyaan