
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Lamunan saya terhenti ketika Eva meminta kami berhenti sejenak. Tiwi dan Anne segera memeriksanya.
Wajar saja, ketiganya memang berasal dari bidang ilmu kesehatan sehingga percakapan mereka dipenuhi istilah-istilah medis yang hanya bisa saya dengarkan sambil tersenyum.
Sambil menunggu Eva pulih, saya memperhatikan vegetasi di sekitar jalur pendakian. Tiba-tiba Tiwi menunjuk ke atas.
"Itu... ada monyet."
Seekor monyet ekor panjang tampak sedang memakan buah pinus. Entah mengapa, pemandangan itu justru membuat saya berpikir lebih jauh.
Pandangan saya mengikuti lereng-lereng di sekitar jalur. Semakin jauh berjalan, semakin dominan pohon pinus yang terlihat.
Ingatan saya kemudian melayang pada sebuah peta lama yang diterbitkan Dinas Topografi kolonial di Weltevreden pada akhir abad ke-19.
Dalam peta tersebut, kawasan Andong digambarkan memiliki vegetasi yang jauh lebih beragam.
Pinus memang sudah ada. Namun hidup berdampingan dengan bambu, aren, cemara, rerumputan, serta berbagai jenis vegetasi lain yang membentuk ekosistem pegunungan.
Jika sejak lebih dari seabad lalu pinus sudah menjadi bagian dari lanskap Andong, maka pertanyaannya mungkin bukan lagi tentang keberadaan pinus itu sendiri.
Yang menarik justru bagaimana manusia terus mengulang pilihan yang sama mengenai vegetasi apa yang dianggap penting untuk ditanam.
Padahal bagi masyarakat pegunungan, aren bukan hanya penghasil gula. Begitu pula bambu yang membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus menyaring aliran air menuju mata air dan sungai-sungai kecil.
Pengetahuan seperti ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat hidup berdampingan dengan alam.
Sementara itu, monyet di atas pohon pinus terus menikmati buah yang ditemukannya. Saya memandangnya cukup lama.
Di ruang kuliah sejarah, saya terbiasa melihat perubahan dalam rentang waktu yang panjang.
Namun pagi itu, perubahan terasa begitu dekat, melainkan hadir dalam sosok seekor primata yang sedang berusaha bertahan hidup di lanskap yang telah dibentuk oleh berbagai pilihan manusia selama lebih dari satu abad.
Mungkin, pendakian tidak selalu memberi kita jawaban. Kadang, ia justru menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hubungan manusia, alam, dan sejarah yang terus berjalan berdampingan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Monyet yang Makan Buah Pinus"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang