
Sunak yang menikah dengan Akshata Murthy menjadikannya sebagai orang yang “berada”, karena istrinya merupakan putri pengusaha miliarder NR Narayana Murthy, pendiri perusahaan IT Infosys.
Dilansir dari Kompas.com. kekayaan Sunak dan sang istri mencapai 730 juta Euro atau setara dengan Rp11,26 triliyun.
Jika melihat berbagai catatan tersebut, maka tak heran bila Rishi Sunak akan tercatat sebagai lulusan Oxford ke-30 yang menjadi Perdana Menteri Inggris sekaligus menjadi Perdana Menteri Inggris terkaya.
Terpilihnya Sunak sebagai Perdana Menteri Inggris tidak serta merta akan membuat Inggris keluar dengan mudah dari keterpurukan yang melanda Inggris.
Sunak juga lantas menyatakan bahwa Inggris akan mengalami turbulensi dan tantangan ekonomi yang besar. Untuk mengatasi hal ini Inggris memerlukan stabilitas dan kekompakkan semua pihak.
Tantangan pertama yang perlu diselesaikan Sunak ialah menyelesaikan masalah internal partainya akibat perpecahan pasca Boris Johnson mengundurkan diri.
Baru setelahnya Sunak akan mulai memikirkan cara menghadapi carut-marutnya ekonomi Inggris.
Ditambah lagi terpilihnya Sunak sebagai Perdana Menteri Inggris juga memunculkan penolakan dari Partai Buruh sebagai pihak oposisi. Mereka menentang Sunak karena bukan terpilih melalui pemilihan umum dan dinilai bahwa Sunak tak memiliki mandat dari rakyat Inggris.
Ke depannya Sunak akan melalui berbagai jalan terjal, karena memang saat ini perekonomian Inggris sedang terpuruk dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Reputasi Inggris sebagai kekuatan ekonomi nomor lima di dunia pun terancam.
Berbagai peristiwa seperti Brexit, pandemi covid-19, serta konflik Rusia-Ukraina membuat mata uang Inggris akhirnya runtuh, demikian pula dengan pasar obligasi Inggris.
Berdasarkan laporan dari OECD pertumbuhan ekonomi Inggris di tahun depan sangat suram, yaitu 0% alias tidak tumbuh.
Situasi buruk ini diakibatkan oleh harga bahan baku dan pangan yang meningkat hingga rata-rata 40% dan otomatis membuat rakyat Inggris kebingungan dan panik.
Kenaikan harga kebutuhan pokok serta bahan bakar juga menyebabkan tingkat inflasi Inggris menjadi salah satu yang tertinggi, yaitu 10,1%.
Selain itu terpilihnya Sunak sebagai Perdana Menteri Inggris akan menimbulkan masalah bagi para penganut paham tradisional white supremacy.
Hal ini karena Inggris merupakan mantan negara kolonial yang sangat menjunjung tinggi white supremacy.