
Dan untuk uang, semampunya tapi seminimalnya Rp 10.000, dan ini berlaku untuk perempuan (istri) dan juga laki-laki (suami).
Biasanya yang dibawa oleh perempuan (istri) untuk kebutuhan bagi orang-orang yang bekerja menyiapkan pesta, dan yang dibawa suami biasanya untuk kebutuhan jamuan pesta.
Kebiasaan ini masih terus dipertahankan oleh masyarakat orang-orang suku Tolaki, dan malah kebiasaan ini juga diikuti oleh masyarakat pendatang dari suku Jawa dan juga suku Bugis yang memiliki perkampungan.
Kebiasaan "mesumba-sumba" ini menjadi satu daya rekat bagi keharmonisan masyarakat di sana.
Meskipun yang namanya perselisihan pasti akan terjadi di masyarakat. Akan tetapi dengan adanya kearifan lokal, perselisihan yang lebih luas masih bisa teredam dengan mengingat keakraban yang tidak pernah putus oleh kewajiban saling sumbang menyumbang ini.
Hidup harmonis dengan tetangga, sebenarnya bukan hal yang sulit, jika masyarakat sadar dan mau menerapkannya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT