Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sri Rohmatiah Djalil
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sri Rohmatiah Djalil adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Tradisi Ngedekne Rumah dan Oblok-Oblok Tempe Berkuah

Kompas.com, 30 September 2024, 23:44 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

"Masak sendiri saja kan cuma masak oblok-oblok dan uraban," kata saya ketika suami memberi tahu kalau hari Jumat 20/09/2024 akan mendirikan rumah.

Tradisi Ngedekne Rumah

Mendirikan rumah atau ngedekne merupakan tahapan pembangunan rumah. Pada tahap ini tukang akan naikkan molo (kayu jati besar) paling atas pada kuda-kuda rumah. 

Pada tahap ngedekne pemilik rumah akan mengadakan tasyakuran atau selamatan. Tradisi ini sebagai wujud syukur karena rumah hampir selesai.

Jika tidak cukup dana setelah genteng naik, rumah bisa ditempati. Selain itu, selametan sebagai  pengiring doa pada pekerja agar pekerjaan lancar tidak terjadi kecelakaan.

Ngedekne selain mengadakan syukuran dengan makan-makan, pada malam harinya kerabat, tetangga juga pekerja akan melekan hingga pukul 02.00 atau lebih. Selain itu tetangga minimal satu RT akan nyumbang berupa beras, mie, gula dan uang seikhlasnya.  

Aneka makanan khas disajikan tuan rumah untuk bergadang, seperti jadah ketan, es dawet, wajit dan makanan lain.

Tujuan lain dari melekan adalah menjaga kayu. Konon dahulu kayu yang digunakan untuk membangun rumah adalah jati asli. Kita tahu harga kayu jati mahal. Jika sampai hilang bisa rugi jutaan satu batang. Sekarang jarang orang menggunakan kayu jati setelah ada baja ringan dan atap spandek/galvalum. 

Ritual ngedekne dilanjutkan esok pagi. Sekitar pukul 07.00 tuan rumah menyajikan sarapan ayam panggang, uraban, oblok-oblok, sayur nangka. Sebelum para pekerja memulai pekerjaannya atau menaikkan kayu jati, ada ritual. 

Ritual ngedekne rumah adalah istri tuan rumah menaburkan dan menyapu air bunga ke atas kayu dengan sapu lidi di bagian rumah depan. Lalu melangkahi kayu tersebut beberapa kali. Kayu tersebut diberi bendera (bendera (diikatkan) dan ditancapi anting emas minimal 0,5 gram.

Saya sempat melaksanakan tradisi ini pada tahun 2011 ketika membangun rumah yang sekarang ditempati. Konon jika melaksanakan ritual tersebut rumah ada cahayanya atau pamor. Wallahu a'lam. 

Sekarang kami membangun galeri di belakang rumah. Runtutan tradisi ngedekne tidak dilaksanakan lagi. Bukan hendak menghapus tradisi, tetapi sesuatu yang kurang mendatangkan manfaat diubah dengan yang lebih manfaat, seperti tabur bunga ke atas kayu dan melekan.

Bergadang hingga pagi akan mengganggu kesehatan apalagi untuk pekerja yang harus naikkan kayu. Jika kurang tidur pekerja akan pusing dan bisa terjadi kecelakaan.

Kami tetap mengadakan doa bersama dan sodakohan dengan membagikan makan kepada kerabat dan tetangga dekat.

Masakan yang disajikan lebih sederhana, yakni ayam panggang, uraban dan oblok-oblok. Siang hari saya menyajikan soto ayam, ayam goreng dan jajanan pasar yang dipesan untuk teman ngopi. 

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau